INDONESIEN PAGES

MAHA YOGI RSI MARKANDEYA

 

BALINESE YOGA TRADITION

MAHA YOGI RSI MARKANDEYA

Yoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural Indonesia

 

                                                        DAFTAR  ISI

 

No                                                                                                               Hal.

1. Prakata……………………………………………………………

2, Masa Kecil Rsi Markandeya………………………………………

3.Rsi Markandeya dalam Siwa Darsana……………………………

4. Kisah Markandeya Dalam Narada Purana………………………

5. Inilah Yang Disebut Markandeya Purana…………………………

6. Markandeya Dalam Cerita Walmiki………………………………

7. Srimad Bhagavatam , Percakapan Suta Gosvami Dengan Saunaka

     Bercerita Tentang Rsi Markandeya………………………………

8. Markandeya Brahmacari Cerita Dewa Wisnu……………………

9. Rsi Markandeya…………………………………………………….

10. Rsi Markandeya di Pulau Jawa………………………………….

11. Rsi Markandeya Di Tanah Bali…………………………………

12. Bisama Ida Maha Rsi Markandeya Saka 884( 922 M) Di

      Wilayah Danau Buyan…………………………………………….

13. Rsi Markandeya Di Wilayah Munduk Taro……………………

14. Rsi Markandeya Di Tanah Lombok………………………………

15. Mantra Tryambakam……………………………………………

16. Pertemuan Guru Made Sumantra kecil secara Gaib Dengan Rsi   

       Markandeya.

PENGANTAR

 

Om Markandeya Ya Namah.

 

Maapkan hambaMu ya Rasi Agung. Hamba Bakta Sujati mu yang telah menerima sentuhan Rohanimu sejak dalam kandungan Ibuku . Dengan berkatmu telah lancang menuliskan kisah hidup dan perjalanan sepiriual mu dalam sebuah buku kecil ini. Hamba sangat yakin Dikau Maha Agung sehingga apa yang ditulis ini sangat kecil dari kisah hidupMu yang sebenarnya. Ku mohon selalu berkatmu dan bimbinganmu untuk ku dan semua Bakta Pasraman Markandeya Yoga. Dan ku Mohon juga selalu memberikan pencerahan Baru tentang Mu dan Rohanimu sebagai penambah dan pelengkap kekurang dari buku ini. Hamba meyaknni siapa yang membaca kisahmu ini, Kau akan menuntun dirinya dalam Jiwa Nya.

Hamba teringat perlindunganMu pada hamba dari kecil. Orang Tua Hamba pernah bercerita pada hamba. Katanya Hamba di lahirkan di Goa Gamang, dekat dengan Pura Pucak Payogan, dan lahir dalam genangan air Goa. Karena saat itu, keadaan politik kurang aman orang Tua hamba bilang Jaman Gestok. Orang harus sembunyi untuk mengamankan diri. Ibu Hamba bilang kelahiran Hamba di Bantu Seorang Rsi berjengot Putih. Ibu Hamba tidak tahu siapa nama Rsi itu. Namun Hamba yakin itu  dirimu Maha Rsi Markandeya.

Pada saat hamba umur 3 bulan , katanya hamba diyakini  meninggal karena , pada saat itu ada gempa menggoncang Bali. Ibu hamba meletakan hamba di lantai dekat jendela dan ditinggalkan memasak di dapur . Karena goncangan gempa yang besar , rumah hamba roboh dan jendala katanya jatuh menimpa Hamba. Ibu hamba langsung pingsan karena meyakini hamba pasti meninggal. Dengan bantuan warga satu persatu reruntuhan di bersihkan dan ibu hamba menemukan hama tanpa luka dan katanya tersenyum. Ibu hamba tidak yakin dan memang hamba masih hidup.Ibu Hamba melihat Orang Tua jangut putih lagi di samping hamba. Inilah bukti perlindunganmu pada hamba dan hamba yakin Rsi Agung punya tujuan untuk ini. Om Markandeya Ya Namah.

Dan selama hidup Hamba selalu merasa dekat dengan Mu dan selalu dalam tuntunanMu. Hamba selalu menapak tilas perjalananmu dengan tirta yatra dan selalu mencari tahu tentang mu dengan berbagai sumber dan hamba cocokan dengan hasil intuisi Jiwa hamba. Jawaban tentang mu selalu muncul dalam diri , pengetahuan rohanimu selalu muncul dalam rohani Hamba. Selalulah berkati.

Sekarang hamba menulis kisahmu yang hamba dapat dari berbagai cara, dengan tujuan pengetahuan kepada bakta Pasraman Markandeya Yoga. Dan dengan berkatmu siapapun yan membaca kisahmu semoga rohaninya dicerahkan. Om Markandeya Ya Namah.

Hamba tahu, isi buku ini belumlah mengisi semua kisahmu. Dan mohon berikan lagi pengetahuan tentang mu sebagai revisi untuk terbitan selanjutnya. Dan Bagi yang membaca bimbingalah langsung secara Jiwa dengan Rohanimu

Hamba Mohon semoga tiada halangan.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

MASA KECIL RSI MARKANDEYA.

Masa Kecil Markandeya

Dikisahkan seorang Rsi Agung yaitu Mrikandu dengan hidup bersama istrinya bernama  Marudvati. Lama beliau tidak dikarunia Anak  Hidupnya tersa kosong dan sangat ingin memiliki anak. Akhirnya mohon anak dengan berkat dari Dewa Siwa. Rsi Mrikandu melkukan Yoga Semadi memuja Dewa Siwa dengn psrah total, Karena melihat ketekunan Semadinya mampu membuat Dewa Siwa menampakan Dir dan muncul dihadapan Rsi Mrikandu.
Dewa  Siva menampakkan diri kepadanya, dan berkata, “Saya senang dengan Anda, Mrikandu. Saya tahu apa yang and inginkan, anda ingin memiliki anak. Katakan padaku, apakah Anda ingin seratus anak, yang akan tinggal untuk waktu yang lama, tapi semua akan bodoh?

Atau, apakah Anda ingin satu anak yang sangat cerdas, yang akan hidup hanya enam belas tahun? ” Ini pilihan yng Aku berikan pada mu.

Resi Mrikandu langsung  berkata, “Dewa Siwa, sya mohon berikan saya satu anak yang cerdas cerdas saja.”
Dewa   Siva setuju dan  berkata, “Bagus! Rsi Anda akan segera  memiliki dia.” Aku akan menganugrahkan anak ini kepada mu.

Setelah penganugrahan itu, tidak berselang lama istrinya Rsi Mrikandu mengandung , selanjutnya anaknya lahir.

Segera resi mendapat anak laki-laki. Dia dan istrinya sangat bahagia ,Dia memberi nama  Markandeya kepada anaknya. Anak itu tumbuh menjadi sangat cerdas dan tampan. Resi memberikan  dia  benang suci untuk menjagny. Markandeya belajar kitab Veda dan Sastras, dengan cept dan mudah  mudah. Semua orang  dari orang biasa dan para rsi menyukainya.

Dan ketika anak itu berumur enam belas tahun , Rishi Mrikandu menjadi sedih dan setiap hari sedih. Karena terus melihat ayahnya sedih ,Suatu hari Markandeya bertanya kepada ayahnya: “Ayah, mengapa kau tampak begitu sedih?”

Karena didesak akhirnya Resi Mrikandu  mengatakan sejujurnya, “Anakku! Apa yang harus kukatakan? Ketika Dewa Siva memberi anaku kepada ayah, dia bilang kau akan hidup hanya enam belas tahun. Anda sekarang akan mencapai usia itu. BagaimanaAyah dan ibu yang melahirkan ananda rela  kehilangan dirimu seperti yang kita tahu akan terjdi  pada akhir tahun ini? ”

Markandeya berkata, “Ayah! Mungkin  itu alasannya? Dewa Siva sangat baik untuk-penyembahnya. Anda sendiri mengatakan kepada saya bahwa. Dewa Siwa telah menyelamatkan banyak mahluk dari kematiannya. Saya telah membaca tentang hal itu dalam Purana dan mendengarnya dri banyak Rsi. Aku segera akan melakukan ritual ini memuja  Dewa Siva dan malam dari hari ini akan mulai saya lakukan . saya yakin, Dia akan menyelamatkan-aku juga! ”

RishiMrikandu sangat senang mendengar anaknya mengatakan ini. Dia memberkati anaknya.
Markandeya membangun Siva-Lingga di sebuah tempat di pantai laut. Dia mulai menyembah Dewa Siva pagi, siang dan malam. Dia menyanyikan kidung suci, dan sambil menari dalam sukacita.

Dalam mitologi Hindu, Dewa Yama adalah Dewa Kematian. Dia bersama dengan prajuritnya mengumpulkan jiwa-jiwa orang mati.

Yama menyadari bahwa waktu Markandeya di bumi naik. Dia mengirim dua hambanya untuk mencabut  jiwa Markandeya itu.

Namun pada saat ini Markandeya begitu tenggelam dalam meditasi bahwa cahaya sengit aneh muncul dari dia. Cahaya dari dia kelihatan  begitu terang , sehingga prajurit  Yama tidak bisa dekat dengannya. Mereka gagal membunuh Markandeya.
Menghadapi kegagalan untuk pertama kalinya, para pelayan kembali dengan kecewa dalam hatinya dan lapor pada Dewa Yama,’Guru, kita tidak bisa mendekatinya. Ada sesuatu yang datang dari dia. Sesuatu yang sangat terang …. ‘Para pelayan menggelengkan kepala mereka, “Itu sangat cerah dan kuat  sehingga hampir membakar kami …’

Dewa Yama mengangguk, “Tidak apa-apa. Aku akan mengurus ini .. ” Dewa Yama kemudian mengambil tali dan duduk di kendaraan kerbau dan datang dekat Markandeya.  Dewa Yama menyadari bahwa Markandeya adalah murni dan telah menjalani kehidupan yang baik. Yang melindunginya. Itulah yang telah mengusir para pelayannya.

Tapi Yama adalah Dewa Kematian. Orang baik atau tidak, tak seorang pun lolos darinya. Namun seperti Markandeya adalah seorang anak yang mulia, Dewa Yama membuat dirinya terlihat oleh Markandeya.

‘Markandeya’  Dewa Yama berbicara sereus, ‘waktu Anda di bumi sudah habis …’

Markandeya membuka matanya dan menatap Dewa Yama. Namun Markandeya tidak merasa takut. Dia menatap Dewa Yama. “Aku tidak akan pergi dengan Anda … Tuhanku akan melindungi saya … ‘

Dewa Yama mengulangi, ‘waktu Anda di bumi sudah habis. Aku datang untuk menjemput  Anda … ‘

Markandeya tersenyum menggeleng dan memeluk lingga shiva erat. Menyadari bahwa ia tidak punya pilihan, Dewa Yama melemparkan tali di sekeliling leher Markandeya untuk menarik keluar jiwanya. Markandeya memejamkan matanya Selamatkan aku Tuhanku …

Markandeya terkejut ketika ia merasakan lingga bergerak dengan mata tertutup. Dia membuka matanya dengan takjub.

Markandeya sangat senang untuk melihat Tuhan bermata tiga  di hadapannya. Keinginannya telah terpenuhi. Dia telah melihat Dewa Shiva sekarang …

Markandeya tiba-tiba merasa seperti seolah-olah dia berada di dalam perisai pelindung. Tidak ada yang bisa menyakitinya sekarang … Markandeya melihat Dewa Yama dan tersenyum … Bahkan tidak mati

Namun Dewa Shiva marah  pada waktu itu. Setiap baris dari wajah Shiva adalah tampak sengit  dengan kemarahan. Dan trisula Siwa dibesarkan dan menunjuk Dewa Yama, yang telah menjatuhkan jerat dan mundur ketakutan.

‘ANDA BERANI MENGGANGGU DIA!’ Dewa Shiva berteriak marah, mengancam untuk membuka mata ketiga.

‘Ya Tuhanku … “Yama berkata,’ waktu-Nya di bumi sudah habis. Aku datang …menjemputnya ‘

‘DIA AKAN HIDUP SELAMANYA! … …’ Shiva mengambil trisula dan menusuk DewaYama. DewaYama mencoba menghindari trisula, tapi DewaYama tertangkap senjata tertncap di dadanya. Ia jatuh dan meninggal. Dewa Kematian  sudah mati!  Namun ,

Segera Dewa Indra dan dewa lainnya muncul di hadapan Dewa Siwa, yang masih melihat Dewa Yama  dengn marah.

Dewa Indra menatap wajah damai Markandeya dengan takjub. Anak itu telah melakukan apa yang tidak mampu dilakukan orang sebelumnya.

Indra berbalik dan bersujud pada dewa Siwa, Kita perlu memiliki Dewa kemtian .Tanpa kematian, tidak akan ada keseimbangan di bumi … Orang-orang akan terus lahir dan tidak pernah mati. Itu bukan cara hidup. Hidup ini tidak dimaksudkan untuk menjadi seperti ini. Aku mohon Dewa Siwa  … Berikan hidupkan Dewa  Yama kembali. Sehingga keseimbangan hidup dapat dikembalikan … “kata Indra menunjuk kearah Dewa Yama.

Mendengar kata-kata Dewa Indra, Dewa Siwa menjadi jinak. Dia mengangguk pelan, “Ya … Ya … Dewa Yama akan memiliki hidupnya kembali … jika … ‘Dewa Siwa memandang Markandeya yang masih memandang Dewa Siwa seolah-olah dia telah menemukan harta karun terbesar di bumi. Dewa Siwa tersenyum di Markandeya, ‘.. jika Markandeya terhindar … Markandeya akan hidup selamanya. Dia akan menjadi orang yang memiliki kemampuan menaklukan kematian … ‘

Deva menyadari bahwa ini adalah kesepakatan yang adil dan diterima kondisi.

Dewa Yama membuka matanya saat luka di dadanya sembuh. Dewa Yama memandang Markandeya, tersenyum dan terus menghilang dari sana. Deva yang lain  juga kembali ke langit.

Markandeya kemudian jatuh di kaki Dewa Siwa, ‘Tuhan saya ingin,  pernah melihat kamu …’

Dewa Siwa tersenyum, ‘Kembalilah kepada orang tua Anda Markandeya. Menjaga mereka untuk hidup mereka. Setelah itu lakukanlah farma yatra di muka bumi dan menjadi damai melakukan apapun yang Anda inginkan. Anda memiliki berkat saya. Anda akan tetap berusia enam belas tahun untuk selama-lamanya. Anda akan selalu memiliki berkat saya … ‘

Markandeya kembali ke orang tuanya yang sangat gembira mendengar ceritanya. Markandeya adalah anak yang baik dan tampak sangat baik setelah orang tuanya. Dia tidak pernah berusia lebih dari enam belas ….

  Doa  Mahamrityunjaya Mantra. penghalang dari maut ini dirahasiakan oleh Markandeya, dan hanya akan diberikn pada bhaktanya yang meminta dan memuja Siwa.

Sejak hari itu, bentuk api Siwa yang muncul untuk menyelamatkan anak-  Dan Rsi Markandeya disebut Kalasamhara Murti artinya dpt melht wujud Dewa Siwa  atau Kalari, dia mmpu berwujud Dewa Siwa atau  siwa yang kedua.

Markandeya akhirnya pulang, dan jatuh di kaki orang tuanya. Mereka memeluknya, dan menangis dengan sukacita.  Dalam pertumbuhnnya Markandeya menjadi Rsi yang Agung, dan hidup selamanya.

Markandeya dalam Siwa Darsana
Arti dari cerita

Kisah seperti yang dikisahkan di atas datang kepada kita dari Skanda Purana. Ada versi lain dari cerita yang berbeda dalam rincian, namun perhatian kita di sini adalah memahami apa yang kita diberitahu dalam kisah yang indah ini. Apa artinya bagi Markandeya diselamatkan oleh Siwa dan Siwa untuk menghancurkan Kala?

Untuk Markandeya diselamatkan oleh Shiva berarti Anugraha Shakti Siwa telah turun pada Markandeya. Markandeya di usia muda telah  mencapai pencerahan dan menjadi jivan-mukta. Dia tidak lagi terikat oleh waktu (kala) atau kematian. Dia telah terbebas  dari siklus kelahiran dan kematian. Sesungguhnya, Markandeya telah mendapatkan kesatuan dengan Dewa Mrityunjaya sebutan lain Dewa Siwa  dan menaklukkan kematian itu sendiri.

Dewa Shiva menghancurkan Yama dan menjadi marah karena Yama telah  memiliki keberanian untuk mengelilingi lingam, menunjukkan bahwa Siwa berada di luar kematian dan waktu. Dia adalah Tuhan yang kekal. Dia adalah Penguasa waktu (Mahakaleshvara); Dia adalah Pencipta waktu (Mahakala) dan Destroyer waktu (Kalari atau Kalasamhara Murti). Waktu dalam cerita diwakili oleh Yama sejak saat membawa kematian dan pembubaran semua hal, tapi Shiva membawa kematian ke waktu sendiri. Jadi, Ia disebut Mahakalakala atau Mahakalabhairava. Ketika segala sesuatu hancur, Shiva sendiri tetap. Seperti Dia sendiri adalah melampui kematian dan waktu, Shiva disebut Maha Mrityunjaya, Sang Penakluk besar kematian.

Moral dari cerita ini adalah bahwa kita, seperti anak-Rsi Markandeya, juga harus berdoa dan merenungkan Shiva-Mrityunjaya, karena Dia sendiri dapat membawa kita kepada alam di luar siklus samsara:

     Aum mṛtyuñjaya Mahadeva trāhi mam śaraṇāgatam |
janmamṛtyujarāvyādhi pīḍitaṁ karmabandhanaiḥ | |
Aum
,

O Dewa Mṛtyuñjaya, aku berlindung pada-Mu, Mohon melindungi saya;
Dan membebaskan saya dari pengalaman yang menyakitkan kelahiran, kematian, hari tua dan penyakit.

Aum Kalasamhara-Murtaye Namah.

Dalam Hindu Mitologi diyakini bahwa Markandeya masih hidup dan berkeliaran bumi dan terus berbuat baik untuk semua. Dia adalah [orang yang hidup untuk selama-lamanya] Chiranjeevi.

Markandeya adalah Chiranjivi:

Yama tidak bisa mengambil Markandeya, yang berpegang teguh pada Siva Lingam dengan hatinya penuh murni pengabdian bernyanyi:

Chandrasekhara Chandrasekhara Chandrasekhara Pahi Mam

Chandrasekhara Chandrasekhara Chandrasekhara Raksha Mam … “.

Setelah menaklukkan Mrtyu (kematian ), Markandeya disebut Mrtyunjaya. Oleh karena itu, Markandeya disebut Chiranjiva dan dia selalu berusia 16 tahun.

Penjelasan: Ayah Markandeya adalah Maharsi Mrkandu, anak Dhata, yang pada gilirannya adalah anak dari Bhrgu dan istrinya Khyati. Markandeya juga menghadiri pernikahan Sita Devi dan Sri Rama.
Pekerjaan: Markandeya menjelaskan Yugas dan memprediksi efek Kaliyuga. (Mahabharata).

Kisah Markandeya Dalam  Narada Purana

Cerita Dari Dewa Nerada

Narada terkait cerita Mrikandu dan Markandeya.

Ada seorang bijak bernama Mrikandu. Sebuah tirtha adalah tempat suci beryatra dan tempat yang bernama shalagrama adalah yang paling indah dari semua tirthas. Mrikandu berdoa selama bertahun-tahun di sana. Ia menganggap semua makhluk hidup lainnya adalah sama  karena tidak ada yang berbeda dari diri sendiri.

