JNANA YOGA

JNANA YOGA.

Jnana Yoga merupakan pelatihan yoga tingkat 7, yang menyentuh perkembangan Sahasrara Cakra dan naiknya Kundalini menuju cakra Sahasrara sebagai pintu terakhir menuju pencerahan Jiwa dan realisasi diri. Yoga tingkat ini akan bisa diserap oleh Siswa Yoga yang telah disucikan dengan cahaya surya chandra lintang trenggana dan di berkati Diksa Guru nabe. Karena ini merupakan Yoga evolusi kesadaran dan pencerahan Rohani.

17658_808673242534546_7268939568614882235_n

 

Jnana Yoga adalah yoga intelektual, kecerdasan Jiwa dimana para penekun yoga melakukan  penyelidikan, menggunakan pikiran untuk datang ke kesadaran yang mendalam anatara diri dan Tuhan, Para praktisi akan memulai menggunakan akal sehatnya dalam belajar dan mencari Guru pembimbing, dan akan memasuki Yoga murni dan Tujuan Murni dari Yoga itu sendiri dan juga paham arah pelatihan yang dia dapatkan dan manfaat untuk hidupnya, dia datang dengan panggilan jiwanya, bukan karena ajakan sahabat ataupun datang hanya sekedar ikut arus. Jnana Yoga adalah kesadaran bahwa kita berada dalam kenyataan suatu manifestasi Tuhan, di luar dan di belakang pikiran kita. Namun, kita tidak harus jatuh ke dalam kesalahan dengan berpikir bahwa kita dapat menemukan Tuhan melalui pikiran sendiri. Untuk mencapai kesadaran kosmis, apa yang dapat disebut realisasi diri, kita harus terus-menerus bertanya “Yang aku”, dengan kata lain, saya hanya tubuh material dan bahan pikiran ini, atau aku bahkan merupakan bagian integral dari sesuatu yang lebih besar. Tujuan dari Jnana Yoga adalah untuk datang ke hanya kesadaran bahwa, dengan cara di mana pikiran kecil tidak memaksakan pembatasan.

Namun, masih ada orang lain yang didorong oleh kebutuhan untuk memahami dan mereka ada Jnana Yoga, yoga intelek. Pemahaman ini mengambil bentuk membaca, memahami, dan menerima pesan dalam kitab Yoga Sastra,
Kita  harus tegas memahami Jnana Yoga yang tidak hanya merupakan latihan intelektual. Kita dapat belajar tentang Kemahahadiran Tuhan melalui kitab Agama, tetapi untuk benar-benar mengalami perasaan Tuhan, calon harus melakukan beberapa latihan yang akan melampaui budinya . Hal ini dilakukan melalui merenungkan pertanyaan “Siapakah aku”. Latihan ini adalah akhirnya untuk datang ke realisasi bahwa “Aku” melampaui keterbatasan tubuh dan benar-benar merupakan bagian dan ekspresi universal “Aku”, atau Tuhan.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa Jnana Yoga membantu Praktisi dengan pertama menarik budinya, menghargai mahluk inteletual, tapi kemudian itu membantu praktisi melampaui budinya dan menjadi sadar intelek kosmis yang membentuk dan meresapi segala sesuatu. Ia berfokus pada pertanyaan “Siapakah aku” dan dengan demikian, mencapai realisasi bahwa diri saya yang kecil benar-benar adalah bagian dari universal saya. Latihan intelektual dapat dianggap sebagai gula, yang melapisi substansi nya kekesadaran Tuhan.

Untuk memulai memasuki Jnana Yoga, kita harus berani membaca kitab Yoga yang ada di Nusantara seperti:

Kitab-kitab tersebut antara lain Bhuwana Kosa, Wrehaspatitattwa, Tattwajnana, Jnana Sidhanta dan yang lain. Dalam tulisan singkat ini kita akan mencoba membaca kitab-kitab tersebut.

Bhuwanakosa adalah kitab Tattwa yang paling tua yang ditemui dalam kitab Yoga  di Indonesia, memuat sloka-sloka Sansekerta dengan terjemahan dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuna. Pada bagian awal Bhuwana-Kosa, yaitu pada bait kedua kita telah menemui kata Yogiswara, yang menunjukkan bahwa kitab ini ditujukan kepada para siswa yoga. “Nahan takwanaknani nhulun ri Bhatara, hana ya pada Sunya, ya sinanguh kamoksan, na, wisesa ya, ya Siwa naranya. Nariksyate, katon pwa ya de San Yogiswara, kutah desa, ndi teka desa katonan ira, sajna Bhatara, an mankana kottamanin wuwus San Resi, yata karerjo de Bhatara“. Di sini dijelaskan bahwa alam Sunya dikatakan sebagai alam Kamoksan, itu disebut sebagai Adhi Yogi. Alam itu nampak oleh Sang Yogiswara, oleh karena itu diajukan pertanyaan dimanakah tempat alam itu?

