Atman Brahman Aikyam

ATMAN

Atman atau Atma Ātmā, berasal dari bahasa Sansekertadalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brarman/Hyang Widhi yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau Jiwa atau Roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini).Indra tidak dapat bekerja bila tidak ada atman.Atman itu berasal dari Brahman/Hyang Widhi, bagaikan Matahari dengan sinarnya. Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Sifat-sifat Atman

Dalam Bhagavad Gita dijabarkan mengenai sifat-sifat Atman, diantaranya adalah:

  • Achedya : tak terlukai oleh senjata
  • Adahya : tak terbakar oleh api
  • Akledya :tak terkeringkan oleh angin
  • Acesyah : tak terbasahkan oleh air
  • Nitya : abadi
  • Sarwagatah : di mana- mana ada
  • Sthanu : tak berpindah- pindah
  • Acala : tak bergerak
  • Sanatana : selalu sama
  • Awyakta : tak dilahirkan
  • Acintya : tak terpikirkan
  • Awikara : tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Berikut adalah beberapa kutipan sloka yang memuat sifat-sifat Atman dalam Bhagavad Gita:

Slokanai’nam chhindanti sastrani
na chai’nam kledayanty apo
na soshayati marutah
TerjemahanSenjata tidak dapat melukai Dia
dan api tidak bisa membakar- Nya
angin tidak dapat mengeringkan Dia
dan air tidak bisa membasahi- Nya

 

Achedyo ‘yam adahyo ‘yam
akledya ‘soshya eva cha
nityah sarwagatah sthanur
achalo ‘yam sanatanah
Dia tidak dapat dilukai, dibakar
juga tidak dikeringkan dan dibasahi

Dia adalah abadi, tiada berubah
tiada bergerak, tetap selama- lamanya.

 

Awyakto ‘yam achintyo ‘yam
Awikaryo ‘yam uchyate
tasmad ewam widitasi ‘nam
na ‘nusochitum arhasi.
Dia dikatakan tidak termanifestasikan
tidak dapat dipikirkan, tidak berubah- ubah
dan mengetahui halnya demikian
engkau hendaknya jangan berduka
.

Atman tidak dapat menjadi subyek atau obyek dan tindakan atau pekerjaan. Atman tidak terpengaruh akan perubahan-perubahan yang dijalani maupun dialami pikiran, hidup dan jasad atau badan jasmani..Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atman tetap langgeng untuk selamanya.

Empat Jalan menemukan Atman

Untuk menemukan Atman yang tersembunyi di dalam diri manusia, manusia harus melakukan YOGA.Jika telah menemukan dan bersatu dengan Atman, maka barulah manusia mencapai kebahagiaan sempurna.YOGA berfungsi menyatukan jiwa manusia dengan Atman, yang tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam. “Karena semua latihan rohani Jalan YOGA (yang dibedakan dengan latihan jasmani) sungguh dimaksudkan untuk mencapai tujuan praktis ini…bagaimana caranya mencapai Brahman dan hidup seperti Brahman.”

Ada empat jalan (YOGA) untuk menemukan Atman, namun empat jalan tersebut membawa kepada tujuan yang satu.[Manusia dapat memilih salah satu dari empat jalan tersebut berdasarkan pribadi orang tersebut. Menurut analisis Guru Made Sumantra, pada umumnya ada empat tipe pribadi manusia yaitu suka merenung, aktif, emosional, dan empiris (menekankan pengalaman).

Keempat jalan tersebut dimulai dari beberapa petunjuk penting mengenai kesusilaan. Karena tujuan akhir dari masing-masing jalan adalah untuk menjernihkan permukaan diri kita agar dapat terlihat unsur Ketuhanan yang dibawahnya, maka tentu saja pribadi itu harus dibersihkan dari kotoran moral yang besar. Orang yang ingin melakukan YOGA harus memulai kebiasaan serta praktik hidup yang bermoral.

Jalan Pertama melalui Pengetahuan

Jalan melalui pengetahuan atau jnana yoga diperuntukkan bagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan intelektual yang kuat. Bagi orang seperti itu, Pasraman Markandeya Yoga, Yoga Healing Bali menawarkan serangkaian semadi dan pembuktian logis yang dimaksudkan untuk meyakinkan si pemikir bahwa ada hal yang lebih dari dirinya yang berhingga itu.

Jalan untuk memperoleh pengetahuan ini terdiri dari tiga langkah yaitu mendengar, berpikir, dan pengalihan.Pertama adalah mendengar, yakni mendengar ucapan dari orang-orang bijaksana, dan kitab-kitab suci. Tujuannya agar orang yang bersangkutan berkenalan dengan hipotesis pokok bahwa di pusat jati dirinya terdapat sumber kehidupan yang tak berhingga yang tidak dapat dipadamkan. Langkah kedua adalah berpikir, yaitu Atman yang tadinya berupa konsep kosong, diubah menjadi kenyataan penting. Langkah ketiga adalah pengalihan identifikasi dirinya dengan roh abadi dengan mencoba membayangkan dirinya sebagai roh abadi itu.Ia harus melihat dirinya dari sudut pandang yang berbeda seolah-olah ia adalah pribadi yang berbeda, karena memang dirinya adalah fana dan hanya atman yang nyata

Jalan kedua melalui Cinta

Jalan melalui cinta atau bhakti yoga berbeda dengan jnana yoga. Dalam jnana yoga gambaran tentang Tuhan bagaikan suatu samudera yang tak berhingga dan berada di dasar diri kita.Tuhan dibayangkan sebagai Diri yang merembesi segala sesuatu yang sepenuhnya berada di dalam manusia ataupun di luar manusia.Tugas manusia adalah mengenal persatuan diri dengan Tuhan, dan Tuhan bukan dipahami sebagai pribadi.Akan tetapi, bagi seseorang yang lebih mengutamakan cinta daripada pikiran, Tuhan pastilah kelihatan berbeda dengan hal-hal tersebut. Pertama, bhakti akan menolak semua pandangan yang menyatakan Tuhan adalah diri pribadinya, bahkan dirinya yang paling dalam, dan berkeras bahwa Tuhan lain dari dirinya. Alasannya, karena cinta merupakan perasaan yang dicurahkan keluar.Kedua, tujuan jnana berbeda dengan bhakti.Tujuannya bukanlah melihat kesatuan dirinya dengan Tuhan, melainkan untuk memuja Tuhan dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Apa yang harus dilakukan adalah mencintai Tuhan dengan setulus hati, mencintai dalam kehidupan, mencintai hal lain karena Dia, dan mencintai-Nya tanpa pamrih apapun.