Indra dan dewa lainnya ketakutan dengan  tapasya Mrikandu itu. Mereka sendiri pergi dan mulai berdoa untuk Wisnu di tepi laut besar. “Tuhan,” mereka berdoa, “harap lepaskanlah kami dari tapasya Mrikandu itu. Dia akan menyenangkan Anda dengan meditasi dan surga yang tahu apa keuntungan ia kemudian akan menuntut. Dia mungkin mengusir kami dari surga dan mulai menekan kita. ” Dewa Indra Ketakutan

Vishnu tergerak hatinta oleh doa dari para dewa dan segera  muncul di depan mereka. Dia memegang Keong-kerang  (Shankha), sebuah semjata  (cakra) dan (gada) di tangannya. Matanya seperti kelopak bunga teratai dan tubuhnya bersinar dengan cahaya dari jutaan matahari. Bajunya berwarn kuning rona dan ia dihiasi dengan perhiasan permata.

Ketika para dewa menyatakan kekhawatiran mereka, Wisnu menenangkan mereka. “Damailah,” katanya. “Aku tahu Mrikandu. Dia adalah individu yang benar dan baik, saya yakin bahwa ia tidak berniat menindas kamu. Hanya orang-orang berdosa melakukan  meditasi sehingga memperoleh anugerah yang dapat digunakan untuk menindas orang lain. Aku akan pergi ke Mrikandu dan mencari tahu apa yang dia inginkan. ”

Setelah diberkati para dewa, Wisnu pergi untuk menemui  Mrikandu dikunjungi. Resi ini senang melihat Wisnu. Dia jatuh di kaki Wisnu dan melakukan hormat. “Saya senang di tapasya Anda,” kata Wisnu . Mrikandu. “Apa  anugerah yang Anda inginkan.” “Saya tidak menginginkan anugerah,” jawab Mrikandu. “Anda telah muncul di hadapan saya, Anda siapa para dewa sendiri merasa sulit untuk melihat. Apa lagi yang bisa saya inginkan? Saya tidak punya keinginan lagi. “” Itu tidak mungkin, “tukas Wisnu. “Janganlah dikatakan bahwa Wisnu muncul di hadapan pemuja dan tidak memberinya anugerah.

Aku sendiri yang akan dilahirkan sebagai anak Anda. Setiap waktu  di mana saya lahir selamanya diberkati. Dan itu adalah apa yang akan terjadi pada waktu  Anda juga. “

Wisnu kemudian memberkati  Mrikandu dan menghilang . Mrikandu memiliki seorang putra bernama Markandeya.

Sejak Markandeya lahir  Wisnu  lahir sebagai manusia, ia bersinar dengan cahaya dan juga orang yang sangat suci. Ia menjadi berpengalaman dalam pengetahuan semua shastras (teks-teks suci). Markandeya mulai berdoa untuk Wisnu.

Wisnu adalah Markandeya,  Markandeya  sangat senang bahwa Markandeya diberikan anugerah,  bahwa ia akan menulis sebuah Purana.

Inilah yang di sebut  Markandeya Purana.

Seluruh dunia secara berkala hancur dan dibanjiri air. Pada saat satu kehancuran tersebut, semua makhluk hidup di bumi  tewas. Tapi Markandeya terhindar oleh karena berkt  Wisnu. Ia melayang di atas air seperti daun kering.

Hal ini berlangsung untuk waktu yang sangat lama. Untuk memahami berapa lama ini, seseorang harus memiliki beberapa konsepsi pengukuran waktu.

Lihat: Pengukuran – Narada Purana.

Ini memberi Anda beberapa gagasan tentang berapa lama Markandeya mengapung di atas air, sepanjang satu malam Brahma. Pemandangan air di mana-mana .Markandeya merasa takut . Tapi dia terus berdoa untuk Wisnu. Dan dengan  berkat Wisnu, Markandeya terhindar dari kehancuran itu..

     Wisnu muncul dan berkata, “Aku akan menyelamatkan Anda. Saya selalu melindungi orang-orang yang berdoa kepada saya dengan  tulus. Saya akan  memberitahu Anda juga tanda-tanda umat saya yang sebenarnya. Mereka mencintai semua makhluk hidup lainnya dan bebas dari kecemburuan dan kebencian. Mereka tidak pernah menyebabkan rasa sakit kepada orang lain melalui pikiran mereka, kata-kata atau perbuatan. Mereka adalah cinta damai. Pemuja saya melayani orang bijak, tamu, dan orang tua dengan baik. Mereka membangun tempat suci dan menggali sumur dan kolam. * Mereka membaca dan menafsirkan Purana. Bahkan, Anda menampilkan semua ciri-ciri pemuja sejati Wisnu.

Markandeya Cerita  Walmiki.
Valmiki mempersiapkan diri untuk cerita keempat. Dia berbicara dengan orang yang tidak dia kenal namanya. Dia menceritakan kisah Markandeya pada orang itu Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau kekhawatiran. “Sekarang, cerita akhir, dan kemudian Anda dapat melakukan apa yang Anda mau.”

Mrikandu adalah penyembah sujati  Siwa. Dia dan istrinya sudah lama menginginkan anak, tapi belum pernah mampu untuk hamil. Setelah lama dalam kekecewaan dan kontemplasi, ia mengucapkan doa singkat untuk Siwa, berharap dewa akan memberikan kepadanya apa yang ia dan istrinya sudah lama inginkan. Yang mengejutkan, Shiva memberikn berkat  langsung. Sabda Siwa  terdengar  di dalam kepala Mrikandu itu.

“Aku akan memberikan Anda seorang putra berbakat yang waktu di Bumi pendek, atau anak yang bodoh  dengan umur panjang. Mana yang anda pilih?

Mrikandu menjawab lantang, “Berilah aku anak berbakat yang baik-siap untuk memuja Anda.” Mrikandu tidak  mendengar apa-apa lagi. Dia tidak menerima konfirmasi bahwa Shiva telah benar-benar memberikan doanya. selama beberapa minggu, istrinya hamil. Dan selanjutnya anaknya Lahir.

Mereka menamai anak Markandeya, dan anak itu memang berbakat. Dia bisa  berbicara lebih awal dan cepat  dan menjadi seorang murid bersemangat. Cepat ia belajar doa-doa dan mantra yang berhubungan dengan Shiva dan, melalui cinta bakti dan kontemplasi, menjadi salah satu pengikut paling setia Shiva dalam  tahun pra remaja nya. Pada usia lima belas tahun, ia mulai tumbuh lebih pucat dan lebih kurus. Sehingga pada  tahun keenam belas mendekat, tubuhnya lemah sampai  ia berjalan dengan tongkat. Itu segera jelas bahwa ia ditakdirkan untuk mati pada hari ulang tahun keenam belas. Dia membuat rencana untuk menghabiskan hari terlibat dalam pemujaan.

Dewa Kematian Dewa Yama sendiri muncul untuk mengeksekusi takdir Markandeya itu.Dewa Yama mencoba untuk melemparkan tali-Nya di leher Markandeya, tapi tali  itu mendarat di Lingga Siwa. Shiva muncul marah dan memukul membunuh Dewa Yama, terjadilah Markandeya  mengalahkan Kematian itu sendiri. Dewa Yama Meninggal, Namun Shiva menghidupkan kembali  Dewa Yama dengan syarat bahwa Dia tidak akan pernah datang untuk membunuh Markandeya lagi.
Setelah Rsi  Valmiki selesaikan  ceritanya, ada keanehan terjadi . Matahari tenggelam rendah sehingga ada  pisau didepan Rsi Walmiki  tidak lagi kelihatan. Mereka  duduk diam selama beberapa saat.

Kemudian, wajah orang asing itu mengeras dan kelihatan marah tanpa sebab , ia mengambil pisau, dan tmenusukan  ke dada  Rsi Valmiki. Dia menatap Valmiki sambil berkata , “Anda telah  membuat cerita , untuk menbalas dendam karma, dan tugas karma, sehingga pikiran saya menjadi kacau . Saya yakin bahwa ini adalah tugas saya lagi, tetapi merasa terdorong untuk itu tetap dendam . Anda ingin kebijaksanaan anda kelihatan  Markandeya. ”

Mendengar kata-kata ini, Rsi Valmiki duduk dan menarik pisau dari dadanya. Ada sedikit darah. Dalam posisi duduknya, pakaiannya hampir menutupi  luka seharusnya. Dia menangkap  tangan penyerang tersebut, Rsi Walmiki, menuangkan air ke dalam luka , untuk membersihkan lukanya, dia menatap penyerangnya. Dan berkata.

Aku benar-benar berjuang memilih cerita keempat dan datang dengan cara untuk mengakhiri kisah saya, tapi saya cukup senang bisa menceritakan kisah ini pada anda. Setelah mendengar kisah ini, anda  menyerang saya dengan tujuan  awal untuk membalas dendam tampak tidak wajar bagi saya. Aku ingin  cerita Markandeya keluar dari pengalaman  saya yang penuh dengan ambivalensi, cerita kempat  saya akhirnya memilih hadiah gambaran konsep karma yang kompleks dan tampaknya konflik.

Awalnya, aku akan menulis cerita ketiga baru, dan memilih Bhagavad Gita sebagai cerita keempat, namun dengan cerita kempatku ini dengan kamu  penyerang merasa konflik,  tapi seolah-olah itu tugasmu  untuk membunuh Valmiki. Namun, saya tidak ingin cerita ketiga tampak seperti tidk ada  dan saya merasa aneh tidk menceritakan ke agungan Rsi Markandeya yng saya ketahui. Saya sangat bersemangat untuk memulai  cerita ini sebagai contoh bagaimana sebuah  karakter bisa melarikan diri takdir karma melalui campur tangan Tuhan. Ini contoh pemuja yang  baik ke dalam rangkaian cerita saya, karena itu memungkinkan kamu untuk membunuh Valmiki, Namun Markandeya akan abadi dalam cerita saya. Walaupun saya akan tiada.

Srimad Bhagavata Percakapan Suta Gosvami dengan  Saunaka bercerita tentang Rsi Markandeya.

Bhagavata Purana  , juga dikenal sebagai Srimad Bhagavata Maha Purana  , Srimad Bhagavatam atau Bhagavata , secara harfiah berarti cerita TUHAN ( Hyang Widhi ). Dalam bentuk  teks Purana Hindu , dengan isi pada bhakti Yoga ( pengabdian agama ) kepada Maha Dewa Wisnu ( Narayana ) , Bhagavata Purana mencakup banyak cerita terkenal dalam agama Hindu , termasuk berbagai avatara Wisnu dan kehidupan inkarnasi lengkap nya , Krishna atau svayam Bhagavan . Itu adalah Purana pertama. Yang ke dua Padma Purana mengkategorikan Bhagavata Purana sebagai Sattva Purana ( Purana yang mewakili kebaikan dan kemurnian ) . ke tigaVeda Vyasa diakreditasi untuk menjadi penulis Bhagavata Purana .

Bhagavata Purana dianggap paling murni dan terbaik dari semua purana karena memanggil pengabdian terhadap Dewa Wisnu dan berbagai inkarnasi-Nya , terutama berfokus pada Krishna karena ia adalah juga inkarnasi Dewa Wisnu . Bhagavata Purana benar-benar mengungkapkan cara  untuk menjadi bebas dari semua pekerjaan , bersama dengan proses murni transendental pengetahuan, penolakan , dan pengabdian kepada Dewa Wisnu dan siapa saja yang serius mencoba untuk memahami, mendengar dan nyanyian ayat-ayat Bhagavata Purana dengan pengabdian kepada Dewa Wisnu , menjadi benar-benar dibebaskan dari belenggu material dan mencapai moksha atau pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian di dunia material .

Bhagavata Purana menyatakan Dewa Wisnu ( Narayana ) sebagai Para Brahman Agung Tuhan yang menciptakan alam semesta yang tak terbatas dan memasuki masing-masing dari mereka sebagai Tuhan Semesta .  Dewa Wisnu terlibat dalam penciptaan 14 dunia dalam alam semesta sebagai Brahma ketika ia sengaja menerima raja guna. Dewa Wisnu sendiri mendukung , memelihara dan menjaga alam semesta sebagai Wisnu ketika ia menerima sattva guna dan melenyapkan alam semesta pada akhir maha – kalpa sebagai Siwa atau Rudra ketika ia menerima tamas guna. .

Para Bhagavata mengambil bentuk sebuah cerita menceritakan karya Vyasa yang dibacakan untuk pertama kalinya oleh putranya Shuka ke  Raja Parikesit , yang berutang hidupnya untuk Krishna . Rindu untuk mendengar Krishna sebelum dia meninggal , Parikesit mendengar Bhagavata yang dibacakan oleh Shuka , termasuk pertanyaan oleh raja dan awaban dengan bijak , selama tujuh hari .

Bab 8 Srimad Bhagawatam: Sembah Markandeya untuk Nara – Narayana Rsi

Bhaktivedanta VedaBase : Srimad Bhagavatam

SB 12,8 Ringkasan

SB 12.8.1 : Sri Saunaka berkata pada Suta Gosvami  : O Suta , mudahan Anda berumur panjang ! kau satu satunya orang suci yang aku dengar mengenal Rsi Markandeya  , silakan lanjutkan bercerita  kepada kitatentangnya . Memang , hanya Anda yang dapat menunjukkan orang jalan keluar dari kebodohan dimana mereka sedang kebingungan .

SB 12.8.2-5 : Para Dewa mengatakan bahwa Rsi Markandeya , anak Mrkandu . adalah sangat berumur panjang, orang  bijak yang satu-satunya yang selamat pada akhir hari Brahma , ketika seluruh alam semesta bergabung dalam banjir pemusnahan . Tapi Rsi Markandeya , keturunan Bgagawan  Bhrgu , mengambil kelahiran dalam keluarga manusia  selama saat hari Brahma , dan kita belum melihat adanya kehancuran total di hari ini dari Brahma . Selain itu, juga diketahui bahwa Rsi Markandeya sementara berkeliaran di lautan besar spiritual penyucian , melihat di perairan kepribadian yang indah – seorang anak bayi terbaring sendirian dalam lipatan daun beringin . O Anakku  , saya paling bingung dan ingin tahu tentang, Rsi Markandeya yang maha bijak ini. O maha yogi , Anda secara universal diterima sebagai otoritas pada semua Purana . Oleh karena itu silakan menghilangkan kebingungan saya dan sucikan bhatin saya .

SB 12.8.6 : Suta Gosvami mengatakan : O maha bijaksana Saunaka , pertanyaan Anda yang akan sangat membantu menghilangkan ilusi setiap orang , yang membersihkan menghilangkan kontaminasi  jaman Kali pada manusia.

SB 12.8.7-11 : Setelah dimurnikan dengan ritual  ayahnya yang ditentukan menuju  inisiasi Brahmin untuk Rsi Markandeya , Markandeya mempelajari Kitab Weda dan ketat mengamati prinsip-prinsip regulatif . Ia menjadi maju dalam penghematan dan pengetahuan Veda dan praktrk tetap seumur hidup. Tampil paling damai dengan rambut kusut dan pakaiannya terbuat dari kulit kayu , dia sangat kasih pada semua orang  para pengemis , buruh , orang  suci , dia layanai dengan kasih . Dia melaksanakan brahmacari , memakai sabuk hitam kulit rusa , Mala dengan biji lotus dan tempat duduk rumput kusa . Pada saat-saat hari suci i ia secara teratur menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dalam lima bentuk -:  api suci , matahari , guru spiritualnya , para brahmana dan Atman  dalam hatinya .Jadi dikhususkan untuk penghematan dan belajar Veda , Rsi Markandeya menyembah Dewa  indra , Kepribadian Ketuhanan , selama jutaan tahun yang tak terhitung , dan dengan cara ini ia mengalahkan maut yang tak terkalahkan .
SB 12.8.12 : Dewa Brahma , Bhrgu Muni , Dewa Siva , Prajapati Daksa , anak-anak besar Brahma , dan banyak orang lain di antara manusia , dewa , leluhur dan termasuk roh hantu – semua heran dengan pencapaian Rsi Markandeya .

SB 12.8.13 : Dengan cara ini Markandeya melakukan kebaktian mistik  mempertahankan sedhana  melalui pertobatan , mempelajari weda dan disiplin diri . Dengan pikirannya sehingga bebas dari segala gangguan , ia mengubahnya ke dalam dan merenungkan Kepribadian Agung Ketuhanan , yang terletak di luar indra material.

SB 12.8.14 : Sementara kebijaksanaan  mistik mengkonsentrasikan pikirannya dengan berlatih yoga , periode luar biasa dari desiplinya .

SB 12.8.15 : O brahmana , selama pemerintahan ketujuh Manu saat ini , Dewa Indra datang untuk mengetahui pertapaan Markandeya dan menjadi takut melihat pertumbuh potensi mistiknya . Jadi dia mencoba untuk mengganggunya ..

SB 12.8.16 : Untuk merusak praktik spiritual Rsi Makandeya , Dewa Indra mengutus , penyanyi lsorga  , Bidadari cantik untuk menggodanya ,  seketika musim semi dan angin cendana beraroma dari gunung  HiMalaya , bidadari menari bersama dengan tingkah menggoda Rsi Mrkandeya.

SB 12.8.17 : O Saunaka , mereka pergi ke pertapaan Markandeya, di sisi utara Pegunungan Himalaya di mana Sungai Puspabhadra melewati puncak pegunungan .

SB 12.8.18-20 : Pohon Rudraksa  menghiasi Pasraman suci Rsi Markandeya , dan banyak brahmana suci tinggal di sana , menikmati murninya alam , kolam suci . PAsraman yang  selalu kedengaran  suara alam  bergema dan yang bnyanyi burung.  , sementara burung-burung merak menari gembira . Memang , banyak keluarga burung meramaikan pertapaan . Musim semi angin kiriman  Dewa Indra masuk di sana, membawa rasa dungin  dari air terjun di dekatnya . Wangi dari aroma bunga hutan , yang dikirim angin memasuki pertapaan dan mulai membangkitkan semangat dan kesegaran.

SB 12.8.21 : musim cerah  kemudian muncul di Paasraman Markandeya itu . Memang , langit malam , bersinar dengan cahaya bulan , menjadi sangat indah  di musim semi , dan kecambah dan bunga segar hampir menutupi banyak pohon.

SB 12.8.22 : banyak wanita surgawi , kemudian datang ke sana memegang busur dan anak panah . Dia diikuti oleh kelompok-kelompok Gandharva memainkan alat musik dan bernyanyi .

SB 12.8.23 : Markandeya duduk bersemadi , karena hanya menawarkan persembahan ditujukan ke dalam api korban . Matanya ditutup, ia tampak tak terkalahkan , seperti perwujudan api .

SB 12.8.24 : Para wanita menari didepan ,markandeya, dan penyanyi sorga bernyanyi dengan iringan menawan  ,memainkan drum , simbal dan vinas .
SB 12.8.25 : Sementara kegairahan ditunjukan , musim semi dan para pelayan Indra lainnya semua mencoba mengganggu  pikiran Markandeya .

,
SB 12.8.26-27 : Apsara Punjikasthali membuat pertunjukan bermain dengan sejumlah bola mainan . Pinggangnya tampak indah dengan  payudara  montok , dan karangan bunga bunga di rambutnya menjadi acak-acakan . Saat ia berlari sekitar bola , melirik sana-sini, sabuk pakaian tipis longgar , dan tiba-tiba angin bertiup  membuka pakaiannya .

SB 12.8.28 : Cupid , berpikir ia telah mampu merusak  tapa markandeya , kemudian menembak panahnya . Tapi semua upaya untuk mengganggu  Markandeya terbukti sia-sia

SB 12.8.29 : O Saunaka , sementara Cupid dan pengikutnya mencoba untuk menyakiti Markandeya , mereka semua merasa diri mereka dibakar hidup-hidup oleh kekuatan tapa Markandeya. Jadi mereka menghentikan kejahatan mereka, sama seperti anak-anak yang telah membangunkan  ular tidur .

