YOGA NUSANTARA

YOGA NUSANTARA

markandeya-yoga

Pendahuluan

Sudah berabad – abad lamanya istilah  yoga dikenal oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut dijelaskan di dalam lontar  “Arjuna Wiwaha” yang berbunyi :

Sasi wimba haneng ghata mesi banu           Ndanasing, suci nirmala mesi         wulan

        Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin         Ring ambeki yoga kiteng         sakala

(Arjuna Wiwaha 11. 1)

Artinya :

Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air di dalam air yang jernih tampaklah bulan sebagai  itulah dikau (Tuhan) dalam tiap makhluk kepada orang yang melakukan Yoga engkau menampakkan diri.

Secara umum Yoga berasal dari bahasa sansekerta “yuj” menghubungkan atau menyatukan. Maksudnya yoga secara horizontal yang berarti menyatukan tubuh dengan pikiran jiwa kita dalam keselarasan yang alami. Maksudnya secara vertical yoga berarti menghubungkan atau menyatukan kesadaran diri kita dengan Tuhan (sifat individu / jiwatman dengan spirit universal / parama atman).

Jadi sebelum kita dapat mencapai yang namanya penghubungan atau penyatuan dengan Tuhan terlebih dahulu kita harus mampu melakukan  suatu latihan moral agar kita mampu menyatukan tubuh dengan pikiran, karena apabila pikiran dan tubuh pikiran sudah menyatu maka akan lebih mudah menuju jenjang selanjutnya karena seperti kita ketahui praktek yoga adalah ibarat sebuah anak tangga (Astangga Yoga). Di dalam kitab Sarasamuccaya dan Manawa Dharmasastra dijelaskan bagaimana kita melakukan disiplin – disiplin etika, yang mempersiapkan para siswa yoga untuk melakukan yoga yang sesungguhnya.

Pembahasan

Ajaran Yoga Dalam Sarasamuccaya

  1. Ajaran Dasa Yama Brata

       Bila dalam ajaran astangga yoga terdapat ajaran panca yama brhata, maka dalam kitab sarassamuscaya terdapatlah ajaran Dasa Yama Brata. Dasa Yama Brata mengajarkan sepuluh macam pengendalian diri dalam tingkat perbuatan.

Dalam kitab Sarescamuscaya  seloka 259 dikatakan sebagai berikut:

Anrcamsyam ksama satiyamahinsa dama arjapem,

        pritih prasado madhuyam mardavam ca yama saca.

Artinya :

        Inilah brata yang disebut yama, perincianya demikian : anrsangsya,         kasama, satya, ahingsa, dhama, arjawa, priti, prasada, maduria,         mardhawa, sepuluh banyaknya : anrsangsya yaitu harimbawa, tidak        mementingkan diri sendiri saja: ksama artinya tahan akan panas dan      dingin: satya yaitu tidak berkata bohong: ahingsa artinya berbuat selamat,   bahagianya sekalian mahluk: dhama, sabar, serta dapat menasehati dirinya    sendiri : arjawa adalah tulus hati, berterus terang, priti yaitu sangat welas   asih ; prasada, klejernihan hati: madurya, manisnya pandangan dan manis     perkataan : mardawa, kelembutan hati.

Untuk lebih jelasnya, sepuluh banyaknya yang disebut dasa yama brata:

  1. Anrsangsya yaitu harimbawa, tidak mementingkan diri sendiri saja
  2. Ksama yaitu tahan akan panas dan dingin, kesabaran
  3. Satya yaitu tidak berdusta
  4. Ahings yaitu tidak menyiksa atau menyakiti makhluk lain
  5. Dama yaitu dapat menasehati diri sendiri
  6. Arjawa yaitu tulus hati , berterus terang
  7. Priti yaitu sangat welas asih
  8. Prasada yaitu jernihnya hati
  9. Madhurya yaitu manisnya pandangan dan manisnya perkataan
  10. Mardawa yaitu lembutnya hati

Dasa yama brata dalam ajaran anrsangsya mengajarkan agar manusia tidak mementingkan dirinya sendiri, berarti harus membentuk kepentingan orang lain atau makhluk lain. Hal ini adalah tepat karena manusia ini adalah makhluk sosial, sepanjang zaman sepanjang hidupnya, manusia saling bergantungan yang satu pasti membutuhkan kelebihan atau kemampuan segi – segi tertentu bagi orang lain, makhluk yang satu bermanfaat bagi ada makhluk yang lain.

Tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Demikianlah kata orang arif bijaksana. Oleh karena itu kewajiban manusia ialah melakukan ajaran dharma untuk kebaikan. Dalam kehidupan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu kita harus bersikap sabar. Orang yang sabar pasti hatinya akan tenang karena ketenangan hati orang akan mengendalikan hawa nafsu. Dengan demikian ketenangan hati (sabar) akan diperoleh sesorang dalam hidupnya inilah disebut manusia berbudi luhur, tidak sesat, tidak sesat dari jalan yang benar.

Dalam kitab sarasamucchaya 95 dikatakan sebagai berikut :

Yah samutpatitam krodham ksamayaiva nirasyati

    Yathoragastvacam jirman sa vai purusa ucyate

Terjemahan :

Jika ada orang yang berhasil meninggalkan kemarahan hatinya        berdasarkan kesabaran hati sebagai keadaan ular yang meninggalkan       kulitnya yang        terlepas, karena kesemuanya itu tidak akan kembali lagi :     orang yang    demikian keadaan nya, itu adalah disebut manusia sejati    berbudi luhur.

Dengan ketenangan hati yang demikian tidak akan ada emosi yang datang dari perasaan nya. Dengan demikian akan mudah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, untuk itu ketenangan hati sangat diperlukan dalam kehidupan.

Satya juga dibutuhkan dalam hidup ini dimana mengandung arti setia akan janji, setia pada ucapan, setia akan kebenaran (dharma). Di samping itu satya juga mengandung arti cinta akan kebenaran (dharma). Jika diperhatikan dalam sehari – hari maka hidup yang cinta akan kebenaran merupakan kewajiban hidup manusia. Karena hidup yang bersandarkan kebenaran itulah yang akan terdapat kebahagiaan yang murni. Seperti yang dijelaskan dalam sloka 129 sebagai berikut :

Na yajna phaladanani niyamastarayani hi,

    yatha satyam param loke,   

    purusam purusarsabha.

Terjemahan :

Keutamaan kebenaran adalah demikian, yajna, dana, punia, maupun brata      janji diri (sumpah bathin), semua itu dapat membebaskan, akan tetapi masih dikalahkan oleh satya (kebenaran) dalam hal sama – sama      membebaskan diri dari kehidupan di dunia ini.

Jadi untuk mendapatkan kebahagiaan abadi maka kebenaran itu hendaknya dijalankan dengan melakukan yajna, punia, mencapai brata janji diri (sumpah batin). Dimana tujuan utama adalah mendapatkan tingkat kehidupan yang abadi.

Oleh karena itu kebenaran itu benar – benar penting untuk memupuk kedisiplinan dalam hidup ini, sehingga kita mengikuti peraturan yang ada. Dan mengusahakan tidak menentang aturan – aturan yang ada seperti yang dikatakan sloka 128 :

Amrtam sarva mrtyucca dvayam dehe pratistatam, mrtyurrapadyate         mohat      satyenapadyate’mrtyam

Terjemahan :

Tak berjauhan racun (bisa) dengan amrtha; disinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya; jika orang itu bodoh dan senang hatinya kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang kepada kebenaran, tidak goyahnya hatinya bersandar kepada   dharma, maka amrtalah diperolehnya.

Sloka di atas dapat disimpulkan bahwa pribadi manusia itu  sendirilah baik buruknya diri sendiri, jika manusia berpegang dharma amrthalah yang diperoleh. Begitu pula sebaliknya. Yang dimana sloka 128 juga menekankan agar manusia dapat menasehati diri sendiri sebelum bertindak. Dengan demikian akan muncul kesadaran dalam dirinya sendiri. Dari kesadaran inilah muncul ajaran ahimsa yang dimana ahimsa adalah tidak menyakiti, menyiksa kehidupan orang atau makhluk lain. Menyiksa dan menyakiti itu menimbulkan penderitaan.