Ada tiga cara pendekatan bhakti yang perlu diketahui yaitu:

  • a. Japam, yaitu latihan menyebut nama Tuhan berulang-ulang kali.
  • b. Mendengungkan pergantian cinta, menunjukan kenyataan bahwa ada berbagai jenis cinta, misalnya cinta anak-orangtua dan suami-istri, dan lain-lain.Cara ini mendorong orang yang melakukan yoga mengalihkan semua cinta kepada Tuhan.
  • c. Pemujaan terhadap Tuhan menurut bentuk ideal seseorang.Menurut Guru Made Sumantra ada tingkatan-tingkatan cinta yang semakin mendalam dan timbal balik. Tahap pertama adalah sikap mereka yang dilindungi terhadap si pelindung.Tahap kedua adalah tahap persahabatan, dimana Tuhan dipandang sebagai teman bahkan teman sepermainan. Tahap ketiga adalah sikap cinta orang tua dimana Tuhan dipandang manusia sebagai anak.

Jalan Ketiga melalui Kerja

Jalan melalui kerja atau karma yoga ditujukan secara khusus bagi orang yang berwatak aktif.Kerja adalah pokok kehidupan manusia. Dorongan bekerja bukanlah motivasi ekonomis, melainkan motivasi psikologis. Manusia akan merasa gelisah atau kehilangan semangat saat tidak bekerja. Jalan ini ditujukan secara khusus bagi orang yang berwatak aktif. Jalan ini menggunakan kerja sebagai sarana untuk menuju Tuhan.

Karma yoga mempunyai rute-rute alternatif tergantung pada pendekatan kita, apakah dengan filosofis atau dengan sikap cinta.Jadi karma yoga dapat dipraktikkan dengan gaya jnana yoga (pengetahuan) atau bhakti yoga (cinta). Pekerjaan dapat menjadi wahana menuju Tuhan melalui kedua hal tersebut, karena Maha Yogi Rsi Markandeya mengajarkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan pada dunia di luar kita mempunyai reaksi yang sepadan di dalam diri pelakunya. Setiap perbuatan yang manusia lakukan untuk kepentingan kesejahteraan diri manusia akan menambah satu lapisan ego yang semakin mempertebal jarak antara dirinya dan Tuhan, baik yang dipahami di dalam diri maupun di luar diri. Demikian pula setiap tindakan yang dilakukan tanpa mengingat kepentingan diri sendiri, akan mengurangi hambatan untuk mencapai Atman di dalam diri, hingga akhirnya tidak ada hambatan yang mengaburkan hubungan seseorang dengan Tuhan.

Seorang yang menganut jalan karma yoga akan berusaha melakukan setiap hal yang dihadapinya seakan-akan hal itu merupakan satu-satunya tugas yang harus dikerjakannya. Ia akan berusaha memusatkan perhatiannya secara utuh dan mantap terhadap setiap tugas, dengan menjauhkan segala bentuk ketidaksabaran, kegembiraan, ataupun usaha yang sia-sia untuk melakukan atau mengingat berbagai hal lainnya dalam waktu yang sama. Ia akan berusaha sekuat tenaga, karena jika tidak berarti ia telah menyerah kepada kemalasan yang merupakan sifat mementingkan diri.

Jalan keempat melalui Latihan Psikologis

Jalan melalui latihan psikologis disebut juga raja yoga karena jenis yoga ini mampu membawa orang ke taraf yang tinggi. Satu-satunya syarat yang diperlukan untuk menempuh raja yoga ini adalah dimilikinya suatu dugaan kuat bahwa diri manusia sebenarnya jauh lebih mengagumkan dari yang kita sadari saat ini. Orang yang melakukan raja yoga akan melakukan percobaan terhadap rohaninya sendiri dengan hipotesis bahwa Atman ada di dalam lapisan-lapisan diri manusia.Tujuan raja yoga adalah untuk membuktikan keabsahan dari pandangan tentang lapisan-lapisan ini.

Tahap-tahap dari raja yoga ada delapan tingkat, namun dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

a. Persiapan etis atau persiapan di bidang kesusilaan, yaitu tidak membunuh atau membenci apapun juga, tidak mencuri, tidak berbuat mesum, tidak berbuat curang, dan harus murni secara batin.

b. Persiapan badani, yaitu orang harus menguasai gerak-gerik, napas tubuh, serta perasaannya.[

c. Merenung, yaitu orang harus dapat memusatkan perhatiannya kepada sesuatu supaya menjadi tenang. Setelah tenang orang harus merenungkan sesuatu.[

d. Samadhi, yang menghapuskan perasaan adanya identitas. Tubuh dan pikiran menjadi mati terhadap segala perangsang dari luar. Hanya sasaran yang direnungkan itulah yang tinggal bersinar-sinar.

Jika telah dapat mencapai tahap ini, maka ia telah mencapai tingkatan moksa, yaitu kesadaran bahwa segala sesuatu adalah satu dan dengan pengalamannya ia merealisasikan kesatuan itu.[Baginya hanya Atman/Brahman saja yang kekal, sedangkan segala yang lain di dalam dunia ini adalah maya atau tidak nyata.

Memasuki Kesadaran Atman

Menurut Guru Made Sumantra,Atman: kita tidak bisa menjelaskannya banyak yang mencoba menjelaskan tentang Atman, namun penjelasannya bersifat ilusi dan belum sempurna menjelaskannya. Kita dapat merasakan keberadaannya melalui perasaan kita yang suci, tetapi kita tidak bisa menjelaskannya. Untuk mengetahuinya, kita harus mengalaminya. Kata terbaik yang bisa kita katakan tentang dia adalah bahwa dia adalah yang paling dalam dari Keberadaan kita, inti dari kita. Dia adalah kita yang sejati.

