PURA PUCAK PAYOGAN

Pasraman Markandeya Yoga

Guru Made Sumntra

Pasraman Markandeya Yoga,

Guru Made Sumantra

BALINESE YOGA TRADITION

PURA MAHA YOGI RSI MARKANDEYA

Yoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural IndonesiaSilsilah Maha Yogi Rsi Markandeya.
Rsi Markandeya adalah seorang Maha Yogi yang sangat utama yang berasal dari keturunan warga Bregu. Bheghawan Bregu adalah keturunan dari Hyang Jagatnatha yang bergelar Sang Hyang Ratnamaya. Beliau adalah putra dari Sang yang Tunggal yang menjaga dan menguasai dunia seluruhnya. Dikisahkan, Salah satu keturunan Hyang Jagatnatha bernama Sang Hyang Rsiwu, beliau seorang Mahayogi yang amat bijaksana mempunyai putra bergelar Sang Hyang Meru.

Sang Hyang Meru mempunyai Putra Sang Ayati dan adiknya Sang Niata. Sang Ayati mempunyai putra bernama Sang Prana , dan Sang Niata mempunyai putra bernama Sang Markanda. Sang Markanda memperistri seorang gadis cantik dan sempurna bernama Dewi Manswini. Inilah yang Melahirkan Sang Maharsi Markandeya. Rsi Markandeya sangat tampan da mempunyai banyak ilmu, Lama beliau membujang dan akhirnya memperistri Dewi Dumara. Dan mempunyai putra seorang bergelar Hyang rsi Dewa Sirah.Rsi Dewa sirah memperistri Dewi Wipari. Rsi Markadeya adalah titisan Dewa Surya yang berasal dari Negara Bharatawarsa ( India). Dan Beliau berkeinginan mengembangkan ajaran Yoga beliau menuju daerah selatan India di bagian timur Nusantara dengan beberapa murid beliau yang telah siap turun gunung. Perjalanan beliau pertama menuju Gunung Dumalungdi Hyang yang disebut gunung Hyang atau Dewata.

Namun disana sudah ada pertapaan Sang Ila putra Rsi Trenawindhu yang merupakan murid dari Sang Hyang Maharsi Agastya. Yang telah bertapa di tanah Jawa dan telah berbaur dengan Sapta Rsi di sana. Dan itulah sebabnya Hyang Mahayogi Merkandeya pergi ke tempat lain yaitu Gunung Raung,Jawa timur. Disana beliau bertapa dan membangun pesraman,dan pada suatu hari Belau mendengar Sabda Dari Akasa Dan melihat sinar menjulang ke Akasa, Sabda didengar dari leluhur Beliau Hyang Jagatnatha, dan Sabda itu memerintahkan Mahayogi Markandeya pergike arah timur yaitu Balipulina. Sebelah timur Tanah jawa, dan di Sabdakan itu karena di Bali Pulina ada Stana Para Dewa yaitu di Gunung Tohlangkir ( Gunung Agung).Yang pada saat itu disebut Giri Raja,Dalam Sabda beliau mendengar bahwa Gunung itu adalah potongan Gunung Maha Meru yang di bawa hyang Pasupati untuk memngunci Dunia saat itu.

Akhirnya Mahayogi Markandeya pergi kea rah Timur Bali sesuai sabda dengan pengikutnya sebanay 400 orang, Namun dalam perjalanan pertama ini, beliau mendapat Halangan semua pengikutnya meninggal terserang penyakit, Karena mendapat halangan Beliau kembali ke Gunung Raung Jawa, bersemedi untuk mohon petunjuk, Dari hasil semedi beliau mandapat wahyu , kalau ingin selamat dalam perjalanan Dharmayatra ini Harus menanam Panca Datu sebagai dasar Yadnya untuk keharmonisan dengan alam Bali ini. Seterusnya beliau melakukan perjalanan ke dua kali dengan pengikut 800orang .Beliau berkehendak berdharmayatra menyebarkan ajaran ajaran Tri Sakti paksa, terutama Waisnawa Paksa segala aturan Tatacara upacara dan upakaranya. Dan Pada perjalanan ke dua ini., beliau menghaturkan Yadnya berupa penanaman Panca Datu di Gunung Tohlangkir, sekarang disebut Besakih.