SB 12.8.30 : O brahmana , para pengikut Dewa Indra telah lancang menyerang Markandeya suci , namun dia tidak menyerah kepada pengaruh dan tidk tergoyahkan. Untuk jiwa-jiwa yang besar dan  dtoleransi tersebut sama sekali tidak mengejutkan.

SB 12.8.31 : Dewa  Indra paling tercengang ketika dia mendengar tentang kehebatan mistik yang dimuliakan Rsi  Markandeya dan melihat bagaimana Cupid dan rekan-rekannya telah menjadi  tak berdaya di hadapannya .

SB 12.8.32 : Berkeinginan untuk melimpahkan berkatnya -Nya ke  orang suci Markandeya , yang sempurna tetap pikirannya dalam realisasi diri melalui penebusan dosa , studi Weda dan memperhatikan prinsip regulatif , Kepribadian Agung Tuhan  muncul dalam bentuk Nara dan Narayana .

SB 12.8.33-34 : Satu dari Mereka dengan  kulit keputihan , dan yang lain dengn kulit kehitaman  , dan Mereka berdua memiliki empat lengan . Mata mereka menyerupai kelopak bunga teratai mekar , dan Mereka mengenakan pakaian dari kulit rusa hitam dan kulit kayu , bersama dengan benang suci tri datu. Di tangan mereka , yang paling memurnikan , Mereka membawa tempat air, tongkat bambu lurus dan mala biji lotus , serta semua pemurni Weda dalam bentuk simbolis tikar rumput Darbha . Bantalan mereka adalah tinggi dan cahaya kuning ,mereka warna petir bercahaya. Tampil sebagai penghematan wujud , Mereka sedang disembah oleh para dewa utama .

SB 12.8.35 : Kedua orang bijak , Nara dan Narayana , adalah bentuk pribadi langsung dari Tuhan Yang Maha Esa . Ketika Rsi Markandeya melihat Mereka , ia segera berdiri dan kemudian dengan hormat sungkem ke tanah .

SB 12.8.36 : Rasanya  melihat Mereka,  benar-benar membahagiakan  Markandeya dan matanya keluar air kebahagiaan  .
SB 12.8.37 : Berdiri dengan tangan terlipat dalam doa dan kepalanya tertunduk dengan  kerendahan hati , Markandeya merasa semangat sehingga ia membayangkan ia merangkul dua Tuhan . Dengan suara tercekik rasanya , ia berulang kali mengatakan , ” saya persembahkan  hati  sederhana saya. ”

SB 12.8.38 : Dia memberi tempat duduk kepada Mereka dan membasuh kaki mereka , dan kemudian dia menyembah Mereka dengan presentasi dari Arghya , cendana, minyak wangi , dupa dan karangan bunga .

SB 12.8.39 : Rsi Markandeya sekali lagi sujud di kaki padma dari dua orang bijak yang paling disembahnya , yang sedang duduk santai , siap untuk melimpahkan semua kasih sayangnya .

SB 12.8.40 : Sri Markandeya berkata: Wahai Tuhan Yang Mahakuasa , bagaimana mungkin aku bisa menggambarkan Anda ? Anda berwujud  udara , yang kemudian melampaui  pikiran , perasaan dan kemampuan berbicara untuk bertindak . Hal ini berlaku untuk semua jiwa manusia biasa dan bahkan untuk dewa besar seperti Brahma dan Siva . Jadi memang benar bagi saya . Namun demikian , Anda menjadi teman dekat mereka yang menyembah Anda .

SB 12.8.41 : O Kepribadian Agung Tuhan  , kedua bentuk pribadi agung telah muncul untuk memberikan manfaat utama untuk tiga dunia – penghentian penderitaan material dan penaklukan kematian . Tuhanku , meskipun Anda menciptakan semesta ini dan kemudian menganggap banyak bentuk transendental untuk melindunginya , Anda juga menelan itu , seperti seekor laba-laba yang berputar dan kemudian mencabut jaringnya .

SB 12.8.42 : Karena Anda adalah pelindung dan pengontrol tertinggi semua  yang bergerak dan yang tak bergerak , siapa pun yang mengambil berlindung dari kaki teratai Anda tidak pernah dapat tersentuh oleh kontaminasi alam material , kualitas bahan atau waktu . Orang bijak yang telah mengagungkan arti penting dari Veda menawarkan doa-doa mereka untuk Anda . Untuk menjalin  hubungan dengan Anda , mereka sujud kepada Anda di setiap kesempatan dan terus-menerus menyembah Engkau dan merenungkan Anda .

SB 12.8.43 : Tuhan ( Hyang Widhi ) , bahkan Dewa Brahma , yang menikmati posisi tertinggi -Nya untuk seluruh durasi alam semesta , takut akan berlalunya waktu . Mereka menemukan bahaya takut di setiap langkah kehidupan mereka . Saya tidak tahu cara menghalau rasa takut ini kecuali berlindung di kaki padma Anda , yang merupakan bentuk yang sarat pembebasan .

SB 12.8.44 : Oleh karena itu aku menyembah kaki Padma Anda , setelah meninggalkan identifikasi saya dengan tubuh material dan segala sesuatu yang mencakup diri saya yang sebenarnya . Ini berguna , penutup kesadaran sujati dan temporer  yang hanya diduga terpisah dari Anda , yang kecerdasan meliputi semua kebenaran . Dengan mencapai Anda – Ketuhanan Agung dan menguasai jiwa ( Hyang Widhi ) – seseorang mencapai segala sesuatu yang diinginkan .

SB 12.8.45 : Wahai Tuhanku  ( Hyang Widhi ), Wahai kawan tertinggi jiwa  , meskipun untuk penciptaan , pemeliharaan dan pemusnahan dunia ini Anda adalah  kebaikan , nafsu dan kebodohan JIwa hanya merupakan potensi ilusi Anda , Anda secara khusus menggunakan mode kebaikan untuk membebaskan jiwa . Nafsu dan kebodohan  hanya membawa mereka menderita , ilusi dan ketakutan .

SB 12.8.46 : Ya Tuhan ( Hyang Widhi ) , karena keberanian, kebahagiaan spiritual dan kerajaan tuhan semua dicapai melalui modus kebaikan murni , bhakta anda  menganggap metoda  ini jalannya , bukan nafsu dan kebodohan , walaupun menjadi manifestasi langsung dari Anda , yang merupakan kepribadian Agung Ketuhanan . Orang cerdas sepiritual  menyembah bentuk transendental tercinta Anda , terdiri dari kebaikan murni, bersama dengan bentuk spiritual bhakta  murni Anda .

SB 12.8.47 : Saya mempersembahkan kerendahan  hati saya kepada-Hyang Widhi , Kepribadian Agung Ketuhanan . Dia adalah bentuk meliputi segalanya dan semua termasuk alam semesta , serta guru spiritual saya . Aku sujud kepada Tuhan Narayana ( Hyang widhi ) , Dewa yang amat disembah para orang suci , dan juga untuk orang suci Nara , yang terbaik dari manusia , yang tetap dalam kebaikan sempurna , sepenuhnya mengendalikan ucapannya  , dan  hanya sebagai penyebar literatur Veda .

SB 12.8.48 : Sebuah kecerdasan materialis , kecerdasannya sesat oleh aksi indera yang menipu nya , tidak bisa mengenali Anda sama sekali, meskipun Anda selalu hadir dalam indera dan hatinya sendiri dan juga antara objek-objek persepsinya . Namun meskipun pemahaman seseorang telah ditutupi oleh potensi ilusi Anda , jika seseorang memperoleh pengetahuan Veda dari Anda , guru spiritual tertinggi , dia bisa langsung mengerti Anda .

SB 12.8.49 : Hyang Widhi  Tuhan yang maha Agung , Veda literatur sendiri mengungkapkan pengetahuan rahasia kepribadian tertinggi Anda , dan dengan demikian bahkan para dewa seperti dewa  Brahma sendiri  bingung dalam usaha nya  untuk memahami Anda melalui metode empiris-pengalaman  . Setiap filsuf memahami Anda sesuai dengan kesimpulan spekulatif yang khusus . Saya menyembah pribadi Agung, pengetahuan yang disembunyikan oleh tubuh meliputi identitas spiritual jiwa mahluk .

Markandeya Brahmacari

Markandeya Cerita – Dewa Wisnu
Rsi Markandeya adalah Brahmachari. Dia selalu sibuk dalam merenungkan nama (Nara Narayana) Dewa Wisnu. Dia berangkat ke hutan untuk melakukan penebusan dosa. Dewa Indra takut Rsi Markandeya bisa menjadi lebih kuat dari dia karena pengabdiannya. Dia takut bahwa Rsi Markandeya dapat mengambil posisinya. Jadi dia mengirim Dewa Kama  dan bidadari mengganggu Semadi Rsi  Markandeya. Tapi usaha mereka sia-sia. Dengan ketekunan Yoga Semadi,  Setelah bertahun-tahun Narayana  muncul di hadapan Rsi Markandeya  dan Rsi Markandeya mengungkapkan keinginannya, Tuhan, tolong tunjukkan saya Maya Anda.” Kata Rsi Markandeya.

“Seperti yang kau inginkan anakku . Segera Anakku a akan melihat itu, “kata Narayana (Vishnu).

Rsi Markandeya kembali untuk tinggal di Pasraman  di Himalaya ditepi  sungai Pushpabhadra. Setelah beberapa waktu, warna langit berubah. Segera angin kencang bertiup dan hujan lebat  turun. Di mana-mana ada air. Perlahan air-semakin  naik dan bukit-bukit dan pegunungan mulai terendam oleh air. Rsi Markandeya menjauh  meninggalkan Pasraman  dan dia naik gunung , air juga semakin tinggi , tetapi ada keajaiban terjadi air  tidak pernah mencapai di atas kakinya. Segera seluruh Bumi terendam  dalam air dan  semua mahluk mati dan tenggelam . Tapi untungnya Rsi  Markandeya aman. Kemudian Rsi Markandeya melihat pohon beringin. Dia memutuskan untuk memanjat pohon untuk duduk di cabang tertinggi dan menunggu sampai air surut . Saat ia memanjat pohon, ia melihat bayi pada cabang pohon . Wajah bayi itu bersinar dengan cahaya surgawi. Rsi Markandeya membungkuk untuk mengambil bayi  itu dan ditaruh dalam pelukannya tetapi bayi sulit bernapas. Rsi  Markandeya tersedot ke dalam mulut bayi. Rsi  Markandeya merasa dirinya jatuh melalui terowongan gelap. Tiba-tiba, ia berada di tanah. Dia melihat pemandangan aneh dan terkejut. Semuanya baik-baik saja di sekelilingnya. Dunia benar-benar kering dan tidak ada tanda-tanda air di manapun. Orang-orang kelihatan  menjalani kehidupan mereka secara normal. Seluruh dunia kelihtan  masih utuh.

Tiba-tiba angin kencang bertiup dan  Rsi Markandeya terayun  seperti ranting. Ketika dia mendarat, ia menemukan dirinya di pohon beringin yang sama seperti sebelumnya dan di sekelilingnya air itu masih ada. Dia melihat pemandangan yang sama seperti sebelumnya. Sekarang ia tidak hanya terkejut tetapi juga sangat bingung. Dia melihat Dewa  Shiva dan Parvati naik menunggangi Nandi di langit. Rsi Markandeya  memanggil mereka dan membungkuk memberi hormat kepada mereka. Rsi Markandeya  mengatakan kepada mereka apa semua yang telah terjadi. Setelah mendengar kata-kata Rsi Markandeya, Dewa  Shiva berkata, “Markandeya, kau berharap Nara Narayana menampilkan Maya nya. Jadi ini dia. Bayi yang mengisap Anda dalam perutny , adalah Dewa Wisnu sendiri. Nara Narayana sujatinya  hanyalah wujud  Dewa Wisnu sendiri. ”

“Oh! Apakah itu benar  begitu? Tolong beritahu saya tentang bentuk-bentuk yang berbeda Tuhan, “Rsi Markandeya meminta Dewa Siwa.

Dewa Siwa mengatakan kepadanya, “, Dewa Brahma, adalah Pencipta seluruh alam semesta. Dewa Wisnu adalah pelindung seluruh alam semesta. Saya Sendiri disebut Mahesh, disebut pelebur /pemusnah , tapi aku hanya membahayakan orang-orang yang melakukan dosa dan bukan mereka yang suci atau benar. Jadi Brahma, Wisnu dan Mahesh sebenarnya tiga bentuk yang sama Dari Dewa  Paramabrahma itu. ”

Setelah memberikan ajaran ini, Dewa Siwa dan Parwati melanjutkan perjalanan mereka. Rsi Markandeya kembali ke Pasraman  dan menghabiskan hidupnya beryoga semadi  nama Narayana.

Markandeya – Srimad Bhagawatam

Dalam Srimad Bhagavatam itu jelas diberikan tentang kebesaran Maha Rsi Markandeya, yang terkenal karena pengabdian murni nya, penghematan dan meditasi. Kisah-kisah di Srimad Bhagavatam menjelaskan bagaimana Rsi  Agung  melihat Nara Narayana dan setelah itu bagaimana Dewa Siwa beserta Ibu Parvathi datang di depan Rsi  Markendaya dan diberi anugerah.

Ketika Pandawa bersembunyi di hutan dan mereka sudah mendekati untuk menyelesaikan 12 tahun pengasingan. Krishna datang untuk melihat mereka bersama dengan satyabhama.

Sementara Sri Krishna dan Maharaja Yudistira berbicara, Maha Rsi  Markandeya, tiba. Sri  Krishna, Pandawa, dan semua brahmana segera bangkit dari kursi mereka untuk menerima Rsi terkenal, yang, meskipun ribuan tahun, tampaknya seperti seorang pria muda, tanpa ada tanda-tanda usia tua. Ketika Rsi Markandeya sedang nyaman duduk, setelah t disembah oleh Pandawa,Sri  Krishna meminta dia untuk menceritakan beberapa sejarah kuno yang menanamkan dalam diri pendengar rasa nilai-nilai moral kehidupan.

Kemudian, semua orang dikelilingi  Rsi Markandeya, tidak sabar  menunggu wacana itu, Sri Narada Muni datang ke sana. Semua orang bangkit untuk menyembah Dia, tetapi karena Narada mengerti bahwa Markandeya hendak berbicara, dia mendorong Rsi Markandeya  untuk tidak mennda. Dengan demikian, semua orang duduk, dan sangat ingin mendengar.

Maharaja Yudistira mulai bertanya, “Yang Mulia Rsi , saya selalu bingung ketika saya berpikir tentang bagaimana anak-anak jahat Dhritarashtra yang makmur, sedangkan kita menderita, meskipun kita bertindak dengan benar. Tolong jelaskan apa berkat Tuhan bermain di kebahagiaan manusia dan kesusahan, karena tampaknya bagi saya bahwa hasil tersebut hanya buah dari usaha seseorang. saya juga ingin memahami konsep karma. Apakah reaksi untuk pekerjaan dinikmati oleh kita dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan niskala? Jika reaksi yang dijatuhkan di kehidupan mendatang, maka bagaimana mungkin ada yang pernah berhasil menghentikan siklus aksi dan reaksi dan kelahiran dan kematian yang dihasilkan nya? ”

Rsi Markandeya menjawab, “Raja yang ku cintai, pertanyaan Anda yang paling terpuji, dan saya akan mencoba untuk menjawab yang terbaik dari kemampuan saya. Pada awal penciptaan, Dewa Brahma membuat tubuh manusia murni dan tanpa dosa, dan dengan demikian mereka yang setara dengan orang-orang dari para dewa.Manusia saat ini semua keinginan mereka terpenuhi secara otomatis, mereka mampu terbang di langit, dan mereka benar-benar dibebaskan dari kualitas kesurupan nafsu dan iri hati. mereka hidup untuk ribuan tahun, dan mereka semua memiliki kekuatan untuk mati dengan kehendak  mereka sendiri. Karena nya ada  begitu sedikit penderitaan, ketakutan itu praktis tidak dikenal dan dengan demikian semua orang hidup sangat damai dan bahagia. ”

“Secara bertahap, bagaimanapun, dalam perjalanan waktu, manusia menjadi dijajah dengan nafsu dan keserakahan, dan sehingga mereka mulai tergantung pada kecurangan untuk mendapatkan mata pencaharian mereka. Mereka kehilangan kemampuan untuk melintasi udara dan dengan demikian mereka harus berjalan di permukaan bumi. Karena perbuatan dosa mereka, laki-laki dipaksa untuk pergi ke neraka dan menderita, karena, mereka datang untuk memetik hasil dari tindakan mereka. ”

“Rajaku yang Mulia, pada saat kematian, hanya tubuh kotor mahluk hidup hancur. Tindakan yang ia lakukan  semua terekam dalam pikiran halus. Kemudian, setelah kematian, ketika tubuh halus membawa rekmaman ini, tindakan untuk membuahkan hasil nya mengikutinya seperti bayangan dan kemudian membuahkan dalam kehidupan berikutnya. Namun, dengan latihan YOGA dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, hasil dari tindakan untuk membuahkan hasil seseorang dapat dihancurkan. dengan cara ini, seseorang dapat menjadi damai dalam pikiran dan terbebas dari segala penyakit, ketakutan dan penderitaan material lainnya. Memang, mereka yang telah menjadi maju secara rohani, dengan berkat praktek matang YOGA, dapat selalu membayangkan hubungan antara jiwa individu dan Jiwa murni, Jiwa Agung kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dalam kondisi hidup, bahkan saat terbungkus dalam rahim ibu! ”

“Rajaku Yudhistira, manusia dapat dibagi menjadi empat kelas.

1. Mereka yang bekerja keras untuk memperoleh kekayaan dengan cara apapun, hanya untuk tujuan menikmati kepuasan indria-indria, bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, tapi tidak di akhirat.

2. Mereka yang terlibat dalam penghematan dan meditasi, yang menundukkan nafsu mereka, dan bahkan mengorbankan kekuatan tubuh dan kesehatan dengan menjalankan sumpah kaku, mencapai kebahagiaan di kehidupan berikutnya, tapi tidak dalam satu ini.