Jika kita menggambarkan: di atas kita tidak ada apa-apa, di bawah kita tidak ada apa-apa, di sebelah kanan kita tidak ada apa-apa, di sebelah kiri kita tidak ada apa-apa, di depan kita tidak ada apa-apa, di belakang kita tidak ada apa-apa; dan melebur diri kita sendiri ke dalam ketiadaan, itu adalah cara terbaik kita menjelaskan kesadaran Atman. Akan tetapi ketiadaan itu tidak berarti tidak ada sesuatu sama sekali, seperti ketiadaan dalam sebuah kotak kosong, menjadi seperti tidak berisi. Ketiadaan itu dipenuhi oleh kesempurnaan dari segalanya: kekuatan kebenaran, eksistensi dari segala hal.

Setelah kita menyadari Atman, kita tahu untuk apa pikiran itu—dasar penciptaan jiwa. Pikiran menciptakan kepribadian. Pikiran adalah wujud halus kita (sukma sarira) yang senantiasa menciptakan wujud, mempertahankan wujud, menciptakan wujud-wujud baru dan menghancurkan wujud-wujud lama. Pikiran itu, ilusi, tidak nyata, bagian dari kita yang dalam angan-angan kita bersikeras itu adalah nyata. Apa yang memberikan kekuatan pikiran itu? Apakah pikiran memiliki kekuatan jika ia adalah suatu yang tidak nyata? Apa bedanya apakah pikiran punya kekuatan atau tidak, bukankah para rishi mengatakan bahwa Atman ada dari dirinya sendiri? Kita lebih banyak memilih hidup di dalam mimpi dan menjadi terganggu olehnya. Karena terlanjur terlena hidup di dalam mimpi, terasa sangat berat untuk memulai pencarian spiritual, membakar keinginan-keinginan kita untuk menyadari kenyataan sejati dan penuh kebahagiaan karenanya. Kodrat manusia menuntun kita kembali kepada diri kita sendiri. Kodrat manusia menuntun kita kepada Keberadaan diri kita lebih jauh, menuntun kita untuk menyadari Keberadaan Sejati diri kita. Maha Yogi Rsi Markandeya mewahyukan pada Guru Made, bahwa kita harus menapaki jalan spiritual untuk menyadari Atman, Keberadaan Sejati diri kita. Kita bisa menapaki jalan spiritual hanya jika kita benar-benar telah siap, ketika apa yang kelihatan nyata bagi kita selama ini ternyata dirasakan sangat mengganggu, lalu timbul keinginan untuk mencari kenyataan yang sejati. Kemudian dan baru setelah itu kita mulai dapat memisahkan diri untuk mencari dan menemukan suatu kenyataan baru, keberadaan diri kita yang abadi, Atman.

Apakah kita pernah mencatat sesuatu yang kita anggap langgeng, dan kita sibuk menjaga sesuatu yang kita anggap langgeng itu?

Apakah kita pernah berhenti untuk selalu berpikir dan mendapatkan konsep intelektual yang jelas bahwa Atman adalah satu-satunya hal yang langgeng dalam diri kita? Selain daripada itu semuanya sedang mengalami perubahan? Selain daripada itu semuanya tidak bisa bertahan, tidak bisa ajeg, selalu berhubungan dengan rwa bhineda, silih berganti, antara susah dan senang, antara kegembiraan dan dukacita? Itulah alam pikiran kita.

Atman, Keberadaan Sejati kita, Hidup kita, di mana kesenangan dan kesedihan, kegembiraan dan kedukaan menjadi pelajaran bagi kita. Kita tidak harus berpikir untuk mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa semua tempat milik-Nya ini adalah tidak nyata. Kita hanya bisa tahu dari hati kita yang paling dalam bahwa semua wujud adalah tidak nyata, khayalan.

Seluk beluk, liku-liku, dan kehalusan dari kegembiraan yang kita alami pada saat memasuki Keberadaan Sejati kita itu tidak bisa dijelaskan. Karena setiap penjelasan akan ditangkap oleh pikiran, sedangkan pikiran adalah istananya rwa bhineda, istananya alam khayalan. Itu hanya dapat diproyeksikan kepada kita jika kita memiliki kehalusan buddhi yang cukup untuk menangkap kehalusan vibrasi spiritual. Jika kita ada dalam keselarasan jiwa yang cukup, kita dapat merasakan kegembiraan yang bersifat utama, liku-liku kebahagiaan di mana kita akan merasa semakin dekat dan semakin dekat dengan Diri Sejati kita, Atman.

Jika kita berusaha menemukan Atman dengan menggunakan pikiran kita, kita akan berusaha dan mengupayakannya dengan sia-sia, karena pikiran tidak bisa memberi kita Kebenaran Sejati. Pikiran adalah maya, maya adalah kepalsuan, kepalsuan tidak bisa memberi kita kebenaran. Kemayaan hanya dapat melibatkan kita dalam jaringan kusut kepalsuan. Segala yang maya adalah nyata bagi si maya, hanya Sang Sejati dapat mengatakan segala yang maya adalah maya, segala yang maya adalah palsu. Sebelum mencapai kesadaran Atman, kita tidak bisa dengan benar menyatakan mayapada ini benar-benar maya. Tetapi jika kita membuat diri kita semakin peka, membangkitkan semua kualitas kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan yang kita miliki, kemudian kita menjadi wadah penghubung, menjadi cupu manik di mana Keberadaan Sejati kita akan mulai bersinar. Pada awalnya kita berpikir bahwa sinar itu adalah cahaya gemilang dalam diri kita. Kita akan berusaha mencari untuk menemukan cahaya itu. Kita akan berusaha mencari dan meraihnya, seperti halnya kita mengagumi, meraih, dan menahan sebongkah batu permata dengan kemilau cahayanya nan gemilang dalam genggaman. Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa cahaya kita itu ada di setiap pori-pori, di setiap sel kita. Kita akan menyadari cahaya itu meresap di setiap atom alam semesta. Cahaya gemilang yang menghapus ilusi khayali yang diciptakan oleh pikiran. Itulah kesadaran Atman.