Atas dasar tidak menyakiti atau tidak menyiksa makhluk lain berarti seseorang telah mengembangkan pandangan untuk membahagiakan kehidupan semua makhluk. Semua makhluk sama dengan dirinya (tattwamasi). Memiliki kesamaan jiwatman (atma) dari tuhan. Manusia dengan makhluk lain seperti binatang, tumbuh – tumbuhan memiliki jiwa berasal dari sumber yang sama yaitu tuhan sebagai sumber pencipta jiwatman itu.

Itulah sebabnya tidak ada alasan lagi terutama manusia akan menyiksa atau menyakiti mahluk lain dengan perbuatan, dengan kata – katanya, bahkan berpikiran serta berperasaan buruk pun tidak  pantas terjadi. Sarasamucchaya sloka 136 menjelaskan sebagai berikut :

Jivitam yahsvayam hicchetakatham so’nyan praghatayet, yadyadatmani        hicceta tat parasyapi cintayet.

Terjemahannya :

Bila orang itu sayang akan hidupnya, apa sebabnya ia itu ingin        memusnahkan hidup mahkluk lain: hal itu sekali – kali tidak memakai ukuran diri sendiri, segala sesuatunya yang akan dapat menyenangkan     dirinya, mestinya itulah seharusnya dicita – citakannya terhadap mahkluk lain.

Berpedoman bahwa pandangan demikian berarti manusia telah memiliki pola hidup bersama sesuai ajaran Priti. Priti artinya welas asih, perasaan suka terhadap orang lain dan kepada semua mahkluk. Perasaan welas asih karena kunci kebahagiaan hidup. Misalnya dalam satu keluarga dikatakan bahagia apabila setiap individu dalam satu keluarga tersebut saling kasih mengasihi, saling menumpahkan kasih sayang sehingga semua anggota keluarga mendapatkan kasih sayang itu. Situasi demikian dapat terwujud dikarenakan setiap individu memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan satu kesatuan bulat utuh dalam keluarga, tidak bisa terpecah belah. Satu kesatuan yang utuh dan bulat dalam keluarga dapat dilihat berupa tanggung jawab bersama, ada kejujuran, ada pengorbanan oleh setiap individu, saling percaya, saling terbuka bila salah satu unsur itu hilang maka retaklah kehidupan keluarga itu.

Pola dasar kehidupan bahagia dalam contoh keluarga ini dapat dijadikan pola anutan untuk diterapkan kepada mahkluk lain. Hal ini sangat jelas dalam kehidupan bahwa kasih sayang itu sangat perlu juga diberikan kepada mahkluk lain dengan cara melestarikan, mengembangkan hewan dan tumbuh – tumbuhan. Dengan pelestarian dan pengembangan ini, maka hewan dan tumbuhan dapat merasakan langsung kasih sayang manusia. Contoh nyata, hewan dan tumbuhan ini jika depelihara manusia, akan lebih sehat dan cepat pertumbuhannya. Bagi hewan perkembangbiakannya pun menjadi lebih banyak.

Jadi kasih sayang berupa sentuhan tangan dan pemeliharaan itu penting bagi hewan dan tumbuh – tumbuhan untuk mendapatkan hasil dan pengembangbiakan semaksimal mungkin. Dari hasil tumbuhan dan pengembangbiakan semaksimal mungkin. Dari hasil tumbuhan dan pengembangbiakan hewan itulah manusia dapat menikmati dan mensejahterakan kebutuhan jasmaninya. Oleh karena itu manusia pun dapat merasakan hasil manfaat kasih sayang yang diberikan kepada jenis mahklul lain. Misalnya manusia hidup karena memetik dan memakan hasil tumbuh – tumbuhan, memotong hewan untuk dimakan dagingnya. Dalam memotong hewan, agar mendapatkan kebahagiaan batin terutama bagi yang memotong dan yang memakannya, maka dipergunakanlah mantram pemotongan hewan. Mantram ini bermaksud memohon perlindungan kepada Tuhan agar roh atau jiwanya mendapatkan derajat yang lebih tinggi karena dipotong lehernya dengan hati yang suci. Di samping itu daging dari hewan potongan hewan itu dimohonkan agar bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Jadi disini terdapat dua kedamaian :

1). Hewan yang dipotong lehernya, roh atau jiwanya damai karena telah diberikan kebahagiaan berupa peningkatan derajat.