3. mereka yang hidup saleh, mengumpulkan kekayaan dengan cara yang saleh, yang menjalani kehidupan dari diatur rasa kenikmatan dalam pernikahan, saat melakukan pengorbanan dan memberikan dalam amal, pengalaman kebahagiaan dalam hidup ini dan di akhirat juga. ”

4.”Lalu, ada orang-orang yang berbeda dari yang disebutkan di atas tiga kelas orang karena mereka hanya malas dan bodoh. Laki-laki tersebut tidak bisa menikmati kesenangan apa pun dalam kehidupan ini maupun di akhirat. Yudistira sayang, karena Anda sangat saleh, dan terlibat dalam melakukan pertapaan, Anda akan datang untuk menikmati kebahagiaan tertinggi dalam saatnya. dari jumlah ini tidak ada keraguan. ”

Menanggapi pertanyaan Maharaja Yudistira itu, Rsi Markandeya , berbicara panjang lebar, mengutip berbagai catatan sejarah. Beberapa narasi besar ini diberikan sebagai berikut. Rsi  Markandeya berkata, “Mari saya pertama-tama menawarkan rasa paling hormat saya kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang dikenal sebagai Janardana, karena Dia adalah jiwa dari semua jiwa. Dia adalah Tuhan purba, penyebab dari segala sebab, dan master dari semua dewa. Dia sendiri adalah penyebab penciptaan, pemeliharaan dan pemusnahan, dan dengan demikian itu adalah Dia yang adalah penampungan akhir dari semua makhluk. ”

“Yidistira Sayang, karena Anda sangat akan tahu, ada empat yuga (usia). Durasi Krita-yuga adalah 4000 tahun surgawi (satu tahun surgawi sama dengan 360 tahun matahari), dan pada awal dan akhirnya, transisi periode masing-masing memperpanjang selama 400 tahun surgawi. Treta-yuga memiliki durasi 3000 tahun surgawi, dan periode transisi setiap 300 tahun terakhir langit .. durasi Dvapara-yuga adalah 2000 tahun surgawi, dan periode transisi yang 200 tahun masing-masing . Kali-yuga berlangsung selama 1000 tahun surgawi, dan memiliki periode transisi dari 100 tahun. dengan demikian, siklus empat yuga memiliki durasi 12.000 tahun surgawi, dan 1000 siklus yuga tersebut merupakan siang hari dari Dewa Brahma. ”

“Yudistira saying , tolong dengarkan seperti yang saya jelaskan gejala Kali Yuga  mendatang. Dengan berjalannya waktu, para brahmana akan mengambil pekerjaan shudras, dan shudras akan berusaha untuk memperoleh kekayaan seperti vaishya. Para brahmana akan menyerah meditasi dan pembacaan Weda sedangkan shudras melakukn  praktek-praktek weda  ini. ”

“Dalam EraKali Yuga, pria menjadi sangat pendek dan lemah dalam hal kekuatan fisik dan energi. Mereka memiliki tubuh kecil dan mereka menyerah bahkan prinsip agama yang tersisa dengan membuat mereka bicara tanpa kebenarn. Dunia menjadi diperintah  oleh Mleccha raja( Raja Palsu ) yang bertindak tidak lebih baik dari perampok. Kemudian, menjelang akhir zaman, populasi manusia mulai berkurang sedangkan hewan menjadi semakin bertambah  dan peningkatan jumlah sampai mereka kerumunan bumi. ”

“Di zaman yang terdegradasi ini, anak-anak lahir kerdil dan tanpa perilaku yang baik. Sebagai hasil dari kehidupan yang penuh dosa, ada kerusakan moral  besar dan kelaparan, dan pelacur terlihat melapisi jalan. Saat era ini , wanita pada umumnya menjadi sangat bermusuhan terhadap suami mereka dan hilang semua rasa kesopanan. Sapi menghasilkan susu sangat sedikit, dan pohon-pohon, bukannya menghasilkan buah berlimpah dan bunga, menjadi tempat duduk bagi kawanan gagak. ”

“Yudistira Sayang , di Jaman Kali, banyak orang menjadi Sadhu imitasi hanya untuk memfasilitasi peningkatan ekonomi, dan Pasraman-Pasraman, Asram-asram, pergurun-pergurun dll  menjadi penuh dengan orang-orang malang yang menganjurkan hidup ketergantungan pada orang lain, seperti parasit. Hujan tidak lagi jatuh di musim yang benar , dan memang , seluruh bumi mulai mengambil pengaruh tindakan  berdosa. dalam era terdegradasi ini, hanya orang-orang yang berdosa berkembang, dan beberapa orang yang Baik dan Jujur  tetap miskin. perilaku berdosa akan menjadi begitu merajalela bahwa itu akan menjadi pemandangan umum bahkan di tempat umum, dan akan menjadi kebenaran Umum bahkan orang-orang dengan kekayaan sedikit akan menjadi sangat bangga dalam usia jatuh ini, karena sedang mabuk oleh akumulasi uang mereka. ”

“Sebagai kemajuan Kali-yuga, gadis akan melahirkan anak-anak pada usia tujuh atau delapan, dan anak laki-laki akan menjadi ayah pada usia sepuluh atau sebelas. Pada usia enam belas, orang akan mulai mengalami gejala tua usia, dan tidak lama kemudian, mereka akan bertemu dengan kematian mereka. ”

Rsi Markandeya kemudian menjelaskan, “Pada malam Dewa Brahma, seluruh alam semesta akan  menjadi salah satu hamparan besar air, dan semua makhluk hidup, termasuk para dewa, tidak lagi nyata. Namun Raja Yudistira, saya satu-satunya orang yang tersisa pada saat itu, dan setelah melihat alam semesta tanpa makhluk hidup, saya menjadi sangat tertekan. yang bisa saya lakukan adalah berjalan melalui hamparan air bah, dan karena saya tidak dapat menemukan tempat peristirahatan, saya menjadi sangat lelah. ”

“Akhirnya, saya melihat sebuah pohon beringin besar dalam air, dan setelah salah satu cabang saya melihat seorang anak yang luar biasa Tampan. Memiliki wajah bulan-seperti, mata seperti kelopak teratai, tanda Shrivatsa di dada-Nya, dan memancarkan menyilaukan cahaya, anak itu duduk di atas sofa surgawi. saya sangat heran memikirkan bagaimana anak ini bisa bertahan dari  kehancuran, dan terlepas dari pengetahuan sempurna saya yang meliputi masa lalu, sekarang dan masa depan, saya tidak bisa mengerti identitas-Nya. ” Siapa Dia?

“Anak itu kemudian tersenyum mengatakan, ‘O Rsi , aku bisa mengerti bahwa Anda sangat lelah. Oleh karena itu, Anda dapat beristirahat di sini selama yang Anda inginkan dengan masuk ke dalam tubuh saya. Saya sangat senang dengan Anda dan jadi saya telah ditunjuk sebagai tempat istirahat Anda. “selama anak itu bicara, terus berbicara, aku bisa merasakan diriku berenang di lautan kebahagiaan, dan dengan akhirnya kehilangan rasa identitas normal saya.”

“Anak itu kemudian tiba-tiba membuka mulut-Nya dan aku tak berdaya masuk ke dalam tubuh-Nya dengan kehendak tertinggi Nya. Akhirnya, setelah datang ke perut anak itu, saya melihat seluruh bumi terletak di sana, dengan semua kerajaan, pegunungan dan sungai-sungai, dan semua penduduk terlibat dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan empat perintah sosial. ”

“Setelah itu, seperti yang saya berjalan-jalan di perut anak itu, saya melihat lautan besar dan langit dihiasi dengan matahari dan bulan. Saya melihat semua gunung besar dan saya melihat semua jenis hewan, Nagas, Yaksha, Daityas dan dewa, dan memang, setiap jenis bergerak dan makhluk. ”

“Hidup hanya pada buah, saya berkelana alam semesta selama ratusan tahun, namun saya tidak pernah menemukan batas dari tubuh anak itu. Akhirnya, ketika saya menjadi sangat cemas, aku mulai menyerah dengan Kepribadian Agung, mengakui bahwa Dia adalah yang sujati dan bahwa saya bawahan-Nya yang kekal. saat itu, angin kuat melempar  saya keluar dari tubuh anak itu, dan dengan demikian sekali lagi saya melihat Dia duduk seperti sebelumnya di cabang pohon beringin, mengenakan kain kuning. ”

“Anak itu kemudian tersenyum mengatakan, ‘O Rsi, Anda telah berdiam di dalam tubuh saya untuk waktu yang lama dan dengan demikian Anda sudah pasti menjadi sangat lelah. Sekarang, untuk mengurangi rasa sakit materi Anda, saya akan mencerahkan Anda dengan pengetahuan tertinggi.” Sebagai anak laki-laki terus berbicara, aku bisa merasakan diriku menjadi terbebas dari ilusi eksistensi material, sementara pada saat yang sama visi spiritual saya terbangun. Dalam kondisi –sadar diri, aku bisa mengerti bahwa anak ini adalah Kebenaran Mutlak, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa , sumber dari segala emanasi, dan master dari seluruh dunia, material dan spiritual. sehingga saya menyembah-Nya kaki lotus kemerahan dengan menempatkan mereka di kepala saya dengan sangat hormat. ”

“Lalu, dengan tangan dilipat, saya katakan, ‘ TUHAN,kau asal semua, termasuk saya sendiri, tolong jelaskan tentang Diri dan energi ilusi Anda. Mengapa Anda tetap di sini sebagai seorang anak kecil? Bagaimana bahwa seluruh alam semesta adalah terlihat oleh saya untuk berada dalam tubuh murni Anda? ”

“Anak itu menjawab, ‘O Rsi, Akulah TUHAN yang kekal, Narayana, yang berbaring di atas air dari Garbhodaka Samudra. Ini Akulah yang pencipta, pemelihara dan perusak segalanya, dan dengan demikian seluruh manifestasi kosmis merupakan bentuk universal ku. saya menjadi bahan pengorbanan,  aku merupakan  penghargaan hasil pengorbanan, dan saya wujud dari Veda. Akulah sebab dari segala sebab, dan Aku yang mempertahankan banyak sekali makhluk hidup sementara mempertahankan penciptaan kosmik. pada berbagai kesempatan, saya menjelma dalam alam semesta, untuk menetapkan prinsip-prinsip agama, serta untuk melindungi para dewa dan memusnahkan setan besar yang tidak dapat dibunuh oleh orang lain. ”

“Selama Malam Brahma, saya menenggelamkan alam semesta ke dalam air pembubaran untuk 1000 siklus  yuga-. Sementara Brahma sedang  tidur, saya menjaga diri dalam bentuk ini sebagai seorang anak kecil. Karena Anda telah menjadi cemas, setelah melihat alam semesta benar-benar terendam air , aku mengambil Anda dalam tubuh saya, untuk menunjukkan kepada Anda bagaimana tiga dunia tetap dilestarikan di sana. Sekarang, sampai saat Brahma sekali lagi terbangun, Anda bisa tinggal di sini dan tinggal dengan damai. “Setelah mengatakan ini, anak itu tiba-tiba menghilang dari tempat itu , dan setelah itu, pada waktunya waktu, saya menyaksikan kreasi dari Brahma. ”

“Sayangku Yudistira, Kepribadian Agung Ketuhanan yang sama kini telah muncul sebagai sepupu Anda, Sri Krishna. Oleh karena itu, jalan terbaik adalah untuk selalu berlindung kepada-Nya dan bergantung pada-Nya sendiri.” “KRISHNA”

RSI MARKANDEYA
Pada saat pralaya, bumi delimuti oleh kegelapan, hujan meteor menyebabkan bumi terbakar, semua mahluk hidup terpanggang api. Ada seorang Rsi yang sedang melaksanakan tapasya, bernama Rsi Markandeya. Kekuatan tapanya menyebabkan beliau tidak tersentuh oleh api. Rsi Markandeya kemudian melihat ada pohon beringin yang juga tidak terbakar, beliau kemudian melanjutkan tapasyanya disana dan memuja Dewa Visnu.
Kekuatan tapasyanya menyebakan hujan turun dengan lebatnya. Banjir dimana-mana.
Tiba-tiba beliau melihat pohon beringin itu mengapung dan disalah satu dahannya ada ranjang keemasan dengan seorang anak kecil yang kemudian berkata :”kau sedang mencari perlindungan, masuklah ke tubuhKu”
Karena bingung Rsi Markandeya memasuki tubuh anak kecil itu melalui mulunya. Disana beliau melihat seluruh alam semesta.
Setelah banjir reda Beliau keluar dari mulut anak kecil. Dan anak kecil itu berubah menjadi Dewa Visnu. Sehabis Pralaya alam , bumi hancur menjadi beberapa pulau dn benua,  Banjir merusak bumi dn membelh bumi menjadi beberapa daratan, Dikisahkanlah Rsi Markandeya tinggal di wilayah Jawa Dwipa sekarang Pulau Jawa.

Rsi Markandeya di Pulu Jawa.

 

                     NAPAK TILAS JEJAK-JEJAK RSI MARKANDEYA

( Sebuah Penelitian Situs )

NAPAK TILAS JEJAK-JEJAK RSI MARKANDEYA
DI GUNUNG RAUNG  R.P.H. SIDOMULYO
DESA JAMBEWANGI KECAMATAN SEMPU KABUPATEN BANYUWANGI

OLEH : TIM PENCARI FAKTA

Ditulis kembali oleh : Mas Tedjo, S. Ag

Tanggal, 01 Januari 2012

 

Kata Pengantar

Om Swastyastu.
Om Awighnam astu namo sidham.
Om Ano badrah keatavo yantu visvatah.
Ya Tuhan, semoga ada dalam keadaan baik, semoga tidak ada aral melintang, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.
Sebagai bentuk rasa kepedulian kami terhadap jejak-jejak peninggalan sejarah yang patut kita lestarikan, maka kami berusaha untuk mengumpulkan keteranngan-keterangan dari beberapa orang penduduk yanng kiranya dapat kami jadikan sebagai sumber bahan untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah. Disamping itu kamipun juga turun ke lapangan untuk mencari, menelusuri serta membuktikan jejak-jejak peninggalan sejarah sesuai dengan keterangan-keterangan yang kami peroleh dari beberapa orang penduduk tersebut. Kami tidak sebatas percaya begitu saja dari keterangan-keterangan beberapa orang penduduk yang berhasil kami himpun. Kami perlu bukti yang otentik atas keterangan-keterangan itu. Dari situlah nantinya kita baru bisa percaya bahwa keterangan-keterangan penduduk itu benar-benar ada dan dapat dibuktikan.
Berangkat dari situlah kami mencoba untuk mengumpulkan keterangan-keterangan dari beberapa orang penduduk yang dapat kami himpun dan bukti-bukti keterangan tersebut telah kami telusuri dilapangan.
Tulisan ini sengaja kami persembahkan kepada para pembaca dengan harapan agar kiranya para pembaca dapat terketuk hatinya sehingga timbul rasa kepeduliannya untuk ikut berpartisipasi dan berperan aktif terhadap pelestarian budaya dan jejak-jejak sejarah warisan leluhur yang patut kita lestarikan. Kami sangat menharap atas keikhlasan hati para pembaca untuk menyumbangkan tenaga, pikiran maupun sebagaian materinya demi untuk pelestarian budaya dan peninggalan sejarah tersebut. Semoga sumbangsih dari para pembaca dan para dermawan senantiasa mendapatkan balasan limpahan anugerah yang berlipat ganda dari Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa.
Om Santi santi santi Om.

Sempu, 16 Oktober 2007
Tim Pencari Fakta
Koordinator

ttd

Drs. SUTRISNO

 

LINGGA DI TENGAH HUTAN PINUS

RIWAYATMU KINI

NAPAK TILAS JEJAK-JEJAK PENINGGALAN RSI MARKANDEYA
DI LERENG GUNUNG RAUNG  R.P.H. SIDOMULYO
DESA JAMBEWANGI KECAMATAN SEMPU KABUPATEN BANYUWANGI

 

Om Swastyastu.
Om Awighnam astu namo sidham.
Semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga tidak ada aral melintang atas karunia Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa.

Berawal dari ceritera penemuan sebuah Patung oleh Pak Agus pada waktu menebang hutan Pinus sekitar tahun seribu sembilan ratus delapan puluhan yang disampaikan kepada kami pada hari Sabtu Wage tanggal 29 September 2007, maka kami segera menindak lanjuti dan membentuk Tim Pencari Fakta Sejarah ( TPFS ) yang terdiri dari 5 orang yaitu :
1. Drs. Sutrisno                :  Koordinator
2. Mas Tedjo, S. Ag         :  Editor
3. Misikan                        :  Pemandu ( Penunjuk Jalan )
4. Rujianto                       :  Dokumentasi
5. Hadi Supoyo                :  Anggota
Hari itu Sabtu Umanis tanggal 6 Oktober 2007, rombongan Tim Pencari Fakta Sejarah mulai bekerja sesuai dengan tugas yang telah disepakati. Perjalanan dimulai dari Dusun Sidomulyo Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi.
Melalui jalan setapak rombongan kami berjalan kaki menelusuri lebatnya hutan Pinus, menyibak semak-semak hutan pakis, menuruni lembah, menyeberangi sungai dan mendaki bukit menuju ke-salah satu pemukiman penduduk di hutan Tlocor dengan maksud untuk menemui salah seorang penduduk yang bernama Pak Agus. Karena menurut keterangan dari dia yang sempat disampaikan kepada kami pada hari Sabtu Wage tanggal 29 September 2007, dialah yang mula-mula menemukan sebuah Patung dari batu dan dua buah batu ukiran bersusun-susun. Kedua buah batu ukiran tersebut pernah dibawa pulang ke Tlocor oleh teman-teman Pak Agus yang kemudian dibuang ke sungai di belakang rumah sekitar sepuluh tahun silam.
Setelah kami sampai di pemukiman penduduk di hutan Tlocor, ternyata Pak Agus tidak ada di rumah. Dia sedang bekerja memungut getah Pinus hasil sadapannya. Sambil menunggu kedatangan Pak Agus, kami sepakat untuk mencari sendiri batu ukiran bersusun-susun yang dimaksudkan oleh Pak Agus yang dibuang di sungai belakang rumah. Adapun patahan ujung batu ukiran tersebut kami temukan di belakang rumah dan kini sudah disimpan di rumah Pak Agus.

Inilah patahan ujung batu ukiran tersebut
Difoto hari Sabtu, 6 Oktober 2007

Selanjutnya kami turun ke sungai di belakang rumah yang disebutkan Pak Agus, merabas semak-semak dan pepohonan kecil lainnya, mengorek-ngorek tanah, menelusuri sungai dengan dibantu oleh salah seorang warga yang bernama Atam. Setelah beberapa lama kami bekerja, ternyata dua buah batu ukiran tersebut tidak berhasil kami temukan . Karena lelah maka kami sepakat untuk istirahat sejenak sambil menunggu kedatangan Pak Agus.
Saat itu salah seorang ibu menuturkan bahwa disebelah Utara di tengah hutan Pinus ada sebuah Watu Lumpang ( Batu berbentuk Lumpang / Lesung untuk menumbuk padi ) yang konon ceriteranya pernah dibawa pulang oleh salah seorang penduduk, namun pada keesokan harinya Watu Lumpang itu sudah kembali lagi ketempatnya semula. Sejak kejadian itulah maka penduduk setempat merasa takut dan tidak berani lagi mengganggu Watu Lumpang itu.
Karena kami merasa penasaran dan ingin tahu keberadaan Watu Lumpang tersebut, maka kami sepakat untuk mencarinya. Akhirnya kami sepakat melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak menelusuri hutan Pinus menyibak semak-semak yang banyak ditumbuhi pohon berbisa yaitu Kemado, Ingas, Lateng dan lainnya, menuruni lembah, menyeberangi sungai, mendaki bukit sambil bertanya pada setiap orang yang kami temui untuk menunjukkan dimana Watu Lumpang itu berada. Sampai pada akhirnya kami bertemu dengan salah seorang penyadap getah Pinus bersama istrinya di tengah hutan. Kami menyampaikan maksud kedatangan rombongan kami yaitu untuk mencari Watu Lumpang. Kami diantar dan ditunjukkan dimana Watu Lumpang itu berada. Ternyata Watu Lumpang itu benar-benar masih ada, namun tanahnya bekas digali-gali oleh orang pencari harta karun. Kami membersihkan tempat tersebut kemudian mengambil gambar dan mengukurnya.

Watu Lumpang di Tengah Hutan Pinus.  Difoto hari Sabtu tgl. 6 Oktober 2007

 

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari jejak-jejak peninggalan sejarah lainnya. Konon katanya disebelah Timur dari tempat tersebut juga ada Watu Lumpang. Kamipun berjalan menyibak semak belukar menuju ketempat tersebut. Setelah sampai disana kami bertemu dengan salah seorang penyadap getah Pinus dan menanyakan tentang keberadaan Watu Lumpang itu. Ternyata dia tidak tahu tentang Watu Lumpang itu. Bahkan dia menunjukkan Watu Lumpang yang pernah dia lihat yaitu yang berada di halaman pemukiman warga di hutan Lateng. Kamipun sepakat melanjutkan perjalanan menuju ketempat tersebut.
Lebih dari satu jam kami berjalan menelusuri lereng gunung Raung mendaki bukit melalui jalan setapak. Walaupun kaki terasa capek dan lelah, nafas ngos-ngosan dibawah terik sinar matahari, kami tetap bersemangat untuk segera mencapai tempat tersebut. Sekitar Pkl. 11.45 WIB. Rombongan kami tiba di pemukiman penduduk di hutan Lateng dan langsung melihat Watu Lumpang yang tergeletak di halaman rumah. Kami mengamati, mengambil gambar dan mengukurnya.