Sangkan Paraning DumadiAda satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman/ Hyang Widhi:
Brahman / Hyang Widhi tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Dalam ilmu spiritual
Markandeya Yoga disimpulkan dalam kalimat ya sira ya ingsun. Karena Brahman / Hyang Widhi adalah hidup kita.Kalimat sangkan paraning dumadi sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Nusantara, terutama mereka yang mendalami ilmu spiritual. Ilmunya pun banyak yang menyebutnya dengan istilah ngelmu sangkan paran dengan manunggaling kawula lan Gusti sebagai pencapaian puncaknya. ini sangat sesuai dengan tuntunan Weda sehubungan dengan pelaksanaan dharma sadhana. Maha Yogi Rsi Markandeya menyatakan bahwa kita bukan badan, pikiran atau emosi kita. Kita adalah jiwa-jiwa agung dalam perjalanan yang mengagumkan. Kita datang dari Brahman/ Hyang Widhi, hidup dalam Brahman/ Hyang Widhi dan berkembang menuju keesaan Brahman/ Hyang Widhi. Kita ada dalam kebenaran, Kebenaran yang kita cari-cari.

Kita adalah jiwa-jiwa abadi yang hidup dan tumbuh dalam langkah-langkah kemajuan yang mengagumkan dan pengalaman keduniawian di mana kita hidup menikmati Hidup. Maha Yogi Rsi Markandeya telah memberi kita keberanian dengan mengucapkan kebenaran sederhana, “Brahman/ Hyang Widhi adalah Hidup dan hidup kita.” Seorang siddhaguru membawa ini lebih jauh dengan mengatakan, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Brahman/ Hyang Widhi: ”Brahman/ Hyang Widhi tidak bisa memisahkan Dirinya dari kita. Kenapa? Karena Brahman/ Hyang Widhi adalah hidup kita.

Brahman/ Hyang Widhi adalah hidup pada burung.
Brahman/ Hyang Widhi adalah hidup pada ikan. Brahman/ Hyang Widhi adalah hidup pada hewan. Menyadari akan energi Hidup ini pada semua makhluk, kita akan menyadari kehadiran kasih Brahman / Hyang Widhi dalam diri kita. Kita adalah kesadaran dan energi kekal yang meliputi segala hal. Di sisi dalam, kita ini sempurna setiap saat, dan kita harus mengetahui dan berbuat sesuai dengan penyempurnaan ini agar menjadi murni. Energi kita dan energi Brahman / Hyang Widhi adalah sama, tidak ada bedanya sama sekali. Kita semua adalah anak-anak manis dan Brahman/ Hyang Widhi. Setiap hari kita harus berusaha melihat energi hidup di pepohonan, burung, hewan dan manusia. Bila hal ini kita lakukan, kita melihat Brahman/ Hyang Widhi sedang beraksi. Weda meyakinkan, dia mengetahui Brahman/ Hyang Widhi sebagai Hidup dari hidup. Mata dari mata, Telinga dari telinga, Pikir dari pikiran, dia sungguh memahami sepenuhnya Sebab dan semua sebab.

Kita semua tumbuh berkembang menuju Brahman/ Hyang Widhi. Dan pengalaman adalah jalannya. “Yoga adalah sadhana (disiplin kerohanian), dan orang yang sedang melaksanakan yoga sadhana yang ketat disebut Yogi, misalnya: tapa mbisu (monabrata), nglelana (dharmayatra), mutih (hanya makan nasi dan minur air putih), ngrowot (hanya makan umbi-umbian), dan berbagai “laku” ekstrim, seperti: nglelana dengan hanya mengenakan cawat, mengemis, dan lain-lain yang bagi orang umum sangat nyeleneh yang sebenarnya dilakukan bukan untuk menjadi perhatian khalayak, tetapi untuk menyingkirkan ego yang melekat pada dirinya. Melalui pengalaman spiritual kita menjadi dewasa di sisi kerohanian. Keluar dari rasa takut menuju ketabahan. Keluar dari kemarahan menuju cinta kasih. Keluar dari perselisihan menuju perdamaian. Keluar dari kegelapan menuju kecerahan dan menyatu dalam Brahman/ Hyang Widhi.

Kita telah mengambil kelahiran di dalam tubuh fisik (tumimbal lahir) untuk tumbuh dan berkembang menuju energi potensial kita yang sangat hebat. Kita di dalam batin telah menyatu dengan Brahman/ Hyang Widhi. Agama Hindu berisi pengetahuan bagaimana cara menyadari keesaan ini dan tidak menciptakan pengalaman-pengalaman yang tidak dikehendaki.

Jalan yang terbaik adalah mengikuti jejak dari YOGA, nenek moyang spiritual kita, menemukan arti penuh rahasia dari pustaka-pustaka Weda. Jalan yang terbaik adalah komitmen, belajar, disiplin, pengamalan dan matang dalam yoga menuju kearifan. Pada langkah-langkah awal, kita merasa menderita sampai kita menjadi terlatih. Pengetahuan Yoga menuntun kita pada pelayanan; sepi ing pamrih rame ing gawe, dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual. Pelayanan menuntun kita pada pemahaman. Pemahaman menuntun kita pada yoga yang mendalam dan tanpa gangguan. Akhirnya, Yoga menuntun kita berserah diri kepada Brahman/Hyang Widhi. Ini adalah jalan lurus dan pasti, menuntun kita ke arah Guru Sejati, Sukma Jati, Kajaten, atau apa pun istilahnya yang tiada lain adalah kesadaran Atman tujuan hidup paling utama dan kemudian menuju moksha, terbebas dan reinkarnasi.

Yoga Maha Yogi Rsi Markandeya secara bijaksana meyakinkan, “Dengan kecermatan, kebaikan diperoleh. Dari kebaikan, pemahaman dicapai. Dari pemahaman, Jati Diri diperoleh, dan dia yang mencapai kesadaran Atman dibebaskan dan putaran kelahiran dan kematian.”