JEJAK MAHA RSI MARKANDEYA DI BUMI PARHYANGAN.
Pura Murwa (Purwa) Bhumi menjadi tonggak pertama kali Maharsi Markandeya menyebarkan ilmu keagamaan, menularkan ilmu teknologi pertanian pada orang Aga yang tinggal di Payangan.

Kecamatan Payangan yang berlokasi di belahan barat laut, Kabupaten Gianyar, selama ini lebih banyak dikenal sebagai daerah pertanian, terutama penghasil buah leci. Satu identitas yang sulit ditampik kenyataannya. Mengingat hanya di Payangan jenis tanaman yang menurut cerita masyarakat Payangan berasal dari ngeri Tirai Bambu, Cina, banyak bertumbuhan.

Di balik potensi pertanian yang dimiliki, kawasan yang berada sekitar 500 meter dari permukaan laut ini ternyata memiliki banyak tempat suci tergolong tua. Satu di antaranya Pura Murwa Bhumi.

Lokasi pura tua ini tak jauh dari pusat kota kecamatan. Kalau Anda berangkat dari Denpasar hendak menuju Kintamani dan mengambil jalur jalan raya Payangan, maka di satu tempat sebelah timur jalan, kurang lebih 500 meter sebelum Pasar Payangan, coba sempatkan melihat ke arah kanan jalan (arah timur). Di sana terpampang dengan jelas papan nama Pura Murwa Bhumi atau masyarakat sekitar ada menyebut Purwa Bhumi. Dalam penjelasan Kelian Dinas Pengaji sekaligus menjadi Kepala Desa Melinggih Kelod, I Made Suwardana, pura yang diempon warga Desa Pengaji ini memiliki pertalian dengan kisah perjalanan seorang tokoh suci Maharsi Markandeya, di tanah Bali Dwipa.

Seperti banyak tersurat dalam lontar atau Purana, di antaranya lontar Markandeya Purana, bahwa sang yogi Markandeya yang kawit hana saking Hindu (yogi Rsi Markandeya berasal dari India), melakukan perjalanan suci menuju tanah Jawadwipa. Beliau sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, lalu berlanjut ke Gunung Di Hyang—kelak Gunung Di Hyang dikenal dengan nama Gunung Dieng, berlokasi di Jawa Tengah.

Dari Gunung Dieng Rsi Markandeya meneruskan perjalanan menuju arah timur ke Gunung Rawung yang terletak di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Di Gunung Rawung sempat membangun pasraman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bali.

Di pulau mungil ini Maharsi bersama pengikutnya merabas hutan dan membangun banyak tempat suci. Di antaranya Pura Murwa Bhumi.

Mengenai Pura Murwa Bhumi, tradisi lisan di Payangan dan sekitarnya menyebutkan, tempat suci ini konon menjadi tempat pertama kali Maharsi Markandeya memberikan pembelajaran kepada para pengikutnya. Penegasan yang cukup masuk diakal, terutama bila dikaitkan dengan nama tempat di mana pura tersebut dibangun, yakni Desa Pengaji.

Besar kemungkinan nama Pengaji diambil dari satu tugas mulia Maharsi Markendya selama berada di Payangan, yakni memberi pengajian (pembelajaran) pada orang-orang. “Kehadiran Pura Murwa Bhumi ada tercatat di dalam prasasti,” sebut Cokorda Made Ranayadnya, tetua dari Puri Agung Payangan, sekaligus pangempon di Pura Murwa Bhumi. Satu di antaranya tertulis dalam prasasti Pura Besakih yang termuat di Buku Eka Dasa Ludra. Dalam buku itu disebutkan secara singkat bahwa ada pura di Payangan bernama Pura Murwa Bhumi. Dulu, warga sekitar sering menyebut Pura Dalem Murwa.

