PASRAMAN MARKANDEYA YOGA.

1452061_487973504649252_487945102_n

Semua anak sejatinya terlahir jenius (pintar dan cerdas), tetapi anak-anak menghabiskan enam tahun pertama kehidupan mereka dengan menghilangkan kejeniusannya, begitu kata Buckminster Fuller. Alasannya, setiap manusia memiliki potensi cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai kebenaran, rasa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan tentang nilai keindahan, dan karsa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan tentang nilai kebaikan. Potensi ini berkembang bila disertai pendidikan, dengan kemampuan pengetahuan yang benar manusia akan berusaha menjaga dan mengembangkan kelangsungan hidupnya. Lingkungan dan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak.

Berbicara masalah pendidikan, seperti dijelaskan dalam UU sesdiknas Nomor 20 Tahun 2013 yang menguraikan bahwa Pendidikan adalah merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangakan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan memiliki fungsi dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk perkembangan, potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pengertian pendidikan dalam berbagai bahasa di dunia seperti dikutif dari Wikipedia, disebutkan seperti dalam bahasa Yunani, dijelaskan bahwa pendidikan berasal dari kata padegogik yaitu yang diartikan sebagai ilmu menuntun anak. Dalam bahasa Romawi pendidikan diartikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang di-bawa waktu dilahirkan di dunia. Sedangkan dalam bahasa Jerman, mengartikan pendidikan sebagai Erziehung yang sepadan dengan pengertian educare, yaitu membangkitkan kekuatan terpendam yang bertujuan mengaktifkan kekuatan atau potensi anak.

Dari pengertian-pengertian diatas selanjutnya di analisa, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, serta dalam interaksi alam beserta lingkungannya.

Dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam agama Hindu, PP. NO. 55 Pasal 38 Ayat 1 Tahun 2007 menerangkan bahwa pendidikan agama Hindu merupakan pendidikan berbasis masyarakat yang diselenggarakan dalam bentuk pasraman, Pesantian, dan bentuk lain yang sejenis. Pasraman sebagai lembaga pendidikan hindu memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan agama Hindu. Kata pasraman berasal dari kata “asrama” (sering ditulis dan dibaca ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau pendidikan.

Pendidikan pasraman menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain. Begitu pula, merujuk Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 56 Tahun 2014, tentang pendidikan agama Hindu, sistem pendidikan yang disepakati adalah Pendidikan Keagamaan. Kata Pasraman digunakan untuk menunjukan identitas Hindu tentang sekolah formal.

Dari uraian tersebut, menarik melihat sejarah bahwa pesraman telah diadakan pada jaman dahulu kala. Seperti bisa kita jumpai pada kisah Maharsi Markndeya selama berada di Payangan, yakni sebagai guru pengajian. Beliau memberi pengajian (mengajar) pada masyarakat disana tentang hal-hal keagamaan. Dibuktikan dengan adanya Pura Murwa Bhumi yang tercatat di dalam prasasti pura tersebut.

Hal tersebut membuktikan bahwa pentingnya belajar disiplin prilaku, tentang etika, moral upakara tatwa dan kelembagaan (agama), sebagai jalan menerangi kehidupan yang dijelaskan pada kitab Slokantara yang berbunyi; “Brahmano wa manusayanam adityo wapi tejasam, siro wa sarwagatresu dharmasu satyam uttamam“, yang artinya; seperti halnya golongan brahmana diantara manusia, sebagai halnya matahari diantara sumber cahaya, seperti halnya kepala diantara anggota badan, demikian pulalah kebenaran (satya) diantara kewajiban (dharma) manusia. Brahmana dimaksudkan adalah orang-orang yang melakukan disiplin diri untuk mencari pencerahan, mereka yg menguasai dan menjalankan kebrahmacarian seperti sukla brahmacari, sewala brahmacari, kresna brahmacari, itulah alasannya para guru suci membangun pesraman.

Di era globalisasi ini lembaga pendidikan agama Hindu khususnya Pasraman sudah bergeser dari fungsi yang sesungguhnya karena perkembangan informasi dan teknologi, generasi muda lebih memilih menuntut ilmu pengetahuan dilembaga pendidikan formal yang bersifat umum.

Jumlah umat hindu yang tergolong minoritas membuat jumlah pasraman yang ada di Indonesia sangat minim, tak hanya dari segi jumlah namun juga keinginan dari muda-mudi untuk mengikutinya, sebenarnya pendidikan di pasraman memiliki nilai yang cukup positif. Disamping kita bisa membuat masyarakat hindu kita lebih cinta terhadap hindu dan semua ajaran serta adat-istiadat yang dimilikinya. Selain itu, media sosial juga memiliki andil yang besar dalam penyampaian informasi mengenai pendidikan agama Hindu, bisa dikatakan sebagai pasraman “dunia maya”. Dibuktikan banyak group dalam media sosial yang mendiskusikan masalah agama Hindu. Akan tetapi, diperlukan kecermatan dalam menyerap semua informasi tersebut, untuk menghindari dogma dan dokrin aliran tertentu yang bisa menyebabkan kita tersesat, Agama yang seharusnya sebagai sarana atau jalan menuju kesadaran hidup malah akan sebaliknya menjadikan agama sebagai candu yang memabukkan.

971580_487975891315680_1944007480_n

Pasraman Markandeya Yoga.

Yayasan Markandeya Yoga Indonesia.