Tarian Jiwa (Brahman Atman )


Semua gerakan berawal dari Brahman/ Hyang Widhi dan berakhir pada Brahman/ Hyang Widhi. Keseluruhan dari alam semesta terlibat dalam pusaran aliran dari perubahan dan aktivitas ini adalah tarian Brahman Atman. Kita semua menari bersama Brahman/ Hyang Widhi, dan Dia bersama kita. Akhirnya, kita adalah tarian Brahman/ Hyang Widhi.

Dunia terlihat seperti tersebut di atas sesungguhnya adalah keramat, hanya ketika kita melihat tarian kosmis Brahman/ Hyang Widhi. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah pergerakan. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan; pusaran atom-atom dalam pergerakan. Semua pergerakan adalah tarian Brahman Hyang Widhi. Bila kita berusaha melawan pergerakan ini dan berpikir semestinya selain dari ini, kita dengan berat hati menari bersama Brahman/ Hyang Widhi. Kita dengan keras kepala menentang, menganggap diri kita terpisah, mengkritisi proses dan pergerakan alami sekeliling kita.

Dengan pemahaman kebenaran abadi tersebut kita bawa semua bidang pikiran kita ke dalam pengetahuan bagaimana cara menerima apa adanya dan tidak mengharapkan menjadi yang sebaliknya. Bilamana itu terjadi, kita mulai secara sadar untuk menari bersama Brahman/ Hyang Widhi, bergerak dengan aliran suci itu mengelilingi kita, menerima pujian dan cacian, kegembiraan dan duka-cita, kemakmuran dan kesulitan dalam ketenangan jiwa, buah dan pemahaman. Kita kemudian dengan anggun, tak kenal menyerah, menari bersama Brahman/ Hyang Widhi. Ajaran Markandeya Yoga menyatakan, “Jiwa kosmis sesungguhnya adalah keseluruhan alam semesta, sumber abadi semua kreasi, semua aksi, semua meditasi. Siapapun menemukan Dia, tersembunyi jauh di dalam, memotong ikatan kebodohan, tenang selama hidupnya di dunia.”

Tarian adalah pergerakan, dan tarian paling sempurna adalah tarian sebaik-baiknya disiplin. Disiplin Spiritual Hindu menuntun ke arah keesaan dengan Brahman melalui refleksi diri, penyerahan diri, transformasi personal dan banyak yoga.

Untuk kemajuan di jalan ini, kita mempelajari Weda dan melaksanakan Yoga, buku-buku tentang disiplin spiritual Hindu dan guru-guru sadhana kita dan berusaha keras menerapkan kebenaran filosofis ini pada pengalaman harian. Kita berusaha mengerti pikiran dalam alam rangkap empatnya, yaitu: chitta (kesadaran), manah (naluri), buddhi (akal budi), dan ahamkara (ego atau keakuan). Kita melakukan japa, meditasi dan yoga setiap hari. Disiplin spiritual seperti itu dikenal sebagai sadhana. Ini adalah latihan kebatinan, mental, fisik dan kebhaktian yang memungkinkan kita untuk menari bersama Brahman/ Hyang Widhi dengan membawa kemajuan sisi dalam, perubahan persepsi dan perbaikan karakter.

Sadhana memungkinkan kita untuk hidup dengan sifat jiwa yang sopan dan terpelajar. Lebih baik daripada sisi luar, naluriah atau bidang intelektual. Untuk kemajuan yang konsisten, sadhana harus dilakukan secara teratur, dengan pasti, pada waktu yang sama setiap hari, lebih baik pada jam-jam awal sebelum fajar. Sadhana paling utama adalah tantangan dan latihan yang diberikan oleh seorang guru sadhana. Guru Made Sumantra memperingatkan, “Kesadaran Atman tidak bisa dicapai dengan kelemahan, kecerobohan, serta kedisiplinan tanpa tujuan. Tetapi jika orang telah memiliki pemahaman yang benar, kemudian berusaha dengan cara-cara yang benar, jiwanya memasuki tempat kediaman Brahman/ Hyang Widhi.”

Atman Brahman Aikyam
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Atman, pencapaian yang tidak gampang dan nirvikalpa samadhi. Setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Brahman yang kekal, tanpa waktu, tanpa bentuk, tanpa ruang, Sang Atman.
Realisasi dan Atman, Brahman/Hyang Widhi, kodrat dan setiap jiwa, dapat dicapai melalui renunsiasi (penolakan atau penyangkalan), diteruskan yoga dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dan reinkarnasi. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dan kesadaran (chitta).

Pribadi lebih solid daripada sebuah neutron, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Hyang Widhi/Brahman. Ini adalah suatu yang berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak.

Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, tidak nyata, itulah sesungguhnya. Karena kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman/Hyang Widhi, hidup bersama Brahman/Hyang Widhi. dan akhirnya manunggal dengan Brahman/ Hyang Widhi menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman sebenarnya Brahman/ Hyang Widhi (Atman Brahman Aikyam). Weda menjelaskan, “Seperti air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, menjadi satu tanpa diferensiasi, Atman dan Parama Atman menjadi satu.

PIKIRAN DAN KESADARAN

TINJAUAN PENDEKATAN TERHADAP ATMAN. YANG MANAKAH EKSPRESI ATMAN: PIKIRAN ATAU KESADARAN?

Kita tak bisa menangkap eksistensi Atman seperti eksistensi badan. Di alam fisik/ sekala yang kasat mata, badan terlihat nyata dan bisa disentuh. Tidak demikian halnya dengan Atman yang ‘terletak’ di alam niskala. Untuk itu perlu suatu pendekatan agar kita bisa lebih menghayati keberadaan Atman. Pendekatan yang akan dilakukan adalah dengan berusaha menangkap ekspresinya dari Atman saja.

Pikiran dan Kesadaran, sebagai benda abstrak yang berada di alam niskala, adalah merupakan suatu ekspresi. Tetapi hanya satu dari dua hal tersebut yang merupakan ekspresi sejati dari Atman, yakni Kesadaran. Pikiran bukanlah ekspresi dari Atman. Memang bedanya sangatlah tipis. Bagaimana penjelasan selanjutnya?