2). Bagi yang memakan dagingnya juga merasakan kedamaian karena daging yang ia makan telah direstui oleh Tuhan serta tubuhnya pun menjadi sehat karena telah berlindung kepada Tuhan atas dasar hati yang suci.

Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa tumbuh – tumbuhan dan hewan yang dimakan manusia itu telah dihinggapi kasih sayang dari manusia disertai anugerah kedamaian dari Sang Hyang Widhi Wasa. Kasih sayang dan kedamaian itulah dapat mewakili dirinya kepada manusia.

Dengan demikian terjadilah proses saling sayang menyayangi, kasih mengasihi antara sesama mahkluk hidup.

Pada kenyataannya jiwa kasih sayang semua mahkluk ini dilandasi oleh berfikir dan hati yang suci tanpa pamrih dengan tulus ikhlas, dalam ajaran Agama Hindu disebut Prasada.

Dengan pandangan dan pola hidup prasada maka pada jiwa manusia akan terbentuk pribadi yang tidak angkuh (rendah hati), berpikiran halus. Ucapannya keluar berupa kata – kata yang ramah tamah, sopan santun, semua ucapannya dikeluarkan semata – mata untuk menyenangkan mahkluk lain yang mendengarnya. Mereka tidak pernah mengada – ada, melebih – lebihi kemampuan dan keadaan yang ia memiliki. Dengan demikian orang yang rendah hati kenyataannya lebih mengutamakan prestasi kerja, daripada mengumbar kata – kata dengan sia – sia. Di samping itu orang yang tidak angkuh tidak mudah diseret isu dari orang lain, demikian pula tidak mau mengisukan orang lain.

Dasa yama brata adalah ajaran tentang sepuluh macam pengendalian diri yang ada hubungannya dengan perbuatan manusia, terdapat dalam sloka 259 kitab saracamucchaya dasa yama brata ini merupakan pegangan hidup bagi manusia yang hendak mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia. Hal ini dapat dibaca dalam ajaran anrsangsyanya, mengajarkan cara manusia hidup saling bantu membantu, harga menghargai dalam hidup bersama, karena didasari, setiap orang itu memiliki kelemahan, kekurangan, dan kelebihan inilah diharapkan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Di samping itu ajaran kesabaran menjadi bagian dasa yama brata ini, mengajarkan manusia agar memiliki ketenangan hati dalam menghadapi persoalan hidup sehingga terselesaikan dengan baik dan lancar. Demikian pula satya yaitu konsekuen menepati janji, berarti pula cinta kebenaran dalam kehidupan sehari – hari orang satya adalah disiplin, bertanggung jawab dengan janji atau ucapannya. Karena dengan hidup sesuai atau menempati janji atau ucapan itu akan terletak kebahagiaan hidup, sebaliknya tanpa demikian manakala jadinya. Hal ini didukung oleh ajaran dama, mengajarkan orang menasehati dirinya sendiri untuk mencapai kesadaran bahwa menasehati diri sendiri sebelum berbuat adalah sangat penting, sebagai pedoman selanjutnya untuk bertindak lebih sempurna. Dari sini pula perkembangan ahimsa yang menginginkan kesejahteraan hidup bersama sesuai dengan ajaran priti, welas asih kasih sayang kepada semua mahkluk yang harus didasari oleh ajaran prasada, madurya dan madarwa.

  1. Ajaran Dasa Nyama Brata

Di samping dasa yama brata, maka kitab sarasamucchaya menguraikan pula Dasa Nyama Brata, yaitu sepuluh pengendalian diri dalam tingkat mental. Dalam kitab Saracamucchaya sloka 260 dikatakan sebagai berikut :

Danamijya tapo dhyanam svadhyayopasthanigraha, vratopa vasamaunam ca ananam ca niyama daca.