Inilah Watu Lumpang yang diambil oleh penduduk dari hutan Buntaran Gunung Raung

Karena capek dan lelah, kami istirahat di rumah Mbah Sabar alias Pak Nasiha. Kami mengorek keterangan tentang hal ikhwal penemuan Watu Lumpang itu.
Menurut penuturan Mbah Sabar dan Mbok Satemi bahwa Watu Lumpang itu dulu ditemukan dihutan Buntaran yang kemudian dibawa pulang dengan cara digotong rame-rame bersama teman-temannya sekitar tahun 1985. Disamping itu Mbah Sabar dan Mbok Satemi berceritera bahwa di hutan Buntaran itu juga pernah ditemukan benda peninggalan berbentuk piring bersusun-susun yang terbuat dari emas. Benda tersebut ditemukan oleh salah seorang penyadap getah Pinus. Ketika itu ada sebuah pohon Pinus yang roboh tercabut bersama akarnya. Disaat orang tersebut sedang mebersihkan akar-akar pohon Pinus itu tiba-tiba menemukan benda tersebut yang bekasnya tertimbun dalam tanah yang kemudian terangkat bersama akar pohon Pinus yangn roboh tersebut.
Selanjutnya benda tersebut dijual ke seseorang yang pada waktu itu dibeli seharga Rp. 15.000 tapi hanya diambil yang Rp. 10.000,- karena merasa kasihan kepada pembelinya yang dianggap terlalu mahal. Kemudian benda tersebut dijual lagi kepada orang lain dan laku         Rp. 150.000,-  kemudian dijual lagi laku Rp. 500.000,-  dan pada akhirnya dijual ke orang Cina dan dibeli seharga Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). Demikian ceritera Mbah Sabar dan Mbok Satemi. Lanjut ceritera Mbok Satemi, bahwa di belakang rumahnya setiap malem Jumat Legi sering terlihat sebuah benda yang menyala dan bersinar terang sebesar lampu petromak. Tapi Mbok Satemi tidak tahu itu benda apa, karena Mbok Satemi takut untuk mendekatinya, dan sampai sekarangpun benda itu masih sering menampakkan diri.
Disaat kami sedang istirahat, tiba-tiba Mbah Sabar berkata bahwa dirinya juga mempunyai jimat. Kami sempat bertanya “Jimat apa itu Mbah ?”. Mbah Sabar menjawab : “Pokoknya Jimat ini aneh, karena tidak kelihatan orangnya tapi kelihatan giginya”. Serentak kami terkejut dan tertawa bercampur penasaran karena ingin segera tahu jimat tersebut.
Mbah Sabar lalu masuk kekamarnya untuk mengambil jimat tersebut. Begitu keluar dari kamar Mbah Sabar menunjukkan dua buah jimatnya sambil berkata “Ini lho !. Tidak kelihatan orangnnya tapi kelihatan giginya. Ini kan gigi. Ya ini yang disebut ‘Untune bledek’ (Gigin Kilap = Giginya Petir), demikian kata Mbah Sabar.
Setelah kami amati ternyata benda tersebut adalah benda peninggalan sejarah yaitu berupa kapak yang terbuat dari batu hitam yang sangat keras. Konon katanya benda tersebut ditemukan oleh Mbah Sabar ketika baru saja ada Petir yang menyambar pohon pinus sampai terbelah dari ujung sampai pangkalnya. Sesaat kemudian Mbah Sabar mendekati dan mengamati pohon Pinus yang baru saja disambar petir itu. Tiba – tiba Mbah Sabar melihat benda aneh yang menancap ditanah di bawah pohon pinus tersebut. Setelah diambil ternyata benda tersebut adalah sebuah batu hitam yang halus dan keras menyerupai gigi. Dari situlah Mbah Sabar percaya bahwa benda tersebut adalah giginya Petir yang baru saja menyambar pohon Pinus tersebut. Benda tersebut sampai sekarang masih disimpan oleh Mbah Sabar dan dipercaya sebagai jimat karena bisa dipakai untuk mengobati orang yang digigit binatang berbisa yaitu ular, lipan, kalajengking dan sebagainya, dan sudah banyak orang yang berhasil ditolongnya.

Inilah gambar jimat tersebut. Difoto hari Sabtu tgl. 6 Oktober 2007.

Setelah kami mengambil gambar, kami berpamitan kepada Mbah Sabar dengan berpesan agar benda tersebut disimpan baik–baik jangan sampai dijual dan tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih atas semua keterangan yang diberikan oleh Mbah Sabar.
Waktu menunjukkan Pkl. 12.25, rombongan kami kembali menuruni bukit untuk mencari jejak-jejak peninggalan yang lain. Menurut penuturan salah seorang penyadap getah Pinus pernah melihat suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon Andong Puring yang dipercaya bahwa tempat itu adalah bekas pemukiman orang pada jaman dahulu. Kami berlima sepakat untuk mencari tempat tersebut. Akhirnya kamipun kembali masuk hutan menyibak semak belukar dan hutan pakis untuk mencari tempat tersebut. Setelah beberapa lama mencari ternyata tempat tersebut tidak dapat kami temukan. Karena capek dan lelah, kami keluar dari hutan dan istirahat dipinggir jalan setapak di bawah pohon yang rindang sambil membuka bekal seadanya yang sempat kami bawa.
Selesai istirahat waktu itu menunjukkan Pkl. 13.15 WIB. Rombongan kami melanjutkan perjalanan kembali menuruni bukit melalui jalan setapak dibawah terik sinar matahari yang menyengat kulit. Kurang lebih satu jam kami menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Akhirnya kami sampailah di hutan Tlocor pada Pkl. 14.15 WIB. Saat itu Pak Agus yang akan kami temui sedang duduk santai di teras rumahnya. Rupanya Pak Agus baru saja pulang dari kerja memungut getah Pinus. Kami saling menyapa dan berjabat tangan, kemudian istirahat –
bersama di teras rumah Pak Agus. Sambil menikmati teh hangat yang dihidangkan oleh istri Pak Agus, kamipun mulai  minta penjelasan tentang hal ikhwal penemuan patung seperti yang disampaikan oleh Pak Agus beberapa hari yang lalu. Pak Agus memulai ceriteranya antara lain demikian :
“Waktu itu sekitar tahun seribu sembilan ratus delapan puluhan, ketika Pak Agus dan kawan-kawannya menebang hutan Pinus yang pertama kali. Sebelum ditanami pohon Pinus, hutan tersebut adalah hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Pada saat Pak Agus menebang pohon Pinus, begitu pohon yang ditebang itu roboh, rantingnya menimpa benda aneh yang belum pernah dilihat oleh Pak Agus. Setelah didekati dan diamati ternyata benda itu adalah sebuah Patung batu yang duduk bersila diatas tempat duduk yang terbuat dari batu, kedua tangan bersidakep, rambut disanggul di atas layaknya seorang pendeta. Patung tersebut menghadap ke Timur yang diapit dua buah batu ukiran bersusun-susun disebelah kanan dan kirinya kurang lebih setinggi 70 cm. Seketika itu Pak Agus terkejut dan takut karena dikira tempat itu adalah kuburan kuno ( makam orang pada jaman dahulu ). Karena takut akan terjadi sesuatu terhadap dirinya, maka Pak Agus segera membersihkan tempat itu kemudian memagarinya dengan ranting-ranting pohon Pinus.
Sampai siang hari pikiran Pak Agus tidak bisa tenang, rasa laparpun hilang karena pikirannya was-was dan takut jangan-jangan terjadi sesuatu yang akan menimpa dirinya akibat pohon Pinus yang ditebangnya itu roboh menimpa kuburan tersebut. Saat itu juga dia lansung menceriterakan kejadian itu kepada temannya. Begitu mendengar ceritera dari Pak Agus, temannya jadi penasaran ingin tahu kuburan tersebut. Setelah mencarinya kesana kemari ternyata teman Pak Agus itu tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dia kembali lagi pada Pak Agus agar diantar dan ditunjukkan tempat tersebut. Setelah ditunjukkan oleh Pak Agus barulah temannya itu dapat melihat dengan jelas kuburan tersebut, padahal dari tadi dia sudah berputar-putar mencari ditempat itu juga, namun tidak tahu. “Aneh, memang sungguh aneh”. Demikian kata teman Pak Agus.
Selang beberapa hari kemudian datanglah seseorang yang bernama Hama dari Dusun Gunungsari. Katanya dia pernah mendengar berita bahwa ada penemuan kuburan ditengah hutan Pinus. Untuk itu dia datang menemui Pak Agus agar diantar dan ditunjukkan ketempat kuburan dimaksut. Pada hari itu juga oleh Pak Agus orang tersebut diantar dan ditunjukkan ke tempat tersebut.
Pada malam harinya waktu Pak Agus sedang berburu binatang, tiba-tiba melihat cahaya terang ditempat itu. Karena penasaran ingin tahu, akhirnya Pak Agus mendekati tempat tersebut. Setelah sampai disitu ternyata Hama dan kawan-kawannya sudah menggali dan membongkar kuburan tersebut. Melihat kejadian ini Pak Agus tidak jadi berburu binatang, melainkan menunggui Hama dan kawan-kawannya yang sedang menggali tempat tesebut. Pada saat penggalian, patung tersebut dipindahkan oleh Hama, kemudian di bawahnya digali sampai kedalaman kurang lebih 2 meter. Saat itu Pak Agus melihat tatanan batu paras yang tersusun rapi seperti tembok. Namun akhirnya dibongkar oleh Hama dan kawan-kawannya dan dinaikkan ke atas sehingga banyak batu parasnya yang rusak dan patah. Sambil menunggui Hama dan kawan-kawannya membongkar tempat tersebut, Pak Agus selalu memperhatikan dan memandangi Patung itu. Ada perasaan aneh dan sepertinya ada kekuatan gaib pada patung itu. Patung itu terbuat dari batu yang keras dan bersinar gemerlapan ketika tertimpa cahaya lampu petromak. Pak Agus tidak henti-hentinya memandangi Patung itu. Cahaya gemerlapan itu seperti hidup dan bergerak naik turun. Sungguh-sungguh menyenangkan dan memikat perasaan. Pak Agus benar-benar merasa sangat senang dengan patung itu. Tapi Pak Agus takut untuk mengambilnya.
Selanjutnya dalam penggalian itu Hama dan kawan-kawannya menemukan 2 buah emas batangan sebesar korek api gas. Dari situlah Pak Agus baru tahu bahwa Hama itu adalah pencari barang antik atau pencari harta karun. Setelah pagi hari penggalian itu baru dihentikan. Selanjutnya Pak Agus menyuruh Hama dan kawan-kawannya agar mengembalikan batu-batu paras yang dibongkar itu. Dan pada saat itu batu-batu paras tersebut hanya dilempar-lempar begitu saja kedalam lubang galian tersebut tanpa ditimbun kembali. Kemudian Hama memegang Patung itu lalu mengocak-ngocaknya.
Patung tersebut didalamnya seperti berlobang dan berisi sesuatu. ” Waduh ! di dalam ini berisi apa ya ? ” Demikian kata Hama. Namun oleh Pak Agus dilarang agar Patung itu tidak dibawa pulang oleh Hama. Sebelum Hama dan kawan-kawannya itu pulang, Pak Agus diberi uang oleh Hama. Namun Pak Agus tidak mau menerima dan bahkan menolaknya karena Pak Agus takut jangan-jangan menerima akibat yang tidak baik dikemudian hari. Setelah Hama dan kawan-kawannya pulang, Patung itu oleh Pak Agus disandarkan di bawah pohon pisang.
Selang beberapa hari kemudian waktu Pak Agus ketempat itu ternyata Patung tersebut sudah tidak ada ditempat. Apakah diambil kembali oleh Hama ataukah diarnbil oleh orang lain, ataukah memang hilang kemana ? Pak Agus pun tidak tahu dan sampai sekarang Patung itupun tidak karuan dimana keberadaannya.
Hari berikutnya datang lagi pencari harta karun dari Sempolan Jember yang menggali tempat itu pada malam harinya. Demikian seterusnya semakin hari semakin banyak orang yang datang dan menggali diareal tempat tersebut sehingga keadaannya semakin tambah hancur dan berantakan.
Beberapa tahun kemudian setelah hutan Pinus itu ditutup kembali, ternyata Pak Agus melihat Patung itu lagi. Sedangkan pencari harta karunpun masih selalu saja datang silih berganti. Tetangga Pak Agus pun juga banyak yang membawa pulang batu-batu paras untuk dibuat tungku untuk memasak. Demikian pula teman-teman Pak Agus juga pernah membawa pulang 2 buah batu ukiran bersusun-susun untuk dibuat mainan karena bentuknya yang aneh dan indah. Sampai salah satunya ada yang patah ujungnya. Yang sampai kini patahan ujung batu ukiran itupun masih dan disimpan di rumah Pak Agus.
Sampai pada suatu hari datanglah rombongan dari Bali yang diantar oleh Pak Agus ketempat itu. Salah satunya adalah seorang Pemangku. Namun dari Bali daerah mana, Pak Agus pun tidak tahu. Rombongan tersebut mengadakan persembahyangan bersama ditempat itu.
Sejak saat itulah Pak Agus tahu dan percaya bahwa tempat itu bukanlah kuburan seperti dugaan Pak Agus selama itu, melainkan tempat itu adalah tempat sucinya orang Hindu atau Pura.
Sejak kedatangan rombongan dari Bali itulah Pak Agus langsung memberitahukan kepada teman-temannya bahwa batu-batu paras yang dibawa pulang itu adalah bukan miliknya melainkan milik tempat sucinya orang Hindu. Karena takut, seketika itu teman temannya langsung membongkar tungku-tungkunya yang terbuat dari batu-batu paras itu dan menaruhnya di belakang rumah. Sedangkan 2 buah batu ukiran bersusun-susun yang tadinya sering untuk mainan anak-anak itu langsung dibuang ke sungai di belakang rumah.
Waktu kedatangan rombongan dari Bali itu Patung tersebut sudah tidak ada. Seandainya Pak Agus Tahu kalau tempat itu adalah tempat suci, sudah barang tentu Patung itu akan disimpan oleh Pak Agus dan mungkin sampai sekarang Patung itu masih ada.
Tapi apa boleh buat karena pada waktu itu tidak ada orang yang peduli, maka tempat itu kini benar-benar menjadi hancur berantakan karena diacak-acak orang dan Patung itupun hilang tidak tahu kemana rimbanya”. Demikian ceritera yang disampaikan oleh Pak Agus yang berhasil kami kumpulkan.
Waktu terus berjalan bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tempat tersebut sudah tidak diketahui ceritanya lagi. Hutan pinus semakin lebat menjadi hutan rimba belantara. Pada suatu hari di tahun 1996 seorang pengembala kerbau bernama Mas Heri tiba-tiba menemukan tempat tersebut. Mas Heri sangat terkejut dan terheran-heran, mengapa di tengah hutan belantara ada batu-batu paras berukir namun keadaannya sudah berantakan dan penuh lubang-lubang bekas galian disekitarnya? Lama Mas Heri tertegun keheranan, setelah tersadar kemudian Mas Heri punya inisiatif untuk mengembalikan batu-batu paras tersebut ke lubang bekas galian, dan sebagaian dikumpulkan dan ditata agar tidak tampak berantakan.
Setelah menjelang sore dan waktunya untuk pulang, tiba-tiba kerbaunya Mas Heri sebanyak  6 ekor menghilang entah kemana rimbanya. Mas Heri menjadi kebingungan pikirannya kacau balau karena kerbaunya hilang,  kemudian dia mencarinya kesana kemari keluar masuk hutan sampai menjelang malam, namun kerbaunya tidak diketemukan. Apa gara-gara saya mengganggu batu-batu paras tadi sehingga kerbau saya hilang? Demikian Mas Heri berkata-kata sendiri. Kemudian Mas Heri berjanji bila kerbaunya ditemukan kembali dia akan mengirim bunga di tempat tersebut. Dengan perasaan takut, capek, lelah, bingung dan putus asa akhirnya Mas Heri memutuskan untuk pulang kerumahnya dengan resiko sudah tentu akan dimarahi oleh orang tuanya. Setibanya di rumah Mas Heri melaporkan pada orang tuanya bahwa kerbaunya hilang di hutan dan tidak diketemukan. Mendengar laporan itu sontak ibunya Mas Heri memarahinya. Pada malam harinya ibu Mas Heri bermimpi ditemui oleh seorang perempuan, yang meminta dengan paksa pada ibu Mas Heri bahwa anaknya akan dibawa. Dalam mimpi itu ibu Mas Heri melarangnya dan terjadilah cekcok dengan perempuan itu. Saat terbangun, ibu Mas Heri langsung menanyai Mas Heri “Apa yang  kamu lakukan di hutan kemarin pada saat mengembala kerbau?”. Mas Heri menceriterakan bahwa dirinya menemukan batu-batu paras yang telah berantakan di suatu tempat yang banyak lubang bekas galian dan mengembalikan batu-batu paras yang berantakan itu kedalam lubang-lubang bekas galian tersebut. Mendengar penjelasan itu akhirnya ibu Mas Heri menyuruhnya untuk lekas pergi ke tempat itu dengan membawa bunga layaknya orang nyekar di makam. Saat itu pula Mas Heri pergi dengan membawa bunga ke tempat batu-batu paras itu ditemukan. Sesampainya di tempat itu mas hari menghaturkan sajen berupa bunga tersebut dan berdoa kepada Tuhan dan penjaga tempat itu guna memohon maaf mungkin ada kesalahan karena mengembalikan batu-batu paras itu kedalam lubang-lubang bekas galian. Selesai berdoa tiba-tiba kerbau Mas Heri yang hilang kemarin ditemukan di tempat itu yang sedang pada tiduran dengan santainya. Mas Heri merasa senang dan bahagia karena kerbaunya dapat ditemukan kembali. Sejak saat itulah Mas Heri selalu merawat tempat itu dan pada hari-hari penting Mas Heri selalu datang membawa sajen dan bunga untuk nyekar di tempat itu. Hari selanjutnya Mas Heri melaporkan hasil penemuannya itu kepada pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Mendapat laporan itu, Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Genteng segera bertindak untuk melakukan infestigasi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mas Heri. Setelah dilakukan infestigasi ternyata memang benar bahwa di tempat tersebut banyak terdapat batu-batu paras yang berantakan dan berserakan. Setelah diteliti di tempat tersebut ternyata ada sebuah Lingga yang disandarkan di pohon Pinus.
Akhirnya pengurus Parisada menyimpulkan bahwa tempat tersebut adalah merupakan bekas peninggalan tempat suci agama Hindu Siwa. Pengurus Parisada memutuskan untuk mengamankan Lingga tersebut ke Pura terdekat yaitu Pura Sandhya Dharma Dusun Selorejo Kecamatan Genteng. Akhirnya Lingga itu dibawa pulang dan distanakan di Pura itu sampai sekarang.
Kembali pada kisah perjalanan Tim Pencari Fakta.
Waktu menunjukkan Pkl. 15.25 WIB. Kami berpamitan pada Pak Agus dan berpesan agar 2 buah batu ukiran bersusun-susun itu dicari kembali sampai ketemu. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi Petilasan yaitu tempat ditemukannya Patung waktu itu. Kini tempat itu tinggalah bongkahan-bongkahan batu paras yang keadaannya benar-benar sudah hancur berantakan. Kami berlima membersihkan tempat itu karena banyak sampah-sampah berserakan bekas upacara Ritual Siwa Puja pada hari Minggu Kliwon Tgl. 30 September 2007 yang baru lalu. Setelah itu kami berlima sembahyang bersama, kemudian merenung sedih, prihatin dan penuh perasaan menyesal, karena tempat itu kini benar-benar sudah hancur dan tinggalah puing-puing yang tidak berbentuk. Mungkinkah ini sudah menjadi kehendak alam ? Ataukah memang akibat dari kelalaian manusia-manusia yang sudah tidak mau peduli lagi terhadap leluhumya? Lama kami merenung, sampai tidak terasa air mata berlinang membasahi pipi. Oh Hyang Siwa…. semoga kami ditunjukkan ke jalan yang terang.