Atman adalah bagian dari Brahman/ Hyang Widhi. Atman merupakan roch suci yang sejatinya bagian dari Tuhan Yang Maha Suci. Maka ekspresi yang sesuai bagi Atman adalah Kesadaran, yang merupakan inti pikiran sejati yang selalu mempunyai tujuan suci. Kesadaran itu bagaikan ‘pikiran di atas pikiran’. Kesadaran berfungsi mewaspadai pikiran kita. Kesadaran dapat dilatih untuk memantau pikiran. Mengapa pikiran perlu dipantau?

Karena pikiran kita sangat liar, tidak bisa tenang diam. Dalam Pemahaman Guru Made Sumantra, pikiran diandaikan monyet. Kapan- kapan bila Anda melihat monyet (di kandang tetangga atau di kebun binatang) maka perhatikanlah tingkah lakunya. Anda akan melihat bahwa dia memang tidak bisa diam tenang. Monyet mampu diam hanya 2-3 detik lalu loncat sana loncat sini lagi, persis pikiran kita. Coba pantau dan teliti pikiran Anda sendiri, maka Anda akan sadari bahwa Anda memikirkan satu hal dan meloncat memikirkan hal lain dalam hitungan detik. Lagi pula, pikiran berpindah- pindah ‘waktu’ dengan mudahnya. Bisa berada dalam masa lalu memikirkan kenangan (yang menyenangkan atau menyedihkan), sedetik kemudian meloncat memikirkan masa depan berupa keinginan atau rencana, lantas loncat lagi tanpa terkendali ke masa kini (misalnya: wah dingin duduk di luar sini, saat ini anginnya cukup keras. Tidak seperti kemarin ketika ngobrol dengan si Amat. Lalu pikiran pindah pada Amat yang begini begitu dst).

Demikianlah liarnya pikiran. Maka kemudian ada istilah: berlatih mengendalikan pikiran. Apa yang dipergunakan untuk mengendalikannya? Ya, Kesadaran. Seperti apa Kesadaran itu? Anda pasti pernah mengalami Kesadaran yang muncul sekejap- sekejap yang memperingati Anda ketika tindakan, bicara atau pikiran yang Anda lakukan kurang benar. Mungkin banyak istilah yang sesuai untuk hal ini, bisa disebut: kata hati nurani, bisikan indera keenam, bisikan malekat dll. Menurut pendapat saya hal-hal semacam ini merupakan ekspresi dari keberadaan Atman. Kesadaran, sebagai ekspresi Atman, membisiki kita, memberi peringatan dan mengarahkan pada tindakan yang benar, jujur dan suci.

Lalu bagaimana caranya meningkatkan kesadaran dan mengendalikan pikiran? Seorang teman menganjurkan 3 cara pada saya yang awam sebagai berikut:
Pertama, jangan sering mengabaikan Kesadaran yang muncul sekejap- sekejap tersebut. Malahan sebaliknya Anda harus sengaja memperhatikannya dan mempertimbangkannya.

Kedua, ambil waktu kapan saja yang Anda suka dan secara periodik pantau pikiran anda. Anggap saja diri Anda terdiri dari dua orang. Yang satu melakukan aktifitas berpikir biasa, orang yang satu lagi memantau apa yang dipikirkan. Intinya, Anda berusaha sadar atas apa yang sedang Anda pikirkan. Sekali- sekali kendalikan pikiran Anda untuk tidak memikirkan apa-apa. Dan pantau apakah Anda mampu melakukannya? Bila Anda mampu tidak memikirkan apa-apa selama setengah menit saja, berarti Anda mulai bisa mengendalikan pikiran Anda.

Ketiga, perlu disadari bahwa pikiran bisa loncat ke berbagai waktu dan berbagai tempat (ketika badan ada di rumah, pikiran bisa berada di sekolah, sedetik kemudian loncat lagi berada di suatu pantai yang merupakan kenangan dst). Tetapi badan Anda saat ini, hanya bisa ada disini saja (di tempat Anda berada). Badan Anda tidak bisa kembali ke ‘dalam waktu’ sejam yang lalu, atau berada ‘didalam waktu’ dua menit yang akan datang. Sehingga Kesadaran sangat diperlukan untuk menyelaraskan segala pikiran Anda dengan keberadaan badan di alam sekala yang demikian.

Seorang teman bertanya, apa perbedaan senang dan bahagia?

Teman tadi mengajukan preposisi sederhana, seringkali kita merasakan kesenangan, tapi apakah kita merasakan kebahagiaan? Contohnya ketika kita memenangkan hadiah undian berupa mobil. Kita merasa senang. Tapi mengapa kesenangan itu berubah menjadi kesedihan ketika ternyata kita mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil tadi.

Mobil yang semula menjadi sumber kebahagiaan, tiba-tiba menjadi sumber penderitaan. Betapa relatifnya hidup.

Pertanyaan mengenai kebahagiaan sesungguhnya adalah pertanyaan tentang eksistensi kemanusiaan. Pemikiran tentang ini membayangi Guru Made Sumantra sejak dahulu kala. Semua beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari kebahagiaan. Tapi sayangnya pengikutnya mempelintir definisi kebahagiaan hanya sebagai pemenuhan kesenangan.

Kebahagiaan jenis ini hanya bisa dikejar dengan pengetahuan, hubungan pertemanan dengan kasih sayang, dan hidup dengan kebaikan. Kebahagiaan tidak dicapai dengan makan sekenyang-kenyangnya, tidur sepuas-puasnya, bercinta sekuat-kuatnya, atau minum sebanyak-banyaknya.

Guru Made Sumantra berusaha menemukan atman, “diri sejati” yang menjadi inti. Sesuatu yang mutlak. Karena seperti pesan Maha Yogi Hyang rsi Markandeya, guru awal ajaran ini:

“Anda tidak dapat melihat Yang Maha Melihat, yang melakukan melakukan penglihatan itu

Anda tidak dapat mendengar Yang Maha Mendengar, yang melakukan pendengaran itu

Anda tidak dapat berpikir dengan Yang Maha Pemikir, yang melakukan pemikiran itu”

Guru Made Sumantra yakin jika dapat menemukan atman, mereka akan mencapai kesatuan dengan Brahman /Hyang Widhi, yang Mahasegala. Energy yang tidak dapat dihancurkan dan merupakan bahan bakar kosmos, yang menetapkan hukum, dan mempersatukan alam semesta.