Terjemahan :

Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut nyama, perinciannya :

  1. Dana artinya pemberian makanana, minuman
  2. Ijya artinya pemujaan kepada dewa, para leluhur, dan pujaan sejenis dengan itu
  3. Tapa artinya pengekangan nafsu jasmaniah, seluruh badan kering berbaring, di atas tanah, pantang air dan sebagainya
  4. Dhyana artinya terpekur merenung bhatara siwa
  5. Swadhyaya artinya yakin mempelajari weda
  6. Upasthanigraha artinya pengekangan upastha, pengekangan hawa nafsu kelamin
  7. Brata artinya penngkangan nafsu atas nafsu makan dan minum
  8. Mona artinya wacang yama artinya menahan, tidak mengucapkan kata – kata sama sekali atau tidak bersuara
  9. Snana artinya trisandhya sewana mengikuti trisandhya, mandi membersihkan diri pada waktu pagi, tengah hari dan petang hari.

Demikianlah dasa yama brata dalam uraiannya satu per satu upawasa tidak disebut, tetapi telah dicakup artinya dalam uraian brata, walaupun artinya tidak persis sebenarnya upawasa berarti puasa, yaitu tidak makan dan tidak minum pada hari – hari tertentu.

Dasa nyama brata adalah pegangan bagi manusia yang hendak mencapai kesempurnaan batin melalui pengamatan hidup di dunia ini, berupa pelaksanaan dharma untuk mencapai tingkatan kebahagiaan yang kekal abadi disebut moksa. Pengamalan dasa nyama brata ini di dunia inilah tempatnya selama manusia hidup, sebab dari perilaku manusia kehidupan manusia sehari – hari inilah dapat diketahui tingkatan keluhuran mental manusia itu sendiri. Oleh karena itu orang dapat dinilai memiliki mental baik, bermental sehat dapat diperhatikan dari cara seseorang berperilaku.

Untuk mendapatkan mental yang baik dan sehat sebagai langkah awalnya adalah penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran yang menjadi anjuran dalam dasa nyama brata : pengekangan terhadap nafsu sek, pengekangan terhadap jasmaniah, pengekangan terhadap kata – kata atau suara pengekangan terhadap makan dan minum disertai dengan tekun mempelajari kitab suci weda dan ilmu lainnya yang bersifat umum, tekun bersembahyang atau pemujaan kepada sang hyang widhi wasa, kepada para dewa dewa atau leluhur dibarengi pula dengan pembersihan diri berupa mandi setiap pagi, siang dan petang hari serta amal melakukan dana punia yaitu suka berdharma atau amal sedekah kepada orang lain dan sesama hidup.

Itulah sejenis pengendalian harus dilakukan untuk mendapatkan tingkatan mental yang sempurna, dan kesucian batin sebagai dasar manusia yaitu dapat melaksanakan dharma. Dengan demikian jelaslah manusia bahwa pembenahan diri ke dalam harus dilakukan terlebih dahulu, dengan pengekangan terhadap bagian tubuh, setelah itu baru pembenahan diri keluar terhadap orang lain. Hal ini tampak jelas bahwa dasa nyama brata menunjukkan sifat – sifat mulia dari yang diajarkan mengarah dari luar diri, sedangkan dasa nyama brata menunjukkan arah yang mengarahkan ke objek dalam diri sendiri.

Pembenahan lahir (wahyu) diperoleh dengan ajaran Dasa Nyama Brata. Sedangkan brata (adhyatmika) diperoleh dengan pengekangan, pantangan serta beberapa anjuran yang dijelaskan dalam ajaran Dasa Nyama Brata.

Oleh karena itu kedua kelompok ajaran ini sifatnya berkaitan, artinya kedua – duanya senantiasa dilaksanakan dalam kehidupan di dunia ini untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia, mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Bahkan jika diperhatikan lebih teliti bahwa Dasa Nyama Brata itulah hendaknya diutamakan dalam pelaksanaan hidup daripada dasa yama brata. Hal inilah disebut neraka seperti dijelaskan  saracamucchaya 258 sebagai berikut :

Yaman seveta satatam na nityam niyaman budhah, yaman patatyaseva niyaman kevalan bhajan.

Terjemahan :

Dan yama (pengendalian diri) haruslah diusahakan, senantiasa dilaksanakan : adapun nyama (janji diri) dapat tidak secara tetap dilaksanakan : sebab orang yang yakin melaksanakan nyama, sedangkan yama diabaikan, orang yang demikian an jatuh di neraka loka.