Inilah Reruntuhan Batu Paras bekas bangunan suci yang dikumpulkan oleh Umat Hindu, dan dipercaya bahwa tempat itu adalah merupakan bekas bangunan suci peninggalan Rsi Markandeya sebagai penyebar ajaran Hindu Siwa. Dengan bukti ditempat itu banyak ditemukan Lingga yang kini distanakan di Pura Sandhya Dharma Dusun Selorejo dan satu buah Lingga serta beberapa batu ukiran sampai saat ini masih diamankan di rumah Hadi Supoyo Dsn. Sumberjo Ds. Jambewangi Kec. Sempu.
Pukul 17.00 rombongan kami sepakat untuk pulang kerumah. Walau badan terasa lelah, capek dan loyo, kami tetap semangat berjalan kaki menelusuri hutan Pinus, menuruni lembah, menyeberangi sungai, mendaki bukit untuk menuju kekampung halaman.
Sekitar Pkl. 18.00 kami tiba kembali di Dusun Sidomulyo kemudian istirahat di rumah Misikan yang ayahnya adalah seorang Pemangku Pura Luhur Rsi Markandeya Dusun Sidomulyo. Sambil menikmati secangkir kopi kami tidak henti-hentinya berceritera mengenang kisah perjalanan tadi. Walaupun badan sudah lelah dan capek seakan tidak terasa, karena kami merasa bangga bahwa perjalanan kami tadi benar-benar penuh makna dan banyak pengalaman yang takkan terlupakan. Akhirnya kami pulang kerumah masing-masing sambil membawa kenangan indah yang terpateri dalam hati sanubari kami.
Tulisan ini kami edit kembali dengan maksut semoga dapat menggugah hati para pembaca untuk ikut berperan aktif melestarikan warisan leluhur yang adiluhung dan suci. Semoga.
Om Santih santih santih Om.

 

Sempu, 16 Oktober 2007

Penulis
ttd
MAS TEDJO, S. Ag

Ditulis kembali oleh : Mas Tedjo. S. Ag
Tanggal 1 Januari 2012.

INILAH BEBERAPA GAMBAR KETIKA TIM PENCARI FAKTA SEDANG MENGGALI BUKTI-BUKTI PENINGGALAN RSI MARKANDEYA DI GUNUNG RAUNG

Salah satu Sumber Tirta Watupecah setelah dibersihkan

Barang-barang kuno yang ditemukan oleh penduduk setempat

DOKUMENTASI TIM PENCARI FAKTA

 

DENAH LOKASI SITUS SIWA LINGGA GUMUK PAYUNG

DI GUNUNG RAUNG R.P.H SIDOMULYO

DESA JAMBEWANGI KECAMATAN SEMPU KABUPATEN BANYUWANGI

JAWA TIMUR

Bila bersumber lontar Markandeya Purana, di tanah Jawa Timur, tepatnya di lereng Gunung Rawang (Rawung, Rahung) ada seorang yogi yang sedang bertapa di pasramannya.
Beliau bernama Resi Markandeya. Beliau berasal dari tanah Shindu-India. Karena itu ia lebih dikenal sebagai Bhatara Giri Rawang kang sakti lan sidhi pangucap. Beliau telah bertapa berpindah-pindah seusai mendirikan pasraman Hindu yang berpindah-pindah pula. Mulai dari Wukir Demalung (Purwalingga, sekarang kota Purbalingga-Jawa Tengah) kemudian ke Gunung Hyang (Iyang) yang termasuk wilayah Prabhalingga, sekarang kota Probolinggo di Jawa Timur. Selanjutnya ke Gunung Rahung, tepatnya di hulu sungai Paralingga (banyak laingga) di wilayah Banyuwangi. Kemudian beliau mendirikan pasraman dan membuka desa di lereng Gunung Agung (lingga acala).

Tatkala Resi Markandeya dari Gunung Rahung pindah ke Gunug Agung, ia disertai para pengiringnya. Pada keberangkatannya yang pertama ini ia diiringi pengikut berjumlah 4000 orang (mungkin 400 atau 40 maksudnya?). Sesampai di Gunung Agung, rombongan ini berkemah dan merabas hutan. Pada kesempatan tersebut banyak pengiringnya yang meninggal karena serangan wabah penyakit. Namun Resi Markandeya tidak berputus asa, beliau kembali ke Gunung Rahung untuk kemudian balik lagi ke Bali membawa 8000 (mungkin 800 atau 80) pengikutnya. Keberangkatan beliau yang kedua ini disertai pula niat untuk melangsungkan upacara Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya yang ditandai dengan penanaman Panca Datu. Setelah menyelenggarakan upacara ini ternyata kemudian beliau berhasil membuka lahan di Bali. Para pengikutnya lantas dibagi dalam puak-puak (bagian atau petak-petak) pakuwuan atau tempat tinggal (perkampungan). Seperti kenyataan sekarang di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar.

Berdasar tinjauan sejarah, sekitar tahun 500 M rombongan pengungsi asal India tiba di wilayah Sumatra Utara yang kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan-kerajaan kecil seperti Kandhari, Pali, Malayu-Sriboja dan lainnya. Antara tahun 682-686 M Dapunta Hyang Sri Jayanaga melakukan ekspansi wilayah dari Malayu Sriboja ke selatan dan utara wilayah Sumatra. Termasuk kerajaan Kandhari dan kerajaan Pali berhasil dikuasainya. Ini menjadikan para bangsawan dan Resi dari kerajaan Pali yang nota bene keturunan India ini menyingkir ke arah timur dengan perahu hingga mendarat di Nusa Goh (Pulau Sapi). Di sini mereka mendirikan kerajaan yang bermula dari desa kecil. Namanya kerajaannya sama dengan sewaktu masih di Sumatra, yaitu kerajaan Pali .. Lama-lama menjadi kerajaan Bali dalam tahun 683 M (Radya-radya ri Bhumi Nusantara I.1. 1984: 64).
Pada tahun 732 M prasasti canggal yang diketemukan di Gunung Wukir Jawa Tengah menyatakan, bahwa Sang Ratu Bumi Mataram, Sri Maharaja Sanjaya secara resmi menjadi raja Pulau Jawa minus tanah Sunda. Walau pun sebelumnya Sanjaya adalah pewaris kerajaan Sunda dari istri pertamanya dan sekaligus pewaris kerajaan Galuh (Tasikmalaya) dari ayahnya yang bernama Sanna (Sena, Bratasenawa). Setelah Sanjaya berhasil menewaskan pamannya bernama Purbasora yang sebelumnya Purabasora ini merebuat tahta Sanna. Tahun 730 M Sanjaya berhasil menaklukkan Sriwijaya, Ligor (Thailand), Hujung Medini (Malaysia Barat). Dan Sanjaya pula yang berhasil menghindukan kerajaan Bali tahun 730 M.

Sang Ratu Sanjaya gemar memelopori dan membudayakan serta mengembangkan ajaran agama Hindu dalam bentuk bangunan lingga yoni. Termasuk prasasti Canggal yang didirikannya. Kiranya dia pula yang menugaskan purohita (Pandita kerajaan), Resi Markandeya pada tahun 730 M pergi ke arah timur untuk mendirikan pertapaan. Beliau bergerak dari pasraman Gunung Wukir (Demalung) tempat di mana prasasti Canggal ditemukan. Berlanjut ke lereng pegunungan Hyang di Purbalingga, lalu ke lereng Gunung Rahung di tepi sungai Paralingga (banyuwangi) kemudian berakhir di Gunung Agung (lingga Acala) tempat Pura Besakih sekarang.

Di lereng Gunung Rahung juga banyak ditemukan barang peninggalan purba di sekitar Girimulya, Kecamatan Glenmore dan di sekitar Tirta Empul Resi Markandeya berupa arca-arca kecil pratima. Di antaranya meliputi, arca perunggu Tri Murti ditemukan tahun 1984, arca Resi Msarkandeya seukuran ibu jari ditemukan tahun 1985, wadah tirta berupa cupu manik dari perunggu, bokor perunggu dua buah, arca perunggu Bhatara Wisnu, arca perunggu Dewi Durga, gentha pandita dan tujuh bilah keris ditemukan tahun 1976. Kemudian ditemukan juga batu untuk mengolah obat dari batu andesit. Dan terakhir ditemukan juga beberapa bilah daun gamelan kuna.

Rsi Markandeya di Tanah Bali.

Rsi Markandeya
Masa sejarah Bali dapat dilihat kembali berawal dari abad ke 8 masehi, pada saat Rsi Markandeya menginjakkan kakinya di Pulau Bali ini. Rsi Markandeya adalah seorang pendeta Hindu Siwa Tattwa yang merupakan aliran yang diyakini oleh mayoritas masyarakat India pada saat itu terutama di tempat asal beliau yaitu di India Selatan.
Dalam catatan perjalannya (Markandeya Purana), dapat diketahui bahwa Rsi Markandeya pertama kali menetap di Gunung Dieng yang termasuk Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah) yang pada saat itu di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu melanjutkan pemerintahan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha.
Kemungkinan pada masa itu terjadi suatu peristiwa (alam) yang luar biasa yang memaksa pusat kerajaan Mataram ini di pindah ke wilayah Jawa Timur sekarang, ada dugaan kuat pada masa tersebut terjadi letusan Gunung Merapi yang sekaligus juga menimbun candi Borobudur dan juga candi Prambanan. Rsi Markandeya juga berpindah ke arah timur, mengikuti pergerakan penganut agama Hindu ke arah Jawa Timur yang kelak membentuk Kerajaan Medang Kemulan yang didirikan oleh Mpu Sendok.
Setelah beberapa saat bemukim di Gunung Rawang, sekarang dikenal sebagai Gunung Raung (Jawa Timur), Rsi Markandeya kemudian tertarik untuk melanjutkan perjalannya ke timur.
Pada masa itu Pulau Bali belum dikenal sesuai namanya sekarang. Pulau ini masih belum banyak diketahui, sebagian pelaut mengira Pulau Bali merupakan sebuah pulau yang memanjang yang menyatu dengan apa yang kita kenal sekarang sebagai Kepulauan Nusa Tenggara. Jadi pada masa itu Pulau Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara dianggap merupakan sebuah pulau yang sangat panjang yang disebut dalam Markandeya Purana sebagai Nusa Dawa/Pulau Panjang.
Pada saat kedatangannya yang pertama dengan menyeberang Segara Rupek (selat Bali) Rsi Markandeya setelah tiba di Bali, misi beliau mengalami kegagalan dimana sebagian besar pengikutnya mengalami kematian ataupun sakit secara misterius. Beliau merasakan aura misterius yang sangat kuat menguasai pulau ini sehingga dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung dan bermeditasi/puja wali untuk meminta petunjuk agar bisa selamat dalam perjalanan ke Bali berikutnya.
Dalam kunjungannya yang kedua, berdasarkan hasil dari Yoga Semadinya, Rsi Markandeya beserta pengikutnya sepakat untuk pertama-tama melakukan upacara suci /Pecaruan untuk keselamatan mereka selama berada di Bali. Beliau memutuskan untuk mengadakan upacara suci tersebut ditempat yang tertinggi di pulau ini yang juga diyakini sebagai tempat yang paling keramat. Mereka kemudian mendaki Gunung Agung yang pada saat itu dikenal dengan nama Toh Langkir. Di kaki gunung itu mereka mengadakan upacara suci yang aktifitas utamanya berupa penanaman Panca Datu, 5 unsur logam yang dianggap paling penting pada masa itu (emas, perak, perunggu, tembaga dan besi).
Pada saat berada di ketinggian Toh Langkir tersebut Rsi Markandeya menyadari bahwa ternyata Pulau Bali hanya pulau kecil sehingga beliau menganggap bahwa nama Pulau Panjang kurang tepat dan menggantinya dengan nama Pulau Bali. Kata Bali sendiri berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India selatan. Bali kurang lebih berarti persembahan, mengingat untuk mendapatkan keselamatan Rsi Markandeya harus mengaturkan persembahyangan/upacara suci terlebih dahulu dalam perkembangan selanjutnya Bali kurang lebih sama artinya dengan Banten pada masa sekarang ini.
Dalam perkembangan selanjutnya Rsi Markandeya memutuskan untuk menetap di Bali dan menyebarkan agama Hindu. Beliau dan pengikutnya kemudian membuka Hutan Taro dan bermukim di tempat yang sekarang di kenal sebagai Desa Taro yang dianggap sebagai desa tertua di Pulau Bali. Di desa tersebut beliau mendirikan Pura Murwa (permulaan) sebagai pura pertama di Bali. Selanjutnya beliau mengembangkan daerah Toh Langkir menjadi areal pura (tempat suci) yang dianggap sebagai Pura Utama di Bali. Pura lainnya yang erat kaitannya dengan Rsi Markandeya adalah Pura Silawanayangsari di Gunung Lempuyang. Beliau juga mendirikan Pasraman di Pura Lempuyang tersebut dan di sini beliau dikenal sebagai Bhatara Gnijaya Sakti. Pada saat sekarang ini dimana masyarakat Bali ingin menelusuri silsilah keluarga mereka – menemukan kawitan mereka, Bhatara Gnijaya, dalam hal ini Rsi Markandeya, dianggap merupakan leluhur dari Klan/Warga Pasek dan menganggap bahwa Pura Lempuyang Madya merupakan kawitan utama dari warga Pasek.
Dari tinjauan sejarah tidak banyak peninggalan tertulis dari Resi Markandeya selain dari pda Lontar Markandeya Purana tersebut dan pura-pura peninggalan beliau.

Bisama/pesan Ida Maharsi Markandeya saka 844 (922M) diwilayah Danau Buyan
PRASASTI Tamblingan yang ditulis pada tahun 844 Saka (922 M), ketika Sri Ugrasena menjadi Raja di Bali menetapkan bahwa wilayah Danau Buyan, Tamblingan dan sekitamya (sekarang dikenal sebagai kawasan Bedugul) adalah kawasan suci. Pada tahun Saka 858 beberapa keturunan Ida Maha Rsi Markandeya yakni warga Bhujangga Waisnawa menetap di Buyan Tamblingan ditugaskan untuk menjaga kesucian kawasan itu. Beliau membangun pura dan pasraman. Raja-rajà dari dinasti Warmadewa berikutnya antara lain Sri Jayapangus di tahun 1177 M dan Sri Bhatara Hyang Hyang Adidewa Paramaswara di tahun 1320 M menguatkan keyakinan kesucian wilayah Buyan-Tamblingan dengan menegaskannya dalam prasasti-prasasti yang berisi “kutukan” (bhisama) bagi pelanggar kesucian. Sejarah mencatat bukti kutukan Bhatara Paramaswara atas pelanggaran kesucian wilayah itu berupa malapetaka yang dahsyat:

1. Hancurnya kerajaan Kalianget yang dipimpin Raja I Dewa Kaleran pada awal abad-16 karena beliau tidak menjaga kesucian kawasan Buyan-Tamblingan (Bedugul).

2. Bencana yang menimpa Kerajaan Buleleng di bawah pimpinan Kyai Anglurah Panji Sakti, karena beliau merusak Pura Batukaru dalam ekspedisi penyerangannya ke Denpasar dan Tabanan pada tahun 1652 M. Beliau lupa pada nasihat Ki Panji Landung ketika berada di pinggir Danau Buyan pada tahun 1611 M.

3. Malapetaka dahsyat berupa tanah longsor dan banjir lumpur tanggal 22 Oktober 1815 (Masehi) yang disebabkan karena jebolnya dinding sebelah utara danau buyan-Tamblingan yang menimbun Buleleng/Singaraja bagian selatan, karena tidak dijaganya kelestarianfkesucian kawasan Bedugul dengan gunung dan danau di sekitarnya.

Tiga Pura Penting
A.
1 Tiga buah Pura Hulun Danu (hulunya/sumber mata air, danau), yaitu Pura
Hulun Danu Beratan, Hulun Danu Bulian dan Hulun Danau Tamblingan, sebagai stana Hyang Widhi (Tuhan YME) dalam manifestasi? Nya sebagai Bhatari Dewi “ Danuh yang memberikan kemakmuran kepada umat manusia berupa kecukupan
bahan makanan bersumber dari hasil pertanian yang subur karena diairi ketiga danau itu. Pura-pura ini dipelihara dan menjadi tanggung jawab subak-subak (organisasi pengairan khas Bali) di wilayah Kabupaten Buleleng, Tabanan, dan Badung.
2 Pura Luhur Puncak Mangu, stana pemujaan Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) dalam manifestasi-Nya Sebagai Bhatara Sambhu, pelindung umat manusia dan segala bentuk malapetaka.
3 Pura Luhur Batukaru, stana pemujaan Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Mahadewa, pelindung umat manusia dari perbuatan adharma (dosa). Pura ini dibangun untuk tempat pertapaan para Maha-Rsi.
4 Pura Luhur Puncak Sangkur, stana pemujaan Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) dalam manifestasi-Nya Sebagai Bhatara Rudra, melindungi umat manusia dari wabah dan segala penderitaan.
5 Pura Teratai Bang, stana pemujaan Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) dalam manifestasiNya sebagai Bhatara Sri yag memberi kemakmuran dan keberhasilan panen.
6 Selain itu di kawasan Bedugul masih ada 35 buah pura yang statusnya sebagai pura milik desa adat, milik keluarga atau klan, dan pura milik perseorangan.

B.

Upacara Wanakertih diadakan setahun sekali di hutan Bedugul yakni di Pura Batukaru, bertujuan mempertahankan kelestarian hutan dan gunung, menjaga agar tetap suci sebagai stana Dewa Wisnu, manifestasi Hyang Widhi Wasa (Tuhan), pemeliharaan dunia.
C.

Upacara mapekelem diadakan setahun sekali di danau-danau Beratan, Buhan dan Tamblingan, hertujuan memohon kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) agar air danau tetap melimpah cukup karena sangat dibutuhkan bagi kehidupan semua makhluk.
D.

Upacara Ngusaba Nini diadakan setahun sekali di Pura-pura Hulun Danu sebagai cetusan rasa syukur dan persembahan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) karena panen hasil pertanian yang baik sehingga manusia dapat menikmati kehidupan wajar.
E

Upacara Ngusabha Desa diadakan setahun sekali di Pura Batukaru, Pura Luhur Puncak Mangu, dan Pura Luhur Puncak Sangkur, memohon kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) agar semua palemahan (bumi) terhindari bencana alam.

Kesimpulan

Tinjauan dari aspek spiritual-religius Hindu-Bali di atas, adalah berkaitan dengan upaya untuk tidak melanggar kelestarian kawasan suci yang menyebabkan nilai sakral gunung, hutan, danau dan pura-pura di sekitar Buyan-Tamblingan akan memudar sehingga mempengaruhi “kesehatan rohani” penduduk Bali yang beragama Hindu.