Tak beda jauh dengan penjelasan Cok Ranayadnya. Dalam buku Sejarah Bali Jilid I dan II, karangan Gora Sirikan dan diterbitkan Nyoman Djelada, juga ada menerangkan, kedatangan Rsi Markandeya yang kedua ke Bali dengan mengikutsertakan ribuan orang dari Desa Aga, Jawa. Orang Aga ini dikenal sebagai petani kuat hidup di hutan.
Maharsi Markandeya mengajak pengikut orang Aga guna diajak merabas hutan dan membuka lahan baru. Setelah berhasil menunaikan tugas, maka tanah lapang itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta sebagai pekarangan rumah. Tempat awal melakukan pembagian itu kelak menjadi satu desa bernama Puwakan. Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja, Kecamatan Tegallang, Kabupaten Gianyar.

Tentang pembagian tanah dan kehadiran maharsi di Bali, dalam Markandya Purana ada dijelaskan:
Saprapta ira sang Yoghi Markandya maka di watek pandita Adji, mwah wadwan ira sadya ring genahe katuju, dadya ta agelis sang Yoghi Markandya mwang watek Pandita prasama anangun bratha samadhi, anguncar aken wedha samadhi, mwah wedha pangaksamaning Bhatara kabeh, sang Pandita aji anguncar aken wedha panulaks arwa marana, tarmalupengpuja samadhi, Dewayajna mwang Bhhutayajna, Pratiwi stawa. Wus puput ngupacaraning pangaci aci, irika padha gelis wadwan ira kapakon angrabas ikangwana balantara, angrebah kunang taru-taru, ngawit saking Daksina ka Utara.

Reh sampun makweh olih ngrabas ikang wana balantara, mwah dinuluran swecaning Hyang tan hana manggih pasangkalan, Sang Yoghi Markandya anuduh akenwadwan ira araryanrumuhun angrabas wana ika, tur wadwan ira sadaya, angangge sawah mwang tegal karang paumahan…..,
Artinya:
Setibanya Sang Yoghi Markandya seperti juga para Pandita Aji, bersama rakyatnya semua di tempat yang di tuju, maka segera Sang Yoghi Markandya dan para pandita semuanya melakukan bratha samadi, dengan mengucapkan wedha samadi, serta weda memohon perkenan Ida Batara semua, Sang pandita Aji mengucapkan weda penolakan terhadap semua jenis hama dengan tak melupakan puja samadhi, menyelenggarakan upacara Dewayajnya dan Bhutayajnya, serta memuja Pertiwi. Setelah selesai melakukan pangaci-aci (melakukan upacara), maka seluruh rakyatnya diperintahkan merabas hutan belantara tersebut, menebang kayu-kayu, di mulai dari selatan setelah itu baru ke utara.

Atas perkenan Tuhan Hyang Maha Kuasa, proses perabasan hutan tak mendapat halangan. Karena sudah luas, maka SangYoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural Indonesia Yoghi Markandya memerintahkan rakyatnya untuk berhenti melakukan perabasan hutan. Yoghi Markandya kemudian membagi-bagikan lahan itu kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tanah tegalan, serta pekarangan rumah.

Usai melakukan pembagian tanah, Maharsi Markandeya kembali melakukan pertapaan di satu tempat yang mula-mula diberi nama Sarwadha. Tempat dimaksud kini menjadi Desa Taro, sedang Sarwadha, kini merupakan lokasi satu tempat suci cukup besar. Sarwadha sendiri berasal dari kata sarwa (serba) dan ada, Jadilah serba ada, artinya di tempat inilah segala keinginan tercapai, lantaran semua serba ada.

Setelah keinginan terpenuhi di Taro, Maharsi kemudian melanjutkan perjalanan serta memindahkan tempat pertapaan ke arah barat. Pada satu lokasi yang masih asri. Di tempat baru itu Beliau mendapat inspirasi (kahyangan) dari Tuhan, makanya lamat-lamat tempatnya dinamakan kahyangan, kemudian berubah lagi menjadi parhyangan, dan kini disebut Payangan.

                                                                                                                                                                            

Yoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural IndonesiaTempat di mana rohaniwan mengelar pertapaan dibuat sebuah mandala srta didirikan sebuah sebagai tempat memuja para dewa. Pura dimaksud diberi nama Murwa yang artinya permulaan.