Walaupun demikian bukan berarti mengurangi niat untuk mempelajari dasa nyama brata ini secara mendalam. Justru dengan penjelasan ini anda diharapkan mendapat pengetahuan lahir (yama brata) dan pengetahuan batin (nyama brata) secara seimbang sebagai patokan di dalam berlaksana lebih mantap dan terarah. Beberapa bagian dari dasa nyama brata menguraikan berbagai pengekangan yang berhubungan dengan :

  1. Tapa

Tapa berasal dari kata “tap” artinya mengekang, mengendalikan hawa nafsu agar memperoleh hidup suci. Tapa merupakan salah satu keimanan dalam ajaran agama hindu, sebab dengan tapa itu umat hindu dapat meyakini suatu cita – cita atau tujuan dapat tercapai melalui pelaksanaan tapa itu. Misalnya melalui pengekangan nafsu jasmaniah seseorang dapat mengurangi porsi makan yang dimakan setiap hari. Cara ini bertujuan untuk mengedorkan gejolak emosi seseorang dapat berfikir dengan tenang.

  1. Upasthanigraha

Berarti pengekangan upastha (alat kelamin) dari nafsu birahi untuk mendapatkan kesucian jiwa bagi manusia yang ingin menjalani hidup suci maka pengekangan jiwa atas nafsu birahi hendaknya dilakukan. Semua itu diperbuat manusia sebagai akibat ia telah tahu dan merasakan nikmatnya birahi itu, sehingga untuk memenuhi keinginan seks nya yang lebih nikmat, dilakukan berbagai cara yang akhirnya menjadi pemerkosaan. Dengan demikian jiwa manusia tetap terikat oleh duniawi. Sebab itu cepat – cepatlah kendalikan nafsu birahi itu agar segera memperoleh kehidupan suci. Kitab sarasamucchaya sloka 406 mengatakan sebagai berikut :

Tadvajjaticatairjivah cuddhyate lpena karmana, yatnena mahat capi kyekajatau vicuddhyate

Terjemahan :

Demikian jiwa itu, yang dibersihkan agar menjadi suci, dikendalikan nafsu birahi itu dan segala nodanya, jika kurang giat dan pandai melaksanakannya lemahlah jiwa itu tidak menjadi suci, beratus – ratus kelahiran lamanya, sebelum jiwa itu menjadi suci, jika ia pandai dn sangat giat melenyapkan nodanya, cepatlah suci jiwa itu.

  1. Brata

Adalah pengekangan nafsu makanan dan minuman. Dimaksudkan bahwa seseorang untuk mencapai kesucian jiwa dilakukan dengan membatasi makanan dan minuman dari segi jumlah maupun mutunya. Seperti membatasi makanan yang berlebihan, membatasi makanan yang mengandung bahan kimia, makan pedas, makan yang terlalu manis dan sebagainya.

  1. Upawasa

Adalah berpuasa. Cara ini banyak ragamnya, ada puasa makan minum, puasa tidak tidur, puasa melihat, puasa tidak bicara, tidak bepergian, tidak bekerja dan sebagainya.

Tujuan pokok puasa ini dimaksudkan untuk mendukung keberhasilan meditasi (semadhi) yang merupakan acara akhir dari pelaksanaan Yoga.

  1. Mona

Artinya tidak berkata, tidak berpuasa. Dalam kehidupan sehari – hari mona tidak diartikan tidak berkata – kata sama sekali, melainkan adalah kata – kata itu harus dibatasi dalam batasan – batasan kewajaran. Misalnya dianggap wajar bila berkata baik dan benar, berkata menyenangkan orang lain bila didengar dalam perilaku hidup suci perilaku membatasi kata – kata itu memang penting, sebab dari kata atau suara itulah seseorang akan disenangi atau tidak, dari kata atau suara itulah akan terletak celaka tidaknya seseorang. Terutama dari kata atau suara itulah akan terdapat kebahagiaan, kedamaian rohani. Orang yang ternoda rohaninya, dia sendiri akan merasakan ketidaktentraman dalam batinnya. Lebih – lebih kata – kata itu sengaja diucapkan agar orang lain sakit hati. Sikap demikian itu sama saja membikin batin sendiri ternoda. Selama ucapan itu ternoda maka selama itu pula batin menjadi tidak damai. Minimal ia akan selalu menimang – minang kata yang telah diucapkan. Hal ini tak dapat dihindari, karena semua manusia punya perasaan, pikiran yang selalu membututi dan ikut menimbang – nimbang ucapan yang telah dikeluarkan. Perasaan dan pikiran inilah akan selalu membayangi kehidupan suasana batin tidak tenang.