1. Sejarah telah mencatat bahwa perusakan hutan, gunung dan danau di kawasan Buyan-Tamblingan akan mendatangkan malapetaka yang sungguh hebat karena terkena kutukan yang tertuang dalam prasasti Tamblingan tahun 844 Saka.
2. Tercemarnya kawasan suci, pura, hutan, gunung, dan danau di kawasan Buyan-Tamblingan akan meresahkan penduduk yang beragama Hindu di Bali, karena telah menodai nilai-nilai kesakralan dan keyakinan agama yang telah menyatu pada kehidupan sehari-hari umat Hindu sejak berabad-abad lampau.

Rsi Markandeya Di Wilayah Munduk Taro.

JEJAK MAHA RSI MARKANDEYA DI BUMI PARHYANGAN.
Pura Murwa (Purwa) Bhumi menjadi tonggak pertama kali Maharsi Markandeya menyebarkan ilmu keagamaan, menularkan ilmu teknologi pertanian pada orang Aga yang tinggal di Payangan.

Kecamatan Payangan yang berlokasi di belahan barat laut, Kabupaten Gianyar, selama ini lebih banyak dikenal sebagai daerah pertanian, terutama penghasil buah leci. Satu identitas yang sulit ditampik kenyataannya. Mengingat hanya di Payangan jenis tanaman yang menurut cerita masyarakat Payangan berasal dari ngeri Tirai Bambu, Cina, banyak bertumbuhan.

Di balik potensi pertanian yang dimiliki, kawasan yang berada sekitar 500 meter dari permukaan laut ini ternyata memiliki banyak tempat suci tergolong tua. Satu di antaranya Pura Murwa Bhumi.

Lokasi pura tua ini tak jauh dari pusat kota kecamatan. Kalau Anda berangkat dari Denpasar hendak menuju Kintamani dan mengambil jalur jalan raya Payangan, maka di satu tempat sebelah timur jalan, kurang lebih 500 meter sebelum Pasar Payangan, coba sempatkan melihat ke arah kanan jalan (arah timur). Di sana terpampang dengan jelas papan nama Pura Murwa Bhumi atau masyarakat sekitar ada menyebut Purwa Bhumi. Dalam penjelasan Kelian Dinas Pengaji sekaligus menjadi Kepala Desa Melinggih Kelod, I Made Suwardana, pura yang diempon warga Desa Pengaji ini memiliki pertalian dengan kisah perjalanan seorang tokoh suci Maharsi Markandeya, di tanah Bali Dwipa.

Seperti banyak tersurat dalam lontar atau Purana, di antaranya lontar Markandeya Purana, bahwa sang yogi Markandeya yang kawit hana saking Hindu (yogi Rsi Markandeya berasal dari India), melakukan perjalanan suci menuju tanah Jawadwipa. Beliau sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, lalu berlanjut ke Gunung Di Hyang—kelak Gunung Di Hyang dikenal dengan nama Gunung Dieng, berlokasi di Jawa Tengah.

Dari Gunung Dieng Rsi Markandeya meneruskan perjalanan menuju arah timur ke Gunung Rawung yang terletak di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Di Gunung Rawung sempat membangun pasraman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bali.

Di pulau mungil ini Maharsi bersama pengikutnya merabas hutan dan membangun banyak tempat suci. Di antaranya Pura Murwa Bhumi.

Mengenai Pura Murwa Bhumi, tradisi lisan di Payangan dan sekitarnya menyebutkan, tempat suci ini konon menjadi tempat pertama kali Maharsi Markandeya memberikan pembelajaran kepada para pengikutnya. Penegasan yang cukup masuk diakal, terutama bila dikaitkan dengan nama tempat di mana pura tersebut dibangun, yakni Desa Pengaji.

Besar kemungkinan nama Pengaji diambil dari satu tugas mulia Maharsi Markendya selama berada di Payangan, yakni memberi pengajian (pembelajaran) pada orang-orang. “Kehadiran Pura Murwa Bhumi ada tercatat di dalam prasasti,” sebut Cokorda Made Ranayadnya, tetua dari Puri Agung Payangan, sekaligus pangempon di Pura Murwa Bhumi. Satu di antaranya tertulis dalam prasasti Pura Besakih yang termuat di Buku Eka Dasa Ludra. Dalam buku itu disebutkan secara singkat bahwa ada pura di Payangan bernama Pura Murwa Bhumi. Dulu, warga sekitar sering menyebut Pura Dalem Murwa.

Tak beda jauh dengan penjelasan Cok Ranayadnya. Dalam buku Sejarah Bali Jilid I dan II, karangan Gora Sirikan dan diterbitkan Nyoman Djelada, juga ada menerangkan, kedatangan Rsi Markandeya yang kedua ke Bali dengan mengikutsertakan ribuan orang dari Desa Aga, Jawa. Orang Aga ini dikenal sebagai petani kuat hidup di hutan.
Maharsi Markandeya mengajak pengikut orang Aga guna diajak merabas hutan dan membuka lahan baru. Setelah berhasil menunaikan tugas, maka tanah lapang itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta sebagai pekarangan rumah. Tempat awal melakukan pembagian itu kelak menjadi satu desa bernama Puwakan. Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja, Kecamatan Tegallang, Kabupaten Gianyar.

Tentang pembagian tanah dan kehadiran maharsi di Bali, dalam Markandya Purana ada dijelaskan:
Saprapta ira sang Yoghi Markandya maka di watek pandita Adji, mwah wadwan ira sadya ring genahe katuju, dadya ta agelis sang Yoghi Markandya mwang watek Pandita prasama anangun bratha samadhi, anguncar aken wedha samadhi, mwah wedha pangaksamaning Bhatara kabeh, sang Pandita aji anguncar aken wedha panulaks arwa marana, tarmalupengpuja samadhi, Dewayajna mwang Bhhutayajna, Pratiwi stawa. Wus puput ngupacaraning pangaci aci, irika padha gelis wadwan ira kapakon angrabas ikangwana balantara, angrebah kunang taru-taru, ngawit saking Daksina ka Utara.

Reh sampun makweh olih ngrabas ikang wana balantara, mwah dinuluran swecaning Hyang tan hana manggih pasangkalan, Sang Yoghi Markandya anuduh akenwadwan ira araryanrumuhun angrabas wana ika, tur wadwan ira sadaya, angangge sawah mwang tegal karang paumahan…..,
Artinya:
Setibanya Sang Yoghi Markandya seperti juga para Pandita Aji, bersama rakyatnya semua di tempat yang di tuju, maka segera Sang Yoghi Markandya dan para pandita semuanya melakukan bratha samadi, dengan mengucapkan wedha samadi, serta weda memohon perkenan Ida Batara semua, Sang pandita Aji mengucapkan weda penolakan terhadap semua jenis hama dengan tak melupakan puja samadhi, menyelenggarakan upacara Dewayajnya dan Bhutayajnya, serta memuja Pertiwi. Setelah selesai melakukan pangaci-aci (melakukan upacara), maka seluruh rakyatnya diperintahkan merabas hutan belantara tersebut, menebang kayu-kayu, di mulai dari selatan setelah itu baru ke utara.

Atas perkenan Tuhan Hyang Maha Kuasa, proses perabasan hutan tak mendapat

 

halangan. Karena sudah luas, maka Sang Yoghi Markandya memerintahkan rakyatnya untuk berhenti melakukan perabasan hutan. Yoghi Markandya kemudian membagi-bagikan lahan itu kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tanah tegalan, serta pekarangan rumah.

Usai melakukan pembagian tanah, Maharsi Markandeya kembali melakukan pertapaan di satu tempat yang mula-mula diberi nama Sarwadha. Tempat dimaksud kini menjadi Desa Taro, sedang Sarwadha, kini merupakan lokasi satu tempat suci cukup besar. Sarwadha sendiri berasal dari kata sarwa (serba) dan ada, Jadilah serba ada, artinya di tempat inilah segala keinginan tercapai, lantaran semua serba ada.

Setelah keinginan terpenuhi di Taro, Maharsi kemudian melanjutkan perjalanan serta memindahkan tempat pertapaan ke arah barat. Pada satu lokasi yang masih asri. Di tempat baru itu Beliau mendapat inspirasi (kahyangan) dari Tuhan, makanya lamat-lamat tempatnya dinamakan kahyangan, kemudian berubah lagi menjadi parhyangan, dan kini disebut Payangan.

Tempat di mana rohaniwan mengelar pertapaan dibuat sebuah mandala srta didirikan sebuah sebagai tempat memuja para dewa. Pura dimaksud diberi nama Murwa yang artinya permulaan.

Belum benderang betul kenapa pura yang diberi nama Purwa atau Murwa (kini bernama Murwa Bhumi) disebut sebagai permulaan. Tiada tanda jelas yang bisa dijadikan bukti otentik.

Tapi, bila ditelaah lebih jelas, kata Purwa sama dengan timur atau yang pertama. Di timur pertama kali matahari mulai memancarkan sinarnya yang benderang. Di timur pula bulan kali pertama terbit.

Jika dikaitkan dengan perjalanan Maharsi di Payangan, boleh jadi di Pura Murwa Bhumi-lah dijadikan tempat pertama oleh Maharsi Markandeya bertapa sekaligus memberikan pembelajaran bagi para pengikut menyangkut agama dan cara-cara berteknologi guna memperoleh kemakmuran. Makmur yang dimaksud zaman dulu, jelas menyangkut cara bertani yang baik dan benar sehingga mampu mendapat hasil bagus.

Tempat suci yang diempon warga Desa Pakraman Pengaji, menurut Bandesa Pakraman Pengaji Dewa Ngakan Putu Adnyana, masih memiliki beberapa peninggalan. Di antaranya palinggih babaturan dan Gedong Bang yang menjadi stana Ida Rsi Markandeya. “Dulu ada peninggalan terbuat dari batu yang dinamakan Bedau. Bentuknya menyerupai perahu,” kata Ngakan Adnyana. Dari Bedau itu terus keluar air yang biasa dimohon oleh warga guna dijadikan sarana pengobatan, terutama bila ada ternak yang sakit. Sayang, tinggalan tua itu telah rusak dan sebagai pengingat saja, warga mengganti dengan perahu batu baru.

Selain tinggalan tua berupa palinggih, di Pengaji sampai saat ini masih berkembang struktur masyarakat Bali Aga terutama menyangkut keagamaan, yang dinamakan Ulu Apad (delapan tingkatan), mulai dari Kubayan, Kebau, Singgukan, Penyarikan, Pengalian, pemalungan, Pengebat Daun, dan Pengarah. Warga yang tercatat dalam struktur organisasi tradisional ini akan menunaikan tugas sesuai fungsi dan jabatan yang dipegang.

TAPAK-TAPAK SUCI SANG MAHARSI.
Jejak perjalanan Rsi Markandeya menelusuri tanah Balidwipa, banyak meninggalkan atau ditandai oleh pembangunan tempat suci. Pura itu banyak yang menjadi sungsungan jagat, tak sedikit pula yang di-emong warga desa pakraman.

Tempat-tempat suci yang berhubungan dengan Rsi Markandeya di Bali meliputi Pura Basukian di kaki Gunung Agung (Gunung Tolangkir), tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Semula, lokasi pura merupakan tempat yajnya tempat Rsi Markandeya menanam kendi yang berisi Pancadatu, lima jenis logam mulia. Seperti perunggu, emas, perak, tembaga, dan besi. Tujuannya, supaya Maharsi beserta pengikutnya mendapat keselamatan. Lamat-lamat komplek pura Basukian dikenal dengan nama Besakih.

Berikutnya ada Pura Pucak Cabang Dahat. Tempat suci ini berlokasi di Desa Puwakan, Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini dibangun sebagai tanda pertama kali Maharsi beserta pengikutnya melakukan perabasan hutan setelah menggelar yajnya di kaki Gunung Agung. Setelah sukses merabas hutan, Maharsi Markandeya kemudian membagi-bagikan lahan kepada pengikutnya guna dijadikan pemukiman dan areal pertanian.

Masih di wilayah Desa Taro, Rsi Markandeya juga membangun Pura Gunung Raung, sebagai tempat panyawangan (perwakilan) Gunung Raung yang terdapat di Desa Sugih Waras, Kecamatan Glanmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebab dari tempat itulah pertama kali sang Rohaniwan mendapat wangsit sebelum datang ke Bali.

Di kawasan Ubud ada dua tempat suci sebagai pertanda kedatangan Rsi Markandeya, yakni Pura Pucak Payogan di Desa Payogan dan Pura Gunung Lebah di Campuhan, Ubud, Kabupaten Gianyar.

Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi Markandeya kemudian bersemadi.

Dalam semadinya menemukan satu titik sinar terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada lokasi dimaksud Rsi Markandeya melakukan yoga semadi. Nah, di tempat Maharsi beryoga itulah selanjutnya berdiri Pura Pucak Payogan.

Sekitar dua kilometer arah tenggara Pucak Payogan, tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandeya mendirikan tempat suci Gunung Lebah. Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa mala.

Dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya ada ditegaskan:

  • “Mwah ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa….”
  • Artinya : “Di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga Waisnawa”.

 

Ketika melanjutkan perjalanan ke wilayah Parhyangan (Payangan), sesuai yang tersurat di buku Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini, karangan Gde Sara Sastra, bahwa Maharsi Markandeya juga membangun tempat suci Murwa (Purwa) Bhumi. Pura dimaksud berlokasi di Desa Pakraman Pengaji, dan warga setempat meyakini di tempat itulah Maharsi dari India ini pertama kali (Purwa) memberikan proses pembelajaran kepada para pengikutnya. Pelajaran yang diberikan selain menyangkut agama juga tentang teknologi pertanian.

 

Setelah berhasil memberikan pengajian, termasuk menjadikan masyarakat Aga di Payangan sukses dalam mengelola pertanian, maka sang Maharsi kembali membangun tempat suci yang diberinama Sukamerih (mencapai kesukaan). Letaknya tepat di seberang jalan Pura Murwa Bhumi.

Sesuai penjelasan Bandesa Pakraman Pengaji, Dewa Ngakan Putu Adnyana, kedua pura tadi oleh

 

warga Pengaji diyakini ada saling keterkaitan. Maka, upacara keagamaan juga dilaksanakan secara bersamaan.

Pura Pucak Payogan,adalah Tempat Yoga Semadi Mahayogi Markkandeya. Dan Tempat ini tempat beliau moksa sebagai akhir penjalanan Dharmayatra beliau.

 

 

Rsi Markandeya Di Tanah Lombok .

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya dan Ida Rsi Madura Di Tanah Lombok Dan Sekitarnya.

 

Setelah memastikan pulau Bali merupakan titik sinar yang beliau lihat pada waktu bersemedi di Gunung Raung Jawa. Maka untuk memastikan suatu saat nanti di masa depan pulau Bali akan tetap menjadi pulau yang suci, maka Ida Maharsi Markandeya berusaha melindungi pulau Bali dengan cara memagari pulau Bali dengan sinar-sinar suci.

Proses pemagaran pulau Bali ini terkait dengan penanaman panca datu di beberapa pulau yang mengelilingi pulau Bali. Tujuan dari penanaman panca datu di pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali ini adalah dengan tujuan jikalau suatu saat sinar kesucian pulau Bali mulai meredup akibat pola prilaku sekala-niskala dari penduduk Bali yang mulai tidak sesuai dengan kaidah Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana maka sinar-sinar suci dari pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali inilah yang akan memberikan sokongan energi supaya energi kesucian pulau Bali tetap terjaga.

Singkat cerita, dalam tulisan ini Guru Made memfokuskan pada perjalanan Ida Maharsi Markandeya ke tanah Lombok dalam rangka menanam panca datu dan dalam rangka menandai titik-titik spiritual di tanah Lombok yang suatu saat akan menjadi sumber energi spiritual yang bukan hanya akan menjaga keseimbangan pulau Lombok dan sekitar akan tetapi juga akan menjadi cadangan energi spiritual untuk pulau Bali jikalau pulau Bali sudah mulai kotor.

 

Jejak perjalanan Ida Maharsi Markandeya ditanah Lombok diawali lewat Nusa Penida. Setelah menandai titik-titik spiritual di Nusa Penida seperti Puncak Mundi, Puncak Tunjuk Pusuh, Puncak Tinggar, Dalem Ped, Giri Putri, Sekar Taji dll, Ida Maharsi Markandeya melanjutkan perjalanan beliau ke pulau Lombok.

Di pulau Lombok ini beliau pertama kali beryoga semadi di puncak Gunung Sari (sekarang menjadi lokasi pura Gunung Sari, Lombok), disini Ida ditemani oleh putun Ida yang bernama Ratu Ayu Manik Tirta Mas.

Kemudian setelah itu beliau beryoga semadi di puncak Baliku (sekarang menjadi lokasi pura Puncak Baliku), disini Ida ditemani oleh istri beliau yang bernama Ida Ratu Niang Sarining Suci. Setelah itu beliau lanjut menandai titik Gunung Pengsong.

Di Gunung Pengsong beliau bertemu dengan seorang wanita cina yang jaman sekarang dikenal dengan Ida Ratu Niang Gunung Pengsong atau ditanah Bali dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Di Gunung Pengsong ini Ida Hyang Maharsi Markandeya melakukan kawin kesaktian dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Jadi selama bertapa di Gunung Pengsong ini Ida Maharsi Markandeya ditemani oleh Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Tempat pertapaan beliau ini yang pada jaman sekarang ini menjadi cikal bakal Pura Puncak Gunung Pengsong. Taksu hasil kawin kesaktian dari Ida Maharsi Markandeya dan Ida Hyang Dewi Anjani di Gunung Pengsong ini merupakan taksu kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan.

Setelah menyelasaikan proses pembangkitan sinar suci di Gunung Pengsong kemudian Ida Maharsi Markandeya ditemani dengan Ida Hyang Betari Dewi Anjani melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Rinjani.

Di Puncak Gunung Rinjani ini Ida Maharsi Markandeya mengumpulkan energi dari semua titik sinar suci di pulau Lombok yang suatu saat jika diperlukan akan dikirim ke pulau Bali untuk menjaga kesucian pulau Bali. Di puncak Gunung Rinjani ini Ida Hyang Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar kesucian yang beliau dapat di pulau Lombok. Akibat dari hasil penunggalan semua sinar suci pulau Lombok ini maka di Puncak Gunung Rinjani, Ida Betara Lingsir Maharsi Markandeya dikenal dengan Ida Hyang Lingsir Maharsi SUKMA JATI.

Setelah Ida Maharsi Markandeya merasa cukup membangkitkan titik kesucian pulau Lombok, kemudian beliau berencana melanjutkan perjalanan meninggalkan pulau Lombok menuju Gunung Tambora. Untuk tetap menjaga kesucian pulau Lombok khususnya setelah ditinggalkan oleh beliau maka Tongkat Komando Penguasa pulau Lombok diserahkan kepada Ida Hyang Betari Dewi Anjani. Karena tugas yang maha berat ini kemudian Ida Maharsi Markandeya menunggalkan semua sinar suci yang telah dikumpulkan selama masa pertapaan Ida dan Hyang Dewi Anjani dari pertapaan di Gunung Pengsong sampai puncak Gunung Rinjani.

 

Hasil penunggalan/pemurtian sinar suci ini kemudian menyebabkan Ida Hyang Betari Dewi Anjani bergelar IDA HYANG BETARI AMBUN JAGAT. Gelar ini mencerminkan bahwa Ida Hyang Betari Dewi Anjani adalah pengayom dan pelindung jagat Lombok dan sekitarnya. Sehingga sampai saat ini yang diyakini berstana dan merupakan betara lingsir puncak Gunung Rinjani Lombok adalah Ida Hyang Betari Dewi Anjani.