Sebuah usaha yang tidak mudah. Kita harus berlatih Yoga. Bukan sebagai ilmu pernafasan, tapi sarana pengendalian. Seorang calon yogi harus menjalani proses magang yang panjang. Menjalankan lima larangan (yama). Tidak boleh melakukan kekerasan, mencuri, menimbun harta, berbohong, dan berhubungan seks. Proses pembunuhan terhadap Napsu duniawi. Sampai gurunya yakin ia sudah mengontrol nasfsu kebinatangannya, ia baru diperbolehkan duduk dalam posisi yogik.

Latihan berat dan panjang yang menghasilkan keadaan:

“Tenang, teduh, sabar, dan utuh”.

Sumber Penderitaan

Mereka yang menemukan atman, akan mencapai kesadaran. Dan kesadaran akan menghasilkan penerimaan terhadap kenyataan. Penerimaan pada kenyataan akan menjadi dasar kebahagiaan. Karena sesungguhnya sumber penderitaan adalah persepsi kita terhadap kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri.

Contohnya

ketika kita mengalami kekalahan dalam sebuah final kompetisi Voly. Hadiahnya 1 juta rupiah. Tidak ada yang hilang. Kita hanya gagal mendapatkan hadiah satu juta rupiah itu. Tapi pikiran kita, mulai mempersepsikan kekalahan ini sebagai penderitaan. Karena kita tidak jadi mendapatkan kenikmatan dari hadiah yang bisa kita menangkan. Hilang sudah bayangan liburan, atau barang yang kita inginkan dan sejuta fantasi kita tentang apa yang bisa kita lakukan dengan satu juta rupiah.

Manusia mendapatkan kesenangan dari pemikiran, dan mendapatkan kesedihan juga dari pemikiran.

Lantas bagaimana cara menemukan atman? Bagaimana cara mencapai “Kesadaran”?

Tentu dengan berlatih. Saya tidak bisa mengajari Anda karena saya juga masih belajar menggunakan ajaran YOGA saya. Saya masih belajar mengendalikan diri, mengingat Tuhan, dan mengingat pesan:

(Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya)

Kita tentu tidak perlu menjadi pertapa, mengasingkan diri, dan meninggalkan semua hal yang berbau duniawi. Setidaknya, ada dua kesadaran yang sedang berusaha saya terapkan:

  1. Kesadaran untuk menerima semua kenyataan kehidupan
  2. Kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah tipuan yang fana dan sementara

Jika saya mengalami penderitaan, saya akan menerima penderitaan itu sebagai kenyataan, tidak akan berimajinasi menggunakan kata “seandainya..”, sambil terus berusaha memperbaiki keadaan. Toh dunia dan seisinya hanyalah permainan ciptaan Tuhan.

Lihatlah manusia yang stress. Jiwa-jiwa yang gelisah dan menderita. Mereka tidak mau menerima kenyataan. Sehingga tidak mendapat pembelajaran. Dan tidak berujung pada perbaikan kehidupan.

Aturannya sederhana: mereka yang menerima, akan merasa bahagia.

Mereka yang menemukan atman akan tersenyum saat mendapat kenikmatan, dan tertawa ketika menerima cobaan. Diri mereka kukuh. Tak terpengaruh. Karena mereka tahu jika keadaan dunia yang serba fana dan sementara takkan mampu mempengaruhi keadaan jiwa didalam dada.

Senang itu sementara. Sedih itu sementara. Hidup itu sementara. Mati itu sementara.

Mereka yang berkawan dengan atman akan tersadar. Dunia ini milik Tuhan. Kebahagiaan milik Tuhan. Penderitaan milik Tuhan. Dan apapun milik Tuhan, pasti bertujuan untuk kebaikan. Ia tidak sombong saat diatas, tidak pasrah saat dibawah, dan tidak menyerah saat ditengah.

Tenang, teduh, sabar, dan utuh.

Pembawaannya tenang. Tatapannya teduh. Hatinya sabar. Jiwanya utuh.

GURU MADE SUMANTRA

Guru Made Sumantra , adalah seorang warga Indonesia, Kelahiran Banjar Payogan, Ubud, Bali  yang telah memberikankan hadiah yang luar biasa bagi umat manusia ketika beliau memperkenalkan YOGA HEALING BALI yaitu Ilmu dan Seni Penyembuhan Yoga Tradisi Nusantra perpaduan tehnik olah tubuh, olah rasa dan olah jiwa dengan titik konsentrasi pada kesadaran Prana.Baerti  “Rakhmat bagi dunia” dan memang demikianlah beliau. Misi Guru Made Sumantra  adalah mengajarkan Penyembuhan dengan jalan Yoga Keberhasilan globalnya merupakan buah dari cita-cita luhur, usaha, stamina dan kemauan keras.

Guru Made Sumantra  adalah seorang Guru Penyembuhan Yoga Tradisi Bali  yang paling terkemuka di dunia. Sumbangan dan kepeloporannya dalam Seni Penyembuhan telah berhasil menyebarluaskan pemanfaatan ilmu Penyembuhan Yoga untuk meningkatkan taraf hidup umat manusia di seluruh dunia. Beliau telah mempelajari prinsip-prinsip eksoterik dan esoterik serta metoda penyembuhan, dan terus menerus melakukan eksperimen, penelitian dan pembuktian akan kemanjurannya. Beliau berhasil menggabungkan seni penyembuhan dan yoga menjadi ilmu pengetahuan praktis dan membuka pintu ilmu yang dahulu dianggap sebagai rahasia mistik. Guru Made Sumantra telah memiliki reputasi sebagai pribadi yang mampu mengubah prinsip-prinsip dan ritual mistik kuno menjadi ilmu pragmatis yang cocok diterapkan pada masa dan zaman ini.