Maka selanjutnya uraianpun berpusar pada ajaran Yoga tersebut. Bhuwana Kosa secara rinci menjelaskan tentang alam Adi Yogi yang dilihat oleh para yogi, bersamaan dengan itu ajaran yoga diuraikan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Bhuwana Kosa adalah sumber ajaran yoga, walaupun menjadi sumber yang menjadi bacaan bagi para siswa yoga yang telah memiliki dasar-dasar pengetahuan yoga yang kuat.

Uraian yang lebih sistimatik, lebih mudah dipahami adalah tertuang dalam kitab Wrehaspatittwa. Kitab ini memuat percakapan antara Bhagawan Wrehaspati dengan Adhi Yogi. Bhagawan Wrehaspati mengajukan berbagai pertanyaan yang dijawab oleh Adhi Yogi, dengan sesekali menegaskan supaya ajaran yang dituangkan tidak disebar luaskan kepada umum, karena mengandung hal-hal yang bersifat rahasia. Ajaran dimaksud antara lain menyangkut Paramatattwa, Trigunatattwa, Dasendriyatattwa, Pancamahabhuta-tattwa, Dasanadi, Dasabayu, atau Dasaprana, Dasasila dll. Dalam Kitab Wrehaspati-tattwa ajaran yoga mendapat uraian khusus, tetapi juga penjelasan hubung¬annya dengan ajaran Tattwa dan Jnana. Ajaran Yoga memang diuraikan pada bagian akhir dalam kitab ini.

Ajaran Yoga pertama-tama diuraikan dalam kaitannya dengan ajaran Dharma (bagian dari Catur Aiswarya), terdiri atas Sila, Yajna, Tapa, Dana, Prawrajya, Bhiksu dan Yoga. Yoga yang dimaksud di sini adalah senantiasa melakukan samadhi (yoga natranin magawe samadhi). Selanjurnya secara mendalam diuraikan apa yang disebut sebagai Sad Anggayoga. “Nahan tan sadarjgayoga nranya, ika ta sadhana nin san mahyun amanguhakena sang hyang wisesa denika, pahawas tan hiepta, haywa ta iwen-iwen dentanreno san hyan aji, hana prtyaharayoga naranya, hana dhyanayoga n aranya, hana pranay amayoga naranya, hana dharanayoga naranya, hana tarkayoga naranya, hana samadhiyoga naranya, nahan tar) sadangayoga naranya//.

Di sini dijelaskan apa yang disebut dengan Sad Anggayoga yaitu terdiri atas Pratiharayoga, Dhyanayoga, Pranayamayoga, Dharnayoga, Tarkayoga dan Samadhiyoga. Kitab Wrehaspatitattwa selanjutnya menguraikan masing-masing dari Sad Anggayoga tersebut, dan menegaskan bahwa Sad Anggayoga sebagai Jnana Maha Guru. Sad Anggayoga patut dijaga oleh Dasasila (Yateka karaksan ring Dasasila). Lebih lanjut diuraikan tentang Dasasila tersebut sebagai berikut:

Ahnsa naranya tan pamati-mati, brahmacarya naranya tan awiwada, tan adol awelya, tan ubhaya, akrodha naranya tan bwat serenen, guru Susrusa ngaranya bhakti aguru, sauca naranya nitya majapa maradina sarira, aharalaghawa naranya tan abwatin pinarjan, apramada naranya tan paleh-palfcha, penponen ikang hurip sadhana ning magawaya yoga samdhi, haywa hinelem-helem, gaway akena tekang sadhana, sadhana naranya ikan. yoga, yatika umunguh lawan inungwan naranya, ika ta sang prayatna gumayaken ikan rwa, sila lawan jnana, yatika tan pramada naranya, nahan yan dasasila naranya, panraksa ri san yogiswara rin samadhi nira, nkana ta san yogiswara yan pamangihaken jnana mankana, yateka turyapada naranya, kapangih tekan jnana luput saken sarira, luput sanken mayatattwa, yeka turyantapada naranya, apan hana sira jiwanmukta, [jiwanmukta] naranya moksa tuturun hurip, apan ikan niskala kapanguh, de nira ri kaianin masamadhi, umapa tan hilan ikan sarira nira, apan atutur ikan karmawasama tap wan henti, seden tinunwaniren yogawahni, nihan denin man hilan aken mala, ikan jagrapada matemu lawan ikang turyapada, ri patemwan ika karwa, irika tan yan saptanga, saptangni, saptamrta.

Dalam petikan ini telah dijelaskan apa yang dimaksud dengan Dasasila yang merupakan landasan etika dalam praktik yoga. Di tempat lain Dasasila disebut sebagai yama dan niyama yang masing-masing berjumlah lima. Dan hal ini diuraikan secara mendalam di dalam kitab-kitab sasana seperti Guru Yoga  dan Siswa Yoga, kitab Sasana yang menjadi pegangan pokok para Praktisi.