Sepeninggal Ida Maharsi Markandeya, suatu saat ratusan tahun kemudian atas petunjuk spiritual yang diberikan oleh Ida Maharsi Markandeya, datanglah Sahabat spiritual beliau yaitu Ida Hyang Mpu Siddhimantra bertapa di puncak Gunung Rinjani untuk melanjutkan tugas Ida Maharsi Markandeya. Jadi di atas puncak Gunung Rinjani secara garis besar terdapat tiga Ida Betara Lingsir yang menjadi pengayom dan penjaga kesucian Gunung Rinjani yaitu : Ida Hyang Lingsir Maharsi Sukma Jati yang merupakan penunggalan dari Ida Maharsi Markandeya, Ida Hyang Betari Lingsir Ambun Jagat yang merupakan penunggalan dari Ida Hyang Betari Dewi Anjani dan Ida Hyang Mpu Siddhimantra sebagai pelaksana teknis dari Gunung Rinjani.

Setelah menyelesaikan penandaan dan pembangkitan sinar-sinar suci di pulau Lombok kemudian Ida Hyang Maharsi Markandeya berdasarkan petunjuk yang didapat di puncak Gunung Rinjani kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Tambora. Berdasarkan petunjuk yang didapat dari puncak Gunung Rinjani, meskipun Gunung Tambora tidak berbatasan langsung dengan pulau Bali, akan tetapi jika tidak ditandai dan dibangkitkan sinar sucinya maka Gunung tersebut suatu saat akan bisa menghancurkan pulau Bali, ini terbukti dengan terjadinya letusan paling dasyat di muka bumi ini yaitu pada tahun 1881 dimana efeknya ikut meluluhlantakan kehidupan di Bali.

Singkat cerita Ida Maharsi Markandeya sampai ke puncak Gunung Tambora, disini beliau bertemu dengan seorang wanita yang nantinya akan menjadi istri beliau di puncak Gunung Tambora beliau bernama Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan. Ida Hyang Betari Ibu Dewi Wulan sepeninggal Ida Maharsi Markandeya dari puncak Gunung Tambora, kelak kemudian hari juga dikenal dengan nama Ida Hyang Betari Bhujangga Suci. Atas tugas dari alam semesta untuk melindungi Gunung Tambora, sehingga ditempat ini Ida Maharsi Markandeya menanam pancer berupa manik-manik yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan Gunung Tambora. Atas tugas inilah alam semesta memberi gelar Ida Betara Lingsir Pancer Manik Tunggul kepada Ida Maharsi Markandeya sebagai Betara Lingsir Puncak Gunung Tambora. 

Sama seperti Ida Hyang Mpu Siddimantra yang dipanggil oleh Guru Niskala Ida yaitu Ida Hyang Maharsi Markandeya untuk melanjutkan menjaga kesucian puncak-puncak di tanah Lombok maka sama seperti halnya Ida Hyang Maharsi Madura. Ida Maharsi Madura dipanggil ratusan tahun berikutnya ke tanah Lombok untuk melanjutkan tugas Maharsi Markandeya untuk menjaga kesucian pulau Lombok. Akan tetapi, Ida Maharsi Madura dalam kapasitas sebagai Ida Rsi Dalem Segara, hanya ditugaskan untuk menjaga kesucian laut Lombok.

Titik yang dipilih oleh Ida Rsi Madura dalam mendoakan dan menjaga kesucian laut-laut di pulau Lombok, pada jaman sekarang ini dikenal dengan PURA BATU BOLONG. Setelah jaman Ida Maharsi Markandeya, Ida Mpu Siddimantra dan Ida Maharsi Madura barulah ratusan berikutnya datang Ida Peranda Sakti Wawu Rauh atau yang nantinya di Lombok dikenal dengan Tuan Semeru.

 

Mantram Trayambakam

 

Mantra Ini di sabdakan pada saat Guru Made Berguru niskala dengan Ida Hyang Rsi Makandeya  di Pura Pucak Payogan.-Ubud.  Ada dua  Mantra berbeda fungsi yang di sabdakan ke Guru Made Sumantra yaitu:

1.Mantra Rahasia Rsi Markandeya sebagai penghalang kematian.

OM TRYAMBAKAM YAJAMAHE SUGANDHIM PUSHTIVANDHANAM;
URVAARUKAMIVA BANDHANAAN MRITYORMUKSHEEYA MAAMRITAAT.

(Mantra ini hanya untuk menghambat kematian).

 

2.Mantra Rahasia Rsi Markandeya sebagai penghalang kebangkrutan, kesusahan hidup, dosa, penyakit dan gangguan Roh jahat.

OM TRYAMBAKAM YAJAMAHE SUGANDHIM PUSHTIVANDHANAM;
URVAARUKAMIVA BANDHANAAN MARCHO MUKTI YAMA MERTHA.

(Mantra ini hanya untuk menghambat kebangkrutan, kesusahan hidup, dosa, penyakit dan gangguan Roh jahat).

 

Mantra Tryambakam ditemukan oleh Rsi Markandeya. Merupakan Mantra rahasia, dan Rsi Markandeya adalah satu-satunya di dunia yang tahu mantra ini. Mantram ini ditujukan kepada Rudra sebagai Mrityunjaya ditemukan dalam Kitab Rig-Weda. Mantra ini memiliki banyak nama dan bentuk, disebut mantra Rudra mengacu kepada Dewa Siwa, Tryambakan mengacu kepada Tiga Mata Siwa, kadang dikenal juga sebagai mantra Mrita-Sanjivini. Maha Mrityunjaya mantram ini dipuji oleh orang bijak sebagai jantung dari Veda. Seiring dengan Mantra Gayatri memegang tempat tertinggi di antara mantra yang digunakan untuk kontemplasi dan meditasi. Arti Mantra Tryambakam: Bermata Tiga, Kita bermeditasi kepada-Mu, Yang menembus dan memelihara semua seperti wewangian. Semoga kita dibebaskan dari kekuatan penyakit, perbudakan dan kematian demi keabadian.

Mantra Tryambakam disebut juga dengan Mantra Maha-Mertyunjaya (Mrityunjaya) adalah mantra untuk pangurip (anuggrah jiwa-kehidupan). Disamping itu, mantra tersebut mempunyai daya perlindungan yang besar, penyakit-penyakit yang dinyatakan tak tertangani secara medis (dokter), dapat diobati dengan mantra ini, apabila mantra di-uncar-kan (disebutkan secara manasika, upamsu maupun vacika) dengan sungguh-sungguh, jujur dan taat. Mantra tersebut merupakan senjata melawan penyakit-penyakit serta menaklukan kematian.

Mantra Tryambakam/Mantra Mrityunjaya adalah juga mantra-moksha, mantra-Nya Siwa. Selain untuk memohon berkah mohksha, mantra itu juga memohon kesehatan (Arogya), panjang umur (Dirgha Yusa), kedamaian (shanty), kekayaan (Aiswarya), kemakmuran (Pushti), dan memuaskan (Tushti).

Pertemuan Guru Made Sumantra Kecil secara Gaib dengan Rsi Markandeya.

Sederhana begitulah sebuah kata yang tepat menggambarkan sosok seorang guru spiritual ini secara menyeluruh. Ramah, murah senyum, humoris, santun, baik tutur katanya merupakan sikap yang muncul dari kesederhanaannya. Penampilannya yang sederhana dengan gaya bicara yang terkadang lugu membuat kita tidak percaya bahwa ia adalah sosok yang luar biasa. Guru Made Sumantra, nama itu mungkin sudah tidak asing lagi dikalangan praktisi yoga. Ya, Guru Made Sumantra yang akrab disapa  Guru Made adalah seorang yogi, guru spiritual sekaligus seorang penyembuh yang lahir di Banjar Payogan, dekat dengan Pura Puncak Payogan, Ubud , Bali. Beliau lahir pada tanggal 31 Desember 1970 anak kedua dari pasangan I Wayan Darpa dan Ni Nyoman Suandi. Di usianya yang kini genap berusia 43 tahun, Guru Made masih menekuni Yoga. Yoga sudah menjadi bagian dari hidupnya, dengan kata lain yoga ibarat nafas bagi Guru Made. Guru Made mulai menekuni yoga sejak kecil, yaitu sekitar 35 tahunan. Oleh karena itu kemahirannya dalam hal mengajar yoga dan menyembuhkan penyakit sudah tidak diragukan lagi.

Amanat untuk menerima ajaran

Saat itu, Guru Made Sumantra adalah seorang siswa yang sedang duduk di bangku kelas 2 sd. Seperti anak-anak pada dasarnya, Guru Made Sumantra sangat gemar bermain. Rumah Guru Made dekat dengan sebuah Pura, yang bernama Pura Pucak Payogan. Di dekat Pura itu ada sebuah hutan. Guru Made dan teman-temannya menyebut hutan itu dengan sebutan hutan Pura Pucak Payogan karena tempatnya yang berdekatan dengan Pura Pucak Payogan. Di hutan itulah Guru Made dan teman-temannya sering bermain. Guru Made sangat senang bermain ke hutan itu, karena disana terdapat sebuah pohon, yang bernama POHON KELINCO. Pohon inilah yang kebanyakan tumbuh di Hutan Pura ini, Batangnya melilit ke segala arah bagaikan Ular Naga  tanpa ujung. Anak – Anak sering duduk di satu batang sambil tidur dan makan buah kelinco yang berwarna merah dan asam.

Setiap hari Guru Made dan teman-temannya bermain di Hutan itu hingga matahari tak lagi terlihat. Suatu hari, Guru Made melihat seorang kakek sedang duduk di samping batu. Kakek itu hanya mengenakan kamben putih. Wajahnya sangat tampan dan bercahaya dengan janggut putih yang cukup panjang tumbuh mengelilingi dagunya. Dengan lugunya, Guru Made mendatangi kakek itu dan bertanya sembari menawarkan buah Kelinco.

“ Kak ngujang to ?  kak uli dija? Artinya, kakek ngapain itu, kakek dari Mana? tanya Guru Made sembari menwarkan buah kelinco yang dipetiknya. Kakek itu hanya tersenyum sambil memandangi batu di depannya. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Karena tidak menjawab, akhirnya Guru Made pergi meninggalkan kakek itu dan kembali bermain dengan teman-temannya. Mungkin kakek itu tuli, pikir Guru Made sembari bermain bersama teman-temannya. Karena penasaran terhadap kakek itu, Guru Made mencari ide untuk menarik perhatian kakek itu. Akhirnya Guru Made dan teman-temannya memutuskan untuk  mengejek kakek itu tuli, lalu mengucapkannya terus menerus secara berulangagar kakek itu mau berbicara. Upaya Guru Made dan teman-temannya gagal. Kakek itu  tetap diam. Rasa penasaran Guru Made semakin dalam. Lalu,  Guru Made memutuskan untuk mendekati kembali kakek itu. Di dalam pikirannya, Guru Made berpikir mungkin kakek ini lapar. Ditawarkanlah sebuah buah kelinco lagi kepada kakek itu. 

“ Kak pasti seduk ne, demen ajak klinco alihange jek”, artinya kakek pasti lapar ini, senang dengan Kelinco? Saya akan carikan untu kakek”, kata Guru Made kepada kakek itu. Guru Made heran, karena kakek ini hanya diam saja tidak menjawab satu pertanyaan pun dari Guru Made. Ternyata kakek ini dilihat juga oleh dua orang temannya, I Wayan Pugeg dan I ketut Trunyan. Karena penasaran dengan apa yang dilakukan Guru Made kepada kakek itu, merekapun ikut mendekat.

“Ning, nyep yen sube mulih timpale onya, cening buin mai ajak telu nah?”, Artinya Cucu kalau nanti temannya sudah pulang semua, nanti kembali lagi kemari ya?”, kata kakek itu. Guru Made beserta dua orang temannya terkejut sekaligus heran karena kakek itu tiba-tiba mau berbicara. Dengan segera Guru Made menjawab,” ah sube peteng ne adane kak, sing Bani dini”, artinya sudah petang kakek tidak berani disini. Kakek itu menjawab, “nah kak antosang dini, Ya kakek Tunggu disin, nanti kakek kasi upah”.

Guru Made beserta dua orang temannya mengikuti suruhan kakek itu. Setelah semua teman-teman pulang, Guru Made bersama dua orang temannya yang juga ditunjuk oleh kakek itu kembali datang. Setibanya di sana, kakek menyuruh mereka bertiga untuk duduk di depannya.

Kakek itu mulai bercrita. Guru Made dan kedua temannya mendengarkan cerita kakek dengan saksama. Kakek bercerita, bahwa ia tinggal di sebuah batu besar di hutan sambil menunujuk ke arah batu besar. Guru Made tertawa, sambil berkata “ saya dan kakek saya sering ke tempat ini, tapi tidak pernah melihat rumah  di sini, hanya hutan saja.

Kakek tersenyum sambil melihat Guru Made dan dua orang temannya. Karena ingin membuat Guru Made percaya, Kakek itu memperlihatkan rumahnya. Kakek menyuruh Guru Made dan temannya melihat ke arah batu yang sangat besar. Mereka melihat ke arah batu yang di tunjuk kakek. Guru Made dan temannya terkejut melihat batu yang di dalamnya terdapat rumah dengan cahaya warna-warni. Guru Made beserta dua orang temannya pun merasa takut dan memutuskan untuk pulang. Tetapi, si kakek mengerti perasaan Guru Made dan temannya. Ia menyuruh Guru made dan temannya untuk tidak takut. Justru kakek itu berjanji akan mengajari mereka bertiga agar bisa membuat rumah seperti rumah kakek itu. Bukannya semakin tenang, Guru Made dan temannya malah semakin takut. Namun Guru Made dan kedua temannya tidak bisa pulang karena Kakek menahan Guru Made dan temannya.

 

Cucu bertiga adalah orang-orang pilihan, kata kakek itu. Guru Made dan temannya bingung tidak mengerti apa maksud ucapan kakek itu.

Kenapa kakek memilih kami bertiga? kan masih banyak  teman-teman kami, kenapa tidak semua saja dipilih jadi banyak yang kami ajak bercanda?,”Tanya Guru Made kepada kakek.

 Kakek menjawab,” tidak. Cucu di pilih Karena Cucu adalah keturunan teman kakek dan keturunan murid kakek. Mendengar itu Guru Made dan temannya semakin bingung. Sambil tertwa, mereka mengatakan kakek itu gila. Karena Guru Made masih mempunyai kakek dan kakeknya masih hidup. Namanya I Sepel. Mendengar jawaban Guru Made kakek itu hanya tersenyum.

Kakek berkata, “ kalau cucu mau belajar , kakek akan ijinkan lagi mencari buah kelinco, kalau tidak mau, tidak kakek ijinkan lagi. Guru Made dan teman-temannya kesal. Karena bagi mereka Kelinco ini kan bukan milik kakek itu, melainkan memang tumbuh di hutan.

Besoknya setelah pulang dari sekolah, seperti biasa anak-anak pergi ke Hutan Pura Pucak Payogan untuk mencari buah kelinco. Tanpa basa -basi anak-anak masuk ke hutan sambil bersenda gurau. Guru Made kaget, ketika melihat Pohon Kelinco tidak ada buahnya. Semua anak-anak bingung. Tiba-tiba Guru Made teringat Kata kakek kemarin. Tapi Guru Made tidak berani, menceritakannya kepada teman-temannya. Karean Buah kelinco yang merka cari tidakada, maka mereka semua memutuskan untuk pulang.

Ketika hendak pulang, munculah kakek secara tiba-tiba, dan berkata, “Ning, biarkan temannya Pulang Cening Bertiga, diam disini. Mereka bertiga diam dan teman-teman yang lain dibiarkan pulang. Kakek berkata lagi,” Ning apakah buah kelinconya ada? Guru Made menjawab dengan nada kesal. Tidak ! katanya ketus. Akhirnya Kakek memberi tahu kepada mereka bertiga, jika ingin buah itu muncu lagil, mereka harus mau belajar bersama kakek itu. Karena Guru Made mingin buah kelinco ini terus ada , akhirnya mereka menyanggupi keinginan kakek.

Sambil kembali bertanya pertanyaan yang sama. “Kenapa kakek memilih saya, bukan teman yang lain?”. Kakek mejawab, karena cening adalah keturunan Teman kakek, dan murid kesayangan kakek. Guru Made semakin bingung, apa maksud kakek itu. Siapa itu kek. ?tanya Guru Made. Kakek menjawab, Teman kakek itu bernama Empu Sidhimantra dan Murid kesayangan kakek bernama Manik Angkeran, Cening bertiga adalah keturuannnya di banjar dekat rumah kakek ini. Maksudnya keturunan apa kek? Cening adalah keturuanan Arya Wang bang Pinatih, yang merupakan Keturunan Empu Sidhimantra.

Dari sanalah kisah berawal. Guru Made Sumantra adalah keturunan Arya Wang Bang Pinataih. Sejak kecil Guru Made memang sangat tertarik dengan hal-hal yang bersifat gaib. Sejak diberikan amanat oleh kakek itu, Guru Made jadi sering pergi ke Pura Pucak Payogan. Hingga Guru Made dikatakan aneh oleh orang sekitarnya karena selalu menghabiskan waktunya menyendiri di dalam Pura Pucak Payogan. Guru made merasakan suasana yang berbeda di dalam Pura tersebut.  Orang lain tak mengerti apa yang Guru Made rasakan di dalam Pura itu. Setiap hari dari kecil, guru  selalusembahyang dan bertapa di dalam Pura ini. Pada saat itu Guru Made kurang mengetahui  apa itu Yoga, spiritual dan tidak bisa menjelaskannya, yang Guru Made tahu ia selalu ditarik oleh kekuatan Pura Itu. Kakek tua dengan jangut putih dan tebal itulah yang memberikan Guru Made tuntunan secara gaib, ini terjadi setiap hari sampai saat ini. Guru Made sampai tak malu di cap gila oleh masyarakat sekitar.  Akhirnya secara gaib pula kejadiannya, Kakek itu memberikan Guru Made uang yang isinya adalah inti ajaran spiritual, ini bagaikan buku suci yang beliau kasih untuk menuntun Guru Made. Uang ini sampai sekarang masih ia simpan di ruang meditasinya. Isi pelajaran dalam uang itu, memberikan tuntunan mengenai ajaran, Yoga . Inilah yang melahirkan Yoga Bali yang Guru Made ajarkan saat ini.

Ketika itu Guru Made tidak mengetahui siapa kakek-kakek berjanggut putih itu. Ia hanya belajar dan belajar dengan kakek itu. Setelah ia beranjak dewasa, Guru Made mulai membaca buku-buku spiritual dan ketika membaca salah satu buku spiritual ia melihat gambar kakek berjanggut putih itu disebuah buku. Rasa penasaran pun datang, Guru Made membaca buku itu dan akhirnya ia menemukan informasi tentang kakek-kakek berjenggot putih yang ia temui di Pura Pucak Payogan. Ternyata Guru Made  baru mengetahui bahwa kakek itu bukanlah kakek biasa. Melainkan kakek tampan itu adalah seorang Mahayogi yang Moksa di Pura Pucak Payogan. Guru Made saat itu sangat terkejut. Ia tidak mempercayai hal itu. Dijelaskan bahwa kakek itu ialah Hyang Rsi Markandeya.

More information in english see link:

http://wijayajournal.blogspot.com/2009/04/strory-on-resi-markandya-trip-to-bali.html

Belajar Yoga Hyang Rsi Markhandya

Silahkan Hubungi:

Contac Us:

Guru Made Sumantra

Address: Lungsiakan Rd, Kedewatan, Ubud, Bali, Indonesia.

www.yogahealingbali.com

Email: info@yogahealingbali.com

Call: 087861187825


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s