Pelopor Ilmu dan Seni Penyembuhan Yoga Modern

Guru Made Sumantra adalah salah satu dari Master yoga terbesar pada generasi kita. Dalam mengembangkan teknik-teknik penyembuhan yoga modern yang digunakan saat in.

Guru Made Sumantra  tidak hanya mempelopori teknik komprehensif yang dirancang untuk membersihkan dan memberikan energi pada tubuh fisik, sehingga mendorong kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri, bahkan dia mempelopori cara baru yang belum pernah digunakan sebelumnya agar dapat menjelaskan dengan seksama konsep yang ditemukannya. Beliau telah berhasil menunjukkan bahwa energi merupakan faktor penting dalam penyembuhan tubuh fisik, dan dengan menggunakan Psikoterapi Yoga, juga menyembuhkan gangguan kejiwaan.

Guru Made Sumantra memformulasikan sebuah sistem yang mudah dipelajari dan mudah digunakan, demikian sederhananya sehingga bahkan murid barupun dengan cepat dapat menyembuhkan penyakit sederhana, memungkinkan mereka memperoleh hasil positif dengan segera.

Murid-murid Guru Made Sumantra sungguh beruntung dapat belajar berbagai metoda mencapai sukses dalam kehidupan ini, dengan memanfaatkan teknik-teknik yang demikian efektif. Cara yang sangat manjur ini dengan jelas mencerminkan jangkauannya yang luas pada berbagai pemanfaatan energi dan pemahamannya yang mendalam pada kehidupan itu sendiri.

Melalui ajarannya, para murid mampu menciptakan keseimbangan dan mempertahankan keberhasilan dan keharmonisan. Beliau membimbing mereka melalui rentang kemungkinan pemanfaatan Yoga yang demikian luas yang melingkupi hampir semua segi kehidupan.

 

Pendiri Pasraman Markandeya Yoga,Yoga Healing  Bali.
Sejak awal, begitu mempelajari Penyembuahn Yoga Tingkat Dasar, banyak orang langsung “jatuh Cinta” pada Penyembuhan Di Pasraman Markandeya Yoga, YOGA HEALING BALI, bukan hanya oleh tekniknya yang sederhana, mudah dipelajari dan bermanfaat saja, tetapi terlebih oleh ajaran pembentukan watak yang jarang dijumpai di tempat lain, banyak orang yang ditransformasikan ke arah yang lebih baik setelah mempelajarinya. Suatu peningkatan yang akan di rasakan setelah belajar di Yoga Healing Bali

  • Peningkatan kemampuan penyembuhan;
  • Memiliki kemampuan mental yang lebih tajam dan terorganisir;
  • Meningkatnya kedamaian batin, cintakasih-kebaikan dan belarasa;
  • Menjadi lebih toleran;
  • Meningkatnya hasrat untuk melakukan pelayanan spiritual;
  • Auranya menjadi lebih cerah dan seimbang dengan cakra-cakra yang lebih besar;
  • Meningkatnya kontak jiwa dan kebersatuan Ketuhanan;
  • Rangsangan yang aman pada kemampuan waskita;
  • Jasmani yang lebih sehat;
  • Kehidupan yang sukses dengan lebih sedikit stress
  • Serta kepribadian yang lebih baik.
  •    Peningkatan intuisi;

 

 

 

Guru Yoga
Sering kali orang bertanya-tanya, bagaimana seorang cerdas, pengusaha mandiri bisa menjadi seorang Guru yang tercerahi. Ini semua merupakan kelebihan yang menjadikan Guru Made Sumantra seorang Guru Spiritual yang unik di zaman modern ini. Tanpa henti, beliau melakukan perjalanan keliling dunia, mengajar orang dari semua profesi. Ajarannya telah menyebabkan perubahan kesadaran yang berarti pada murid-muridnya. Di akhir sebuah Kelas Yoganya, para muridnya bisa merasakan peningkatan spiritual, kesiagaan mental, keseimbangan emosi dan tingkat energi yang lebih tinggi. Metoda pengajarannya yang pragmatis, memungkinkan para muridnya menyerap pelajaran yang padat yang masih akan relevan sepanjang hidupnya. mereka tidak hanya mengalami peningkatan yang berarti dalam dirinya, namun ketika menjadi seorang pengajar, mereka juga bisa menularkan teknologi maju ini untuk merubah orang lain. Guru Made Sumantra telah mendidik para instruktur di seluruh dunia agar bersama-sama menyebarkan ajaran Yoga ini.

 

Negara yang Telah dikunjungi:

 

  1. Nagoya Jepang, Energy Body Studio, 12 Juli 2007 memberikan pelatihan Guru Yoga. Balinese Yoga Teacher Training.
  2. Perth , Australia , Mallalo Beach  Club. 18 Mei 2008,memberikan Balinese Yoga workshop dan Bali usada healing workshop.
  3. Nagoya Jepang, Energy Body studio, 15 – 25 Juli 2009 memberikan pelatihan Guru Yoga, Balinese Yoga Teacher Training.
  4. Tangerang Carin Studio, 10 – 13 Oktober 2010. memberikan workshop penyembuhan energy, Dasa Vayu.
  5. Singapure, Pure studio  5 – 10 Nopember 2010 , memberikan Balinese Yoga workshop dan Bali usada healing workshop.
  6. Belanda,  23- 30  juni 2010 Tantra Yoga workshop.
  7. Paris, Prancis, 29 Mei – 12 Juni, 2012.

 

Dan kegiatan sehari hari mengajar yoga dan mengajar penyembuhan di PASRAMAN MARKANDEYA YOGA, YOGA HEALING BALI, Yayasan Windhu Siwa Yoga.Dengan alamat Banjar Lungsiakan, Kedewatan, Ubud ,Gianyar,  Dan Jalan Hayam Wuruk no 104 H Denpasar Bali. Banjar /Desa Demulih, Susut, Bangli. Website:www.yogahealingbali.com, Email: balineseyoga@yahoo.com  Tlp: 62(361) 975650, Hp 087861187825.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s