  1. Dhyana

Artinya tekun merenung dan memusatkan pikiran kepada Tuhan sebagai usaha tercapainya kesatuan antara pikiran dengan Tuhan. Usaha tersebut bertujuan tercapainya kondisi mantap dalam konsentrasi sebagai dasar memperoleh kesucian batin. Kondisi ini akan diperoleh secara bertahap, melalui dari tingkatan pemusatan dengan waktu yang singkat sampai dengan tenggang waktu cukup lama. Akhirnya karena sudah terbiasa, maka makin hari makin mencapai tingkat konsentrasi yang makin lama dan mantap, lalu mencapai tingkat semadhi.

  1. Ijya

Artinya pemujaan kepada para dewa, leluhur dan pemujaan lainnya yang sejenis dengan itu. Disamping pemujaan kepada Tuhan, maka pemujaan kepada para dewa dan leluhur pun hendaknya dilakukan oleh seseorang yang berkecimpung dalam hidup suci. Kita percaya dan yakin bahwa dewa itu manifestasi tuhan, dan melalui bantuan manifestasi Tuhan itulah maka manusia adalah memohon dan menikmati berkahnya. Pemujaan itu pula dilakukan oleh para leluhur untuk memohon doa restunya agar sehat dan sejahtera di dunia.

  1. Snana

Artinya tekun melaksanakan pembersihan dan sembahyang.Jika diperhatikan suasana itu dasar dari dhyana, dimana seseorang sebelum secara tekun melakukan dhyana maka tingkatan dasar dilakukan terlebih dahulu, diawali dengan membersihkan badan antara mandi dan sembahyang sangat erat hubungannya dimana dengan memebersihkan badan terlebih dahulu pelaksanaan sembahyang akan lebih mantap. Dengan kata lain membersihkan badan mendukung suksesnya sembahyang dengan baik.

  1. Swadhyaya

Artinya yakin mempelajari Sastra Yoga. Mempelajari kitab suci kerohanian bagi mereka yang berkecimpung dalam hidup suci adalah kewajiban. Di dalam kitab kerohanian terdapat tuntunan atau petunjuk bagi mereka yang sedang akan menjalani hidup suci misalnya dalam yoga sastra terdapat penuntun untuk menempuh kehidupan suci.

  1. Dana

Artinya suka berderma (bersedekah) berupa makan dan minum dan bentuk pemberian lain yang sejenis dengan itu. Memberikan dana kepada orang lain berarti orang telah dapat meringankan beban penderitaan orang lain.

Ajaran dasa nyama brata terdapat dalam kitab saracamucchaya sloka 260, merupakan pegangan hidup bagi manusia yang hendak mencapai kesempurnaan batin, melalui pengamalan hidup di dunia merupakan pelaksanaan yang benar, untuk mencapai kehidupan yang abadi yang disebut moksa. Dunia ini tempat berbuat, oleh sebab itu perilaku orang sehari – hari dapat dijadikan ukuran sampai dimana kesempurnaan jiwa. Seseorang dalam hidupnya. Dalam pengamalannya kelar maka sebelumnya sesorang hendaknya mengadakan pembenahan kedalam diri sendiri terlebih dahulu, baru mengadakan pembenahan keluar diri. Hal ini wajar karena bagaimana seseorang dapat membenahi orang lain jika dirinya belum dibenahi.

Ajaran Yoga Dalam Manawa Dharmasastra

Ajaran Yoga merupakan ajaran untuk menuntun manusia mencapai kesadaran transenden. Untuk mencapai hal tersebut ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi atau di pelajari. Berkaitan dengan hal tersebut dalam kitab Manawadharma Sastra dijelaskan beberapa sloka yang berkaitan dengan ajaran yoga tersebut.