Belum benderang betul kenapa pura yang diberi nama Purwa atau Murwa (kini bernama Murwa Bhumi) disebut sebagai permulaan. Tiada tanda jelas yang bisa dijadikan bukti otentik.

Tapi, bila ditelaah lebih jelas, kata Purwa sama dengan timur atau yang pertama. Di timur pertama kali matahari mulai memancarkan sinarnya yang benderang. Di timur pula bulan kali pertama terbit.

Jika dikaitkan dengan perjalanan Maharsi di Payangan, boleh jadi di Pura Murwa Bhumi-lah dijadikan tempat pertama oleh Maharsi Markandeya bertapa sekaligus memberikan pembelajaran bagi para pengikut menyangkut agama dan cara-cara berteknologi guna memperoleh kemakmuran. Makmur yang dimaksud zaman dulu, jelas menyangkut cara bertani yang baik dan benar sehingga mampu mendapat hasil bagus.

Tempat suci yang diempon warga Desa Pakraman Pengaji, menurut Bandesa Pakraman Pengaji Dewa Ngakan Putu Adnyana, masih memiliki beberapa peninggalan. Di antaranya palinggih babaturan dan Gedong Bang yang menjadi stana Ida Rsi Markandeya. “Dulu ada peninggalan terbuat dari batu yang dinamakan Bedau. Bentuknya menyerupai perahu,” kata Ngakan Adnyana. Dari Bedau itu terus keluar air yang biasa dimohon oleh warga guna dijadikan sarana pengobatan, terutama bila ada ternak yang sakit. Sayang, tinggalan tua itu telah rusak dan sebagai pengingat saja, warga mengganti dengan perahu batu baru.

Selain tinggalan tua berupa palinggih, di Pengaji sampai saat ini masih berkembang struktur masyarakat Bali Aga terutama menyangkut keagamaan, yang dinamakan Ulu Apad (delapan tingkatan), mulai dari Kubayan, Kebau, Singgukan, Penyarikan, Pengalian, pemalungan, Pengebat Daun, dan Pengarah. Warga yang tercatat dalam struktur organisasi tradisional ini akan menunaikan tugas sesuai fungsi dan jabatan yang dipegang.

Yoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural IndonesiaTAPAK-TAPAK SUCI SANG MAHARSI.
Jejak perjalanan Rsi Markandeya menelusuri tanah Balidwipa, banyak meninggalkan atau ditandai oleh pembangunan tempat suci. Pura itu banyak yang menjadi sungsungan jagat, tak sedikit pula yang di-emong warga desa pakraman.

Tempat-tempat suci yang berhubungan dengan Rsi Markandeya di Bali meliputi Pura Basukian di kaki Gunung Agung (Gunung Tolangkir), tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Semula, lokasi pura merupakan tempat yajnya tempat Rsi Markandeya menanam kendi yang berisi Pancadatu, lima jenis logam mulia. Seperti perunggu, emas, perak, tembaga, dan besi. Tujuannya, supaya Maharsi beserta pengikutnya mendapat keselamatan. Lamat-lamat komplek pura Basukian dikenal dengan nama Besakih.

Berikutnya ada Pura Pucak Cabang Dahat. Tempat suci ini berlokasi di Desa Puwakan, Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini dibangun sebagai tanda pertama kali Maharsi beserta pengikutnya melakukan perabasan hutan setelah menggelar yajnya di kaki Gunung Agung. Setelah sukses merabas hutan, Maharsi Markandeya kemudian membagi-bagikan lahan kepada pengikutnya guna dijadikan pemukiman dan areal pertanian.

Masih di wilayah Desa Taro, Rsi Markandeya juga membangun Pura Gunung Raung, sebagai tempat panyawangan (perwakilan) Gunung Raung yang terdapat di Desa Sugih Waras, Kecamatan Glanmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebab dari tempat itulah pertama kali sang Rohaniwan mendapat wangsit sebelum datang ke Bali.

Di kawasan Ubud ada dua tempat suci sebagai pertanda kedatangan Rsi Markandeya, yakni Pura Pucak Payogan di Desa Payogan dan Pura Gunung Lebah di Campuhan, Ubud, Kabupaten Gianyar.

Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi Markandeya kemudian bersemadi. Dalam semadinya menemukan satuYoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural Indonesia titik sinar terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada lokasi dimaksud Rsi Markandeya melakukan yoga semadi. Nah, di tempat Maharsi beryoga itulah selanjutnya berdiri Pura Pucak Payogan.

Sekitar dua kilometer arah tenggara Pucak Payogan, tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandeya mendirikan tempat suci Gunung Lebah. Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa mala.

Dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya ada ditegaskan:

  • “Mwah ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa….”
  • Artinya : “Di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga Waisnawa”.

Yoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural IndonesiaKetika melanjutkan perjalanan ke wilayah Parhyangan (Payangan), sesuai yang tersurat di buku Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini, karangan Gde Sara Sastra, bahwa Maharsi Markandeya juga membangun tempat suci Murwa (Purwa) Bhumi. Pura dimaksud berlokasi di Desa Pakraman Pengaji, dan warga setempat meyakini di tempat itulah Maharsi dari India ini pertama kali (Purwa) memberikan proses pembelajaran kepada para pengikutnya. Pelajaran yang diberikan selain menyangkut agama juga tentang teknologi pertanian.


Setelah berhasil memberikan pengajian, termasuk menjadikan masyarakat Aga di Payangan sukses dalam mengelola pertanian, maka sang Maharsi kembali membangun tempat suci yang diberinama Sukamerih (mencapai kesukaan). Letaknya tepat di seberang jalan Pura Murwa Bhumi.

Sesuai penjelasan Bandesa Pakraman Pengaji, Dewa Ngakan Putu Adnyana, kedua pura tadi oleh warga Pengaji diyakiniYoga Healing Bali meditasi Aura Ubud retreat Workshop Natural Indonesia ada saling keterkaitan. Maka, upacara keagamaan juga dilaksanakan secara bersamaan.

Pura Pucak Payogan,adalah Tempat Yoga Semadi Mahayogi Markkandeya. Dan Tempat ini tempat beliau moksa sebagai akhir penjalanan Dharmayatra beliau.

Salah Satu Kisah Rsi Markandeya.