Disamping itu Kitab Wrehaspatitattwa juga menjelaskan tentang Dasa nadi, Dasabayu dan Dasaprana, hal-hal yang menjadi penting dalam praktik yoga. Pada bagian akhir Wrehaspatitattwa menjelaskan tentang tingkatan Samadhi bagi seorang Yogiswara, di samping berbagai hal yang patut diwaspadai oleh para yogi dalam melaksanakan samadhinya.

Kitab Jnana Sidhanta adalah sumber penting tentang ajaran yoga. Kitab ini menguraikan Sadhanayoga secara luas dan mendalam, termasuk tentang Sad Anggayoga. Apa yang dimaksud dengan Sad Anggayoga adalah sama dengan apa yang terurai di dalam Wrehaspatitattwa, hanya saja Jnana-Sidhanta mengutip langsung dari sloka-sloka Sansekerta dengan memberikan terjemahan dalam bahasa Kawi. Apa yang tidak diuraikan di dalam Wrehaspatitattwa dapat dibaca di sini dengan jelas. Di samping itu Jnana Sidhanta ada menegaskan apa yang disebut sebagai Yogiswara (sinangguh yogiswara) antara lain disebutkan :

Gumegon Nirmala-Jnana, Markana denta maneketaken ri patemunta lawan Bhattara Brahma Wisesa, san hanen hrdaya sphatika, ri guha nin pusuh-pusuh. Haywa Vataman drwya, wenan-wenan saprakara mwan salwir nin trsna : anak, rabi, rajah, taman, moha, damba, mas arya, kimburu, grahi, grahaka, pisuna, irsya. Ndah srawaka ta kita ri tan hana nin pekulen waneh. Anhin Bhattara Wisesa sira kayatnakenanta rin samadhi, sandhi-jnana samahita. Yajna-nirrnala-sphatika na, Ri katemwan Bhattara. Mapageh subaddha tan lingara teguh pratipatti na. Atisaya yukti ni bhakti prayatna rikolahan in citta-nirmala. Langon rin kanirasrayan, wruh rin kapralinan. Ya ta henin nin henin. Ya ta sandhi nin jnana-sphatika na. Heninhenin ta dumadyaken katemwan in sunyata nihsamsaya. Ya ta sinanguh Yogiswara na. Selanjutnya diuraikan hal-hal yang agak teknis dalam praktik yoga misalnya dijelaskan bahwa hanya Adhi Yogi yang hendaknya menjadi sasaran tingkah laku, hanya Beliaulah hendaknya dipikirkan, jangan mendengarkan hal-hal lain, hanya Beliaulah hendaknya yang dipandang, jangan mengucapkan yang lain kecuali mengucapkan Beliau, dan seterusnya. Ini disebut dengan istilah anabhawa, ekacitta, anikarna, anawakya, adrestha-drestha, animesa, anasa.

Jnana-Sidhanta memang lebih banvak menguraikan jalan kematian, jalan kematian yang benar sesuai dengan ajaran yoga. Kemanunggalan dengan Tuhan adalah tujuan akhir dia yang menempuh jalan itu. Dan kemanunggalan itu bukanlah kematian. Tapi sesungguhnya adalah kehidupan yang kekal.

Sementara itu kitab-kitab Sasana lebih banyak menguraikan tentang Dasasila. Wratisasana mengawali uraiannya tentang Yamabrata dan Niyamabrata yang disebut sebagai sasana sang Yogi. Setelah memahami ajaran sasana tersebut barulah seseorang didiksa. Diksa atau inisiasi adalah Ritual sakral yang dilakukan oleh seorang nabe terhadap siswanya. Pada saat itu sang nabe memberikan sisianya tersebut. Tanpa diksa menurut kitab-kitab Yoga Sastra , semua ajaran, yang dilakukan dengan sia-sia. Itulah sebabnya kitab Yoga secara mendalam menguraikan ketentuan berguru sebagai ketentuan yang paling penting yang harus diperhatikan baik oleh nabe maupun siswa atau calon diksita. Setelah didiksa seseorang masih berada di bawah pengawasan sang nabe, dan sang nabe dapat memberikan hukuman kepadanya apabila melakukan kesalahan. Itulah sebabnya kitab Yoga membahas secara panjang lebar pelanggaran dan hukuman yang berlaku bagi para siswa Yoga.

Lewat kitab-kitab sasana tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa ajaran yoga itu telah dilembagakan, sebagai sistem aguron-guron atau param-param. Oleh karena itu mereka yang menempuh jalan yoga patut dituntun oleh seorang guru, dan kepadanya sang siswa”menyatukan” dirinya.

MARKANDEYA YOGA INDONESIA

Guru Made Sumantra

Hp: 087861187825