Abdhir gatrani sudhyanti

Manah satyena sudhyanti

Widhyatapobhyam bhrtatma

Buddhir jnanena sudhyanti

                                (Manawa Dharmasastra V.109)

Artinya :

Badan dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran (satya), atma dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan (jnana).

Terkait dengan sloka diatas di dalam ajaran yoga termasuk di dalam bagian dari Panca Nyama Brata yaitu Sauca yang artinya bersih lahir dan bathin.

Penggunaan air sebagai alat pembersih baik badan, pakaian, dan lingkungan adalah merupakan kebersihan lahiriah. Dengan kebersihan ini maka  benda – benda fisik yang langsung berhubungan dengan diri kita di bersihkan sehingga  baik untuk dipergunakan. Baik badan itu sendiri akan lebih nyaman ketika beraktivitas jika dalam keadaan bersih dan badan yang bersih akan jauh dari penyakit sehingga badan yang merupakan alat bagi atma untuk menuju tujuan terakhirnya dapat menyatu dengan Brahman itu sendiri akan dapat dipergunakan lebih lama.

Ketika kita didorong oleh instink mengarahkan pikiran kepada benda – benda menyenangkan tanpa didasari pengertian kesadaran, atau ketika jiwa pada akhirnya menjadi kasar karena selalu melekat pada motivasi yang mementingkan diri sendiri, apakah ketika itu berfikir menyakiti orang lain atau tidak, maka ketika itupun jiwa kita telah rusak. Keadaan yang menyebabkan terjadinya kerusakan jiwa ini tidak lain dari kekotoran dan kekeruhan pikiran. Sama seperti pakaian dan rumah yang akan menjadi kotor dalam sekejap ketika bertiup angin kencang. Orang harus selalu waspada terhadap badai nafsu yang melanda dan  berusahalah untuk menekan ego yang ada dalam diri. Karena suatu keadaan pikiran akan sangat tercermin melalui perkataan dan perbuatan, jadi dengan selalu berbuat dan berkata yang jujur sudah tentu mencerminkan pikiran yang bersih.

Atma merupakan percikan  terkecil dari Brahman yang sudah memasuki tubuh sehingga menimbulkan adanya penghidupan, dan gerak yang disemangati oleh atma itu sendiri. Ia menjadi pelaku lima klesa atau sumber kesedihan yakni avidya (ketidaktahuan), asmita (kesombongan / keakuan), Raga (keterikatan dan kesukaan), Dvesa  (kemarahan, keserakahan) dan Abhinivesa (ketakutan yang berlebihan terhadap kematian). Selama adanya perubahan dan kegoncangan pada pikiran, selama itu pula atma terpantulkan pada perubahan – perubahan itu. Dan untuk melepaskan atma dari cengkraman lima klesa tersebut di dalam yoga  dapat dilakukan dengan disiplin kriya – yoga dimana kriya – yoga sekaligus membawa pikiran pada keadaan Samadhi. Di dalam Kriya – yoga itu sendiri diantaranya berisikan beberapa aktivitas yaitu : tapas (kesederhanaan), svadhyaya (mempelajari dan memahami sastra Yoga) dan masih ada bagian dari kriya – yoga tidak kami bahas disini.

Akal atau budhi merupakan azas kejiwaan namun bukan meupakan roh yang memiliki kesadaran. Ia yang halus dari segala proses kecakapan mental untuk lebih mempertimbangkan dan memutuskan segala sesuatu yang diajukan oleh indrya yang lebih rendah, namun ia (budhi). Sebagai azas kejiwaan atau psikologis, ia memiliki sifat jnana (pengetahuan), dharma (kebajikan, tidak bernafsu / wairagya) dan aiswarya (ketuhanan). Namun terkadang suara – suara kebajikan yang keluar dari budhi itu sendiri masih belum mampu mengalahkan kuatnya pengaruh daripada indrya – indrya yang ada pada diri kita sehingga timbul perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh budhi itu sendiri. Melalui kebijaksanaan yang dapat kita peroleh dengan jnana atau pengetahuan akan dapat membersihkan akal itu sendiri sehingga sinar sattva mampu merefleksikan kesadaran jiwa (purusha) itu sendiri.

Markandeya Yoga Indonesia

Guru Made Sumantra