Bhagavata Purana dikisahkan dari waktu ke waktu, dari Bhagawan Abhyasa ke Shuka dan murid-muridnya. Kita mengetahui bahwa lewat Resi Shuka, Parikesit mendengar kisah Bhagavata Purana. Romaharsana, murid Abhyasa menyampaikan kisah kepada Ugrasrava, putranya dan kemudian Ugrasravamenyampaikannya kepada Saunaka. Saunaka bertanya kepada Ugrasrava, “Wahai Resi Ugrasrava, aku mendengar bahwa Bhagawan Abhyasa mendapatkan kisah Purana ini dari Brahma. Kemudian aku mendengar tentang kisah banjir besar, akhir pralaya dari kalpa sebelumnya dan dilanjutkan dengan dengan kisah Matsya Avatara. Yang membingungkan aku adalah kisah Resi Markandeya putra Markandu dari Dinasti Bhargawa(Bhrigu). Kita menyaksikan kehidupannya dan kita tidak pernah mengalami banjir besar. Bagaimana mungkin ada kisah Resi Markandeya bisa selamat dari banjir besar sepanjang Pralaya?” Resi Ugrasrava tersenyum dan kemudian menyampaikan kisah Resi Markandeya……
Resi Markandeya putra Markandu adalah seorang yang menguasai Veda dan juga pertapa yang sempurna. Pikirannya tenang dan terfokus pada Narayana. Indra meragukan kekuatan tapa sang resi dan ingin mengganggunya. Ia mengirimkan rombongan penggoda yang terdiri dari para Gandharva untuk menyanyi, para Apsara untuk menari, dan Manmatha, dewa cinta sebagai pemimpin rombongan. Markandeya sedang berada dalam yoga dan apsara cantik Pujikastali menari di depannya. Manmatha memungut busurnya yang terbuat dari tebu dengan anak panah berkepala lima dan menunggu mata Markandeya terbuka yang dengan segera dilepaskannya. Akan tetapi semua usaha Manmatha dan yang lain sia-sia. Mereka melarikan diri dengan penuh kengerian melihat mata Markandeya. Bagaimana pun Markandeya tidak mengutuk mereka, itulah salah satu sifat agung dalam dirinya.
Selanjutnya Narayana datang dalam wujud Nara dan Narayana yang berkulit hitam dan putih. Markandeya menghormati mereka dan berkata, “Tuhan, Engkau meliputi alam semesta. Engkau adalah Brahma, Mahadewa, Wisnu dan juga Atman dalam diri manusia. Bentuk kembar ini telah Kau ambil untuk kepentingan dunia.” Nara dan Narayana kemudian berkata, “Tapa dan bhaktimu kepada kami telah menjadikanmu seorang Siddha dan aku sangat terhibur olehmu. Mintalah apa pun dan aku akan mengabulkannya!” Markandeya menjawab, dapatkah manusia mempunyai keinginan lainnya setelah menyaksikan-Mu? Bagaimana pun adalah tidak hormat menolak perintah Tuhan. Oleh karena itu mohon diberitahukan kepada kami “Maya” yang menyebabkan ketidaktahuan dalam pikiran manusia. Nara dan Narayana tersenyum dan berkata, “Semoga demikian!” dan mereka lenyap.
Resi Markandeya meneruskan meditasinya di tepi sungai Puspabhadra dengan tekun setiap hari. Pada suatu hari, mendadak angin kencang bertiup yang berubah menjadi angin topan bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat. Bumi nampak tertelan oleh samudera. Ia menemukan dirinya terapung-apung diatas permukaan samudera. Ia merasa sakit, sedih dan menderita dan datang rasa takut mengalami kematian. Resi Markandeya telah menaklukkan kematian, ia telah memahami kematian, akan tetapi dalam keadaan demikian rasa takut menyelimutinya. Mendadak Markandeya melihat pohon Asvattha dikejauhan yang terlihat sangat indahnya. Dalam salah satu daunnya ia melihat seorang anak bayi yang sangat agung. Sang bayi memegang kakinya dan menempatkannya pada mulutnya seperti sedang mencium bunga teratai. Markandeya memperhatikan anak bayi tersebut dan segala rasa sakit, derita dan takut musnah. Markandeya merasakan nafas anak tersebut menghisapnya masuk lubang hidungnya. Manakala markandeya berada di dalam tubuh anak bayi tersebut dia menemukan dunia seperti aslinya sebelum topan datang. Ia melihat surga dan langit bertaburan bintang, samudera dan pulau-pulau. Ia melihat para dewa dan para asura. Ia melihat Himalaya dan Sungai Puspabhadra.
Tiba-tiba ia dibuang oleh hembusan nafas sang anak dan menemukan dirinya berada di permukaan samudera lagi. Anak dan pohon Asvattha lenyap dan Markandeya menemukan bahwa dia sedang berbaring di tempat tinggalnya. Mahadewa dan Parwati dan seluruh pengawalnya mendekati Markandeya dan memberkatinya. Markandeya segera menyembah mereka dan menyampaikan penghormatan kepada mereka. Mahadewa kemudian berkata, “Karena bhaktimu terhadap Narayana, kamu sudah menerima siddhi di dalam segalanya. Kamu telah diberitahu Tuhan untuk mengetahui Maya-Nya. Kamu akan hidup abadi dan kamu akan terkenal sebagai Puranacharya. Manusia memperoleh manfaat dari cerita tentang Tuhan yang kamu ceritakan kepada mereka.” Mahadewa dan seluruh pengiringnya segera menghilang. Dan Resi Markandeya menghabiskan seluruh waktunya berpikir berulang-ulang tentang pengalaman unik yang dialaminya. Banjir besar dan anak yang berbaring dalam daun Asvattha………
( Guru Made Sumantra )

More information in english see link:

http://wijayajournal.blogspot.com/2009/04/strory-on-resi-markandya-trip-to-bali.html

Belajar Yoga Hyang Rsi Markhandya

Silahkan Hubungi:

Contac Us:

Guru Made Sumantra

Address: Lungsiakan Rd, Kedewatan, Ubud, Bali, Indonesia.

www.yogahealingbali.com

Email: info@yogahealingbali.com

Call: 087861187825

                                                                                                                                                                